Amal dan sikap insan pada hakikatnya merupakan emanasi dan refleksi dari pandangan hidup serta keyakinan yang bersemayam di dalam hati dan menjelajah di alam pikirannya. Manusia yang pandangan hidupnya tidak terperinci dan ngambang, maka cenderung perilakunyapun akan nampak amburadul dan semrawut tidak karuan. Keyakinan yang tidak mantap dan labil akan melahirkan sosok-sosok insan kelas rendah, pesimistis, munafik, materialis, pragmatis dan sekuler.
Dalam problem faith ini, Dr. Yusuf Qardlawi memperlihatkan definisi bahwa “keimanan yaitu kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak atau ragu, serta memberi imbas bagi pandangan hidup, tingkah laris dan perbuatan pemiliknya sehari-hari”.[1]
Pendapat beliau, sebagaimana dalam firman-Nya: Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-hujurat: 15)
Hemat penyusun, keimanan yang benar akan melahirkan tindak-tanduk yang benar pula dan memperlihatkan prinsip hidup yang terperinci dan terarah. Begitupun sebaliknya, keimanan yang kurang mantap serta gampang terpengaruh akan berakibat terhadap tingkah laris yang dinilai tidak baik, berdasarkan agama maupun adat.
Selanjutnya, sebagaimana firman Allah di atas, keimanan yang benar hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang benar. الصادقون berdasarkan al-Qur’an ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala sesuatu yang dibawa olehnya. Keimanan sejati tidak lantas stagnan pada keyakinan dalam hati saja. Akan tetapi, diikuti dengan ketaatan terhadap sesuatu yang telah digariskan oleh Keduanya. Pada ayat di atas, Allah memperlihatkan teladan dengan berjihad di jalan-Nya walaupuan harus mengorbankan jiwa, raga dan harta. Ini semua terjadi alasannya kesempurnaan keimanan yang dimiliki tanpa dihinggapi oleh parasit keraguan.
Keimanan yang sehat akan terlepas dari penyakit keraguan. Orang yang yakin sepenuh hati kepada Tuhannya tanpa dihampiri setitikpun keraguan, Ia tidak akan pernah mengeluh tatkala mendapati kesulitan hidup, alasannya dia meyakini bahwa Tuhannya menyembunyikan sesuatu fasilitas dibalik kesulitan itu. Ia senantiasa mengharap keluasan rahmat Tuhannya.
Keyakinan yaitu keimanan sepenuh hati, maka tiada ruang untuk keraguan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud r.a: الْيَقِينُ الْإِيمَانُ كُلُّهُ (keyakinan yaitu keimanan seluruhnya).[2]
Untuk itu, aqidah –tauhid yang dipahami secara benar, tolong-menolong menjadi kebutuhan rohaniah manusia.[3] Sterilnya aqidah seseorang dari penyakit syirik, munafik, sekuler, pesimistis serta penyakit hati lainnya, akan melahirkan manusia-manusia prima, istiqamah, jujur, bertanggung jawab, penuh percaya diri dan berakhlak luhur.
Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
Optimisme dalam Keimanan; Sebuah Kajian Koherensi
Optimisme Bukan Berarti Mendahului Tuhan; Pembahasan Mengenai Hakikat Optimis.
Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan bersedekah shaleh. "Orang yang berpengaruh lagi cerdas", sabda Nabi, yaitu orang yang sanggup mengendalikan diri dan bekerja untuk akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol yaitu orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh aneka macam harapan dan angan-angan kepada Tuhan.
Kontekstualisasi; Pendalaman Hikmah dan Praktis Optimisme dalam Keimanan
[1] Dikutip dari Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Aqidah Islam, (Yogyakarta: Mitra Pusaka, 1997), hlm. 13.
Sebelum mempelajari lebih jauh koherensi antara keimanan dan optimisme, alangkah lebih baik jikalau kita mengetahui lebih dulu arti dari terma optimisme.
Menurut M. Dachlan Yacub Al Barry, optimisme yaitu "keadaan selalu berpandangan dan berpengharapan baik."[4]
Berpandangan yang baik merupakan awal dari perikehidupan yang cerah dan gemilang. Dalam islam, Allah menyuruh hamba-Nya untuk senantiasa berpandangan baik terhadap-Nya. Sebagaimana dalam hadits qudsi-Nya:
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو يُونُسَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ[5]
Artinya: " Diriwayatkan dari Hasan bin Musa, dari Ibnu Lahi'ah, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah saw, tolong-menolong Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Aku berada pada praduga hamba-Ku atas-Ku. Apabila prasangka itu baik, maka baginya kebaikan itu, dan apabila prasangka itu buruk, maka baginya keburukan itu." (HR. Ahmad bin Hanbal)
Kualitas hadits di atas termasuk hadits yang muttashil marfu' alasannya sehabis dicheck para perawinya termasuk perawi yang tsiqah. Begitupun sehabis di-takhrij dengan CD Mausu'ah al-Kutub al-Tis'ah, ternyata hadits ini tidak hanya terdapat dalam riwayat Ahmad bin Hanbal saja, tetapi terdapat pula di Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Al-Turmudzi, Sunan Ibnu Majah.
Imam Al-Qurthubi, ibarat dikutip pakar hadis -Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari (13/386), menjelaskan dugaan atau sangkaan dimaksud yaitu “dugaan niscaya dikabulkan jikalau berdoa, diterima jikalau bertobat, diampuni jikalau memohon ampunan (istighfar), diberi tanggapan jikalau beribadah sesuai ketentuan”. Imam Nawawi, dalam Syarh Shahih Muslim (17/2) menambahkan, “dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jikalau ia minta dicukupi”
Telah jelas, bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan umat islam supaya berharap penuh kepada Allah dan bersikap optimis. Rasa optimis ini tidak akan tumbuh kecuali didasari oleh keimanan yang benar. Keimanan yang benar akan tertanam pada keyakinan yang kuat. Sedangkan keyakinan yaitu kunci membuka pintu kesuksesan bagi setiap orang, atau sebaliknya, merupakan alat yang mengunci seseorang dari luar, dari kemungkinan untuk sukes.[6]
Oleh alasannya itu, sebagaimana yang telah disampaikan, keimanan tepat akan membuahkan panorama tingkah laris yang sedap dipandang mata. Hal ini memperlihatkan bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara keimanan dan optimisme. Penyusun sependapat denagn Syaikh Abd Qadir al-Jailani yang membahasakan optimisme ini dalam salah satu judul pembahasan dalam buku tasawufnya dengan perumpamaan yang rasional, "takut dan harap yaitu dua sayap iman."[7]
Dalam perumpamaannya, penyusun memahami bahwa optimisme sebagai salah satu sayap kepercayaan akan dipengaruhi dan mempengaruhi kepada kondisi kepercayaan secara totalitas. Ketika sayap optimis itu berkepak dengan baik dengan dibarengi khasyah, maka akan bisa membawa keimanan terbang tinggi ke langit mencapai kesempurnaan. Begitupun tatkala rasa optimis sebagai elemen dari sayap itu patah dan atau tidak bisa berkepak dengan baik, maka keimanan akan jatuh dan terpuruk. Oleh karenanya, keduanya harus dijaga dan dikembangkan untuk kesuksesan hidup fiddarain.
Optimisme Bukan Berarti Mendahului Tuhan; Pembahasan Mengenai Hakikat Optimis.
Saat ini terjadi salah pengertian bahwa optimis yang diterjemahkan sebagai sikap hidup yang penuh dengan percaya diri berarti "sok tahu" terhadap kehendak Tuhan. "Saya niscaya bisa" merupakan salah satu ungkapan dari sikap optimis. Sepintas bisa terjadi pemahaman bahwa dengan perkataan "pasti"nya itu seolah bahwa dia tahu takdir yang akan berlaku atasnya selanjutnya.
Pemahaman ibarat di atas yaitu salah dan keliru. Statement ibarat itu dan atau sejenisnya bukan berarti menerawang terhadap ketentuan Tuhan. Akan tetapi, ungkapan ibarat itu yaitu verbalisasi dari sikap raja'-nya terhadap Tuhan, yaitu pengharapan akan kebaikan yang hendak ditetapkan kepadanya. Sikap ibarat ini yaitu yang diperintahkan oleh syari'at sebagaimana diterangkan di awal. Dalam Al-Qur'an Allah-pun menegaskan kembali:
Artinya: "Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah informasi wacana Yusuf dan saudaranya dan jangan kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf: 87)
Kendatipun ayat di atas merupakan dongeng pada masa Nabi Yusuf, tetapi hakikatnya merupakan pesan Allah untuk segenap umat islam tanpa dibatasi waktu. Karenanya, umat Muhammadpun terpanggil untuk tidak berputus asa. Optimis terhadap rahmat Allah yang begitu luas. Orang yang tidak mempunyai sikap optimis kecuali orang-orang kafir.
Dalam ayat lain, Allah menegaskan pula perintah untuk senantiasa bersikap raja' terhadap rahmat-Nya.
Artinya: "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Orang mukmin berkeharusan untuk mempunyai sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya wacana masa depan dirinya di alam abadi kelak. Dalam terminologi sufistik, anutan wacana sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut juga raja'. Akan tetapi, penyusn lebih berkenan menyebut raja' sebagai esensi atau hakikat dari optimisime. Hal ini kerana, terkadang orang memahami optimisme atau optimistik sebagai sikap percaya diri.
Raja' berdasarkan Abu Al-Qasim Al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. [8] Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardlatillah). Kuatnya harapan ini menciptakan kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melaksanakan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya keinginan (mathlub).
Dalam perspektif Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah Al-Askandary, raja' lebih dipahami sebagai suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja', tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawuf lainnya. Baginya, keinginan masuk sorga tanpa bekerja (beramal shaleh) tergolong dosa besar. "Harapanmu untuk menerima rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kau sendiri tidak tunduk dan patuh yaitu tindakan terbelakang dan konyol.", jelasnya.[9]
Pendapat di atas sebagaimana yang diilustrasikan oleh Nabi Muhammad saw:
حدثن أبو بكر من أبي شيبة وابن نمير قالا حدثنا عبدالله بن إدرس عن ربيعة بن عثمان عن محمد بن يحيى بن حبان عن الأعرج عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف وفى كل خير أحرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيئ فلا تقل لو أني فعلت كان كذا و كذا ولكن قل قدرالله وما يشاء فعل فإن لو تفتح على عمل الشيطان. (رواه مسلم)
Artinya: "Seorang mukmin yang berpengaruh lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kau dan mohonlah proteksi Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu petaka janganlah berkata, "Oh, andaikata saya tadinya melaksanakan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah niscaya dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) kerjaan setan." (HR. Muslim)[10]
Kualitas hadits di atas termasuk hadits yang muttashil marfu' alasannya sehabis dipelajari para Ruwat al-Hadits-nya termasuk shuduq dan atau tsiqah. Kemudian, sehabis di-takhrij ternyata hadits tersebut juga terdapat pada Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal, Baqiy Musnad al-Muktsarin.
Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan bersedekah shaleh. "Orang yang berpengaruh lagi cerdas", sabda Nabi, yaitu orang yang sanggup mengendalikan diri dan bekerja untuk akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol yaitu orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh aneka macam harapan dan angan-angan kepada Tuhan.
Jadi, esensi atau hakikat dari optimisme yaitu raja' yang disertai dengan tindakan yang merupakan realisasi dari harapan, bukan harapan semata-mata tanpa ada usaha. Optimisme yang dikehendaki yaitu optimisme yang dibangun di atas landasan syar'i yang sangat berpengaruh yaitu kepercayaan dan amal shaleh.
Kontekstualisasi; Pendalaman Hikmah dan Praktis Optimisme dalam Keimanan
Optimisme merupakan salah satu bentuk dari berfikir positif. Seorang yang berfikir positif akan diliputi dengan ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagai anugrah yang patut disyukuri, bukan berkeluh-kesah wacana apa-apa yang tidak dipunyainya. Musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai nasihat (kebaikan) di balik itu. Untuk itu, ia akan bersikap terbuka mendapatkan saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal gres yang akan menciptakan segala sesuatu lebih baik. Bahkan cobaan justru semakin membuatnya optimis akan rahmat Tuhan. Perhatikan kehidupan Nabi Ya`qub. Dalam sebuah riwayat, Ya`qub memperoleh keistimewaan alasannya cobaan demi cobaan yang diderita telah membuatnya semakin berbaik sangka (husnu al-zhann) kepada Allah (Tafsir Ibnu Katsir 4/18). Keluh kesahnya hanya ditumpahkan kepada Allah SWT (QS. Yusuf 86), bukan kepada orang lain. Seorang yang berpikir positif bukan penganut NATO, yang diplesetkan menjadi "No Action Talk Only".
Terakhir, nasihat utama dari bersikap optimis yaitu bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pemiliknya kepada Allah SWT. Sikap optimis dan cara pandang positif akan melahirkan bahasa yang positif, baik tutur kata maupun bahasa tubuh. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, optimisme (al-Fa`lu/ al-Tafa'ul) tercermin pada tutur kata yang baik (al-kalimah al-hasanah). Kata-katanya bernadakan optimisme, seperti, “masalah itu niscaya akan terselesaikan”, atau “Dia memang berbakat”. Rasulpun, ibarat dalam hadits lain, bahagia mendengar kata “sukses” (yaa najiih) jikalau akan melaksanakan sesuatu (Aunul Ma`bud, 10/293).[11] Sudah barang tentu, ungkapan tersebut dibarengi dengan senyuman, berjalan dengan langkah tegap dan gerakan tangan yang ekspresif atau anggukan, berbicaranya pun dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'. Wallahu a`lam
Catatan Kaki
[1] Dikutip dari Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Aqidah Islam, (Yogyakarta: Mitra Pusaka, 1997), hlm. 13.
[2] CD Mausu'ah, pembahasan mengenai struktur pembangun islam.
3] Muhammad Thalib, Melacak Kekafiran Berfikir, (Yogyakarta: Uswah, 2007), hlm. 5.
[4] Lihat M. Dachlan Yaqub Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hlm.545.
[5] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (CD Mausu'ah al-kutub al-Tis'ah), kitab باقي مسند المكثرين , hadits no. 8715.
[6] Dwi Sunar Prasetyono, Membangkitkan dan Meneguhkan Prinsip Hidup Anda, (Jogjakarta: Think, 2007), hlm.246.
[7] Syaikh 'Abd Qadir al-Jailani, Raihlah Hakikat Jangan Abaikan Syari'at, terj. U. Tatang Wahyuddin, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2007), hlm. 90.
[8] Baca A. Ilyas Ismail, Pintu-Pintu Kebaikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1997), hlm. 37.
[9] Dikutip dari A. Ilyas Ismail, Pintu-Pintu Kebaikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1997), hlm. 38.
[10] Muslim, Shahih Muslim, (CD Mausu'ah al-Kutub al-Tis'ah), kitab al-Qadr, hadits no.4817.
[11] Dikutip dari Muchlis M. Hanafi, Mari Berpikir Positif, (http://indonesianschool.org/modules/news/article.php?storyid=42), diakses tgl. 17-04-2008.
Buat lebih berguna, kongsi: