Tongkronganislami.net - Tantangan beragama di zaman modern ini menampakkan model gres berupa memerosotan spritualitas. Hal demikian terliahat banyak dalam masayarakat Muslim, seiring dengan besarnya gelombang cobaan Muslim berupa perkembangan zaman, tehnologi serta contoh perekonomian yang kian jauh dari pengelolaan perekonomian Islam.
Konsep agama sebagai sebuah kecinintaan dilakoni pula oleh para sufi. Bagi para sufi, cinta tidak sanggup didefinisikan, meskipun jejak-jejaknya sanggup dilukiskan. Cinta ialah soal perasaan, dan tasawuf pun juga ialah soal perasaan. Namun, cinta sejati tidak akan terbangun tanpa pengetahuan yang utuh terhadap apa yang dicintai. Pada poin tersebu, maka seorang muslim yang beriman seharusnya menyadari dan menumbuhkan semangat cinta dalam beragama, sampai menjadi muslim yang nilai sufi keberagamaannya menjadi piranti iman, menerangi hati dan kehidupan.
Dalam al-Qur’an terdapat begitu banyak keterangan wacana cinta atau hubb, menyerupai yang yang mengatakan: , ...Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mengasihi mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah: 54). Adalah keyakinan umat Islam bahwa Allah Maha Mencintai, sebagaimana Dia ialah Maha Pengasih dan Maha Pemaaf, menyerupai ditegaskan dalam ayat-ayat berikut ini,...Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih (QS. Hud: 90) dan, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Buruj: 14).
Kesufian yang menjadi contoh fikir keberagamaan kaum Muslim bukanlah hal yang elit, dilakoni oleh orang tertentu saja, melainkan hal yang sesestinya dilakoni oleh semua umat Muslim. Pesan yang terkandung dalam aliran ini mengandung dua arti atau makna unik secara timbal balik. Pertama, sepenuhnya bermakna vertikal, yakni Allah mengasihi manusia, kemudian insan mengasihi Allah.
Kemodernan dalam wujud modernisasi menjadi kegalauan sekaligus kekaguman insan modern. Bahkan kaum agamawan pun dikala ini banyak yang mulai mengoreksi kembali contoh dan aliran keagamaan yang dipraktikkan oleh umatnya; alasannya tidak jarang sejumlah bencana kemanusiaan terjadi dengan mengatasnamakan agama.
Di sini, kemajuan teknologi seolah tak seirama dengan pemahaman keagamaan insan modern. Dengan demikian, perlunya kembali –atau minimal merenungkan lagi- ke contoh keberagamaan kala Awal pra mupun ketika pewahyuan. Bahkan, hal demikian terlihat dalam sejarah lahirnya agama besar lainnya, yang dibawa oleh seorang dengan laris kehidupan sederhana, memahami dan menghayati hidup. Demikian diresapi dengan cinta, kasih terhadap lainnya.
Di sini, kemajuan teknologi seolah tak seirama dengan pemahaman keagamaan insan modern. Dengan demikian, perlunya kembali –atau minimal merenungkan lagi- ke contoh keberagamaan kala Awal pra mupun ketika pewahyuan. Bahkan, hal demikian terlihat dalam sejarah lahirnya agama besar lainnya, yang dibawa oleh seorang dengan laris kehidupan sederhana, memahami dan menghayati hidup. Demikian diresapi dengan cinta, kasih terhadap lainnya.
Dalam Islam, hal demikian sangat cair terutama dimasa Madinah, Nabi berhijrah dengan melakoni kehidupan kesederhanaan serta para sobat besar mengikutinya. Itulah uswah yang berjalan lansung dan ditiru hampir oleh semua sahabat.
Konsep agama sebagai sebuah kecinintaan dilakoni pula oleh para sufi. Bagi para sufi, cinta tidak sanggup didefinisikan, meskipun jejak-jejaknya sanggup dilukiskan. Cinta ialah soal perasaan, dan tasawuf pun juga ialah soal perasaan. Namun, cinta sejati tidak akan terbangun tanpa pengetahuan yang utuh terhadap apa yang dicintai. Pada poin tersebu, maka seorang muslim yang beriman seharusnya menyadari dan menumbuhkan semangat cinta dalam beragama, sampai menjadi muslim yang nilai sufi keberagamaannya menjadi piranti iman, menerangi hati dan kehidupan.
Dalam al-Qur’an terdapat begitu banyak keterangan wacana cinta atau hubb, menyerupai yang yang mengatakan: , ...Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mengasihi mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah: 54). Adalah keyakinan umat Islam bahwa Allah Maha Mencintai, sebagaimana Dia ialah Maha Pengasih dan Maha Pemaaf, menyerupai ditegaskan dalam ayat-ayat berikut ini,...Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih (QS. Hud: 90) dan, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Buruj: 14).
Kesufian yang menjadi contoh fikir keberagamaan kaum Muslim bukanlah hal yang elit, dilakoni oleh orang tertentu saja, melainkan hal yang sesestinya dilakoni oleh semua umat Muslim. Pesan yang terkandung dalam aliran ini mengandung dua arti atau makna unik secara timbal balik. Pertama, sepenuhnya bermakna vertikal, yakni Allah mengasihi manusia, kemudian insan mengasihi Allah.
Artinya, cinta kepada Allah merupakan persyaratan untuk mendapat akibat cinta dari Allah, dan semua mahir mahabbah memandang bahwa yang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah justru cinta Allah kepada manusia. Ketika insan mulai mencintai-Nya, maka cinta-Nya akan bertambah sampai memampukan mereka untuk meneladani Nabi Saw., menyucikan dan menumbuhkan jiwa, mengingat Allah terus-menerus, dan menjadi insan yang tepat (insan al-kamil).
Kedua, bermakana horizontal sekaligus vertikal. Yaitu kesadaran seorang hamba untuk mengasihi sesama makhluk Tuhan, yang itu dilakukan dalam rangka demi Tuhan pula. Secara maknawi, tipe cinta yang kedua ini sangat ideal yang tentunya sesuai dengan tuntunan syari’at. Hanya saja, pada tipe kedua inilah ditemukan sisi-sisi paradoks konsep cinta yang menekankan adanya kedamaian, halus atau lembut, indah, dan rukun, tetapi juga kadangkala berubah menjadi menjadi bernafsu dan “beringas”. Untuk poin agama dan nuansa cinta sufistik ini, sebagai Muslim perlu menanyakan lagi, jikalau ekpesi agama kita ialah kekerasan, maka sudah nrimo kah kita beragaman dengan mencintai?
Kedua, bermakana horizontal sekaligus vertikal. Yaitu kesadaran seorang hamba untuk mengasihi sesama makhluk Tuhan, yang itu dilakukan dalam rangka demi Tuhan pula. Secara maknawi, tipe cinta yang kedua ini sangat ideal yang tentunya sesuai dengan tuntunan syari’at. Hanya saja, pada tipe kedua inilah ditemukan sisi-sisi paradoks konsep cinta yang menekankan adanya kedamaian, halus atau lembut, indah, dan rukun, tetapi juga kadangkala berubah menjadi menjadi bernafsu dan “beringas”. Untuk poin agama dan nuansa cinta sufistik ini, sebagai Muslim perlu menanyakan lagi, jikalau ekpesi agama kita ialah kekerasan, maka sudah nrimo kah kita beragaman dengan mencintai?
Oleh: Syamsul Wathani
Buat lebih berguna, kongsi:
