Oleh: Qaem Aulassyahied
Secara sederhana, dalam pandangan pendidikan sekuler, seseorang akan tetap dihormati sebagai profesor atau pakar dalam bidang tertentu kalau mempunyai kedalaman dan keluasan pengetahuan serta banyak menghasilkan acara keilmiahan, terlepas orang tersebut mempunyai budpekerti baik atau buruk, watak baik atau buruk, tidak peduli acara keilmiahan itu diarahkan pada pembentukan langsung insan baik atau tidak. Michel foucault tetap dihormati sebagai seorang filosof meski konsep filsafatnya melegalkan suka sesama jenis dan ia sendiri seorang homo. Begitu jugaFriedrich Nietzche, tetap dihormati sebagai bapak aliran filsafat nihilisme, meski ia berbagi kenihilan untuk semua keyakinan kehidupan yang dianggapnya mengekang termasuk anutan agama- Nietzche dalam selesai hidupnya juga mengalami gangguan kejiwaan. Potret buram pribadi, abjad dan tingkah laris pelajar Indonesia sekarang barangkali juga termasuk akibat dari pendidikan Indonesia yang tersekulerkan secara sengaja ataupun tidak.
Berbeda dengan pendidikan sekuler, pendidikan Islam sangat menekankan pada pembentukan kepribadian yang baik, sehingga dari kepribadian tersebut, muncul abjad dan budpekerti yang mulia. Islam percaya bahwa semua insan pada fitrahnya yaitu baik. Dalam sanubarinya sudah diberikan potensi kebaikan dari sifat-sifat yang kuasa yang menjadi bibit jiwanya yang hanif. Tugas pendidikan yaitu mendidik insan untuk senantiasa menyemaikan fitrah tersebut sehingga menjadi langsung yang ber-akhlakul karimah. Ilmu sebagai sarana dalam proses penyemaian akhlak-akhlak tersebut. Ilmu bukanlah sebagai tujuan, melainkan wasilah, sarana atau alat untuk membentuk insan menjadi hamba yang patuh dan mempunyai budpekerti yang baik.Jika ilmu tidak mengakibatkan budpekerti seseorang mulia, maka pendidikan dianggap gagal.
Dalam potongan ayat ke 28 surat Fatir, Allah berfirman: “.. innama yakhsyallah min ‘ibadihi al-ulama..” (sesungguhnya, hanya “ulama” lah yang takut-patuh kepada Allah). Ulama merupakan jamak dari kata alim atau orang yang berilmu. Dalam kitab at-Tafsir al-Muyassar, ‘Aidh al-Qarni menjelaskan bahwa yang dimaksud ulama dalam ayat ini tidak sekedar orang yang mempunyai pengetahuan,melainkan orang yang senantiasa mencari ilmu dari gejala kekuasaan Allah di segala ciptaannya, sehingga lahirlah kekaguman atas kebesaran-Nya dan kesadaran diri sebagai zat kecil dan lemah sehingga mutlak bergantung pada Allah, yang kuasa yang menjamin kemashlahatan seluruh alam (al-Qarni, 2007: 507).
Penerapan konsep pendidikan Islam ini sanggup dibuktikan salah satunya pada kaidah keilmuan hadis (musthalah al-hadis). Dalam kajian hadis, seorang pe-rawi (pembawa gosip dari Rasulullah saw) gres sanggup diterima hadisnya saat telah memenuhi kriteria tsiqah. Kriteria tsiqah mencakup dua aspek. Pertama, memenuhi keluasan pengetahuan atas hadis-hadis dari Rasulullah saw dan kedalaman pemahaman atas hadis-hadis tersebut (dhabit). Kedua memenuhi aspek budpekerti yang baik, langsung yang mulia dan tidak mempunyai cacat sifat atau tingkah laris dalam prikehidupannya. Jika salah satu dari aspek ini tidak terpenuhi maka pe-rawi dianggap lemah dan segala gosip darinya diragukan. Pijakan kelimuan hadis ini, menjadi bukti gamblang bahwa Islam hanya menyebut seseorang itu pintar kalau integritas keilmuannya sama atau setara dengan integritas kepribadiannya. Seseorang yang telah menempuh proses pendidikan yang tinggi namun tidak sesuai dengan kepribadiannya, maka belum layak dianggap orang berilmu, sebaliknya seseorang yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan namun dengan sedikit itu sudah membentuk langsung yang mulia, ia layak disebut orang berilmu. Konsep inilah yang melahirkan para ilmuan Islam yang selain mahir fikir juga mahir zikir, ibarat ibnu Sina, ibnu Rusyd, al-Khawrizm dan ilmuan muslim lainnya yang karyanya masih fenomenal dan bermanfaat luas sampai sekarang.
Pertanyaan fundamental dari semua pernyataan di atas, manakah yang akan kita pilih, ilmuan yang bejat, pejabat yang korup, pemimpin yang rakus atau ilmuan yang mahir ibadah, pejabat yang amanah dan pemimpin yang bertanggung jawab?. Jika menentukan statmen yang kedua maka segeralah beralih pada pendidikan berbasis Islam.
Buat lebih berguna, kongsi: