Tongkronganislami.net - Islam, berdasarkan Nabi, yaitu keyakinan dan istiqamah. Seorang muslim, haruslah seorang yang beriman sekaligus istiqamah dalam imannya itu. Keimanan menyangkut keyakinan: letaknya ada di dalam hati dan benak kita. Sedangkan istiqamah menyangkut tindakan.
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قُلْ لِي فِي الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Dari Sufyan ibn Abdullah r.a bahwa dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah S.a.w, wahai Rasul, tunjukkanlah kepadaku suatu perkataan di dalam Islam yang saya tidak akan menanyakannya lagi kepada selainmu. Rasulullah pun menjawab: Katakanlah ‘Aku beriman kepada Allah’ dan istiqamahlah (dengan imanmu itu). (HR. Muslim)
Artinya, seorang muslim yang sejati --muslim yang benar-benar muslim-- yaitu apabila dia telah beriman dan sanggup mewujudkan imannya itu dalam bentuk tindakan, dan tindakan itu bersifat kontinyu. Sebetulnya, keyakinan dan istiqamah itu ungkapan lain dari keyakinan dan amal saleh. Hampir seluruh ayat Al-Qur’an, kata “iman” hampir selalu dirangkai dengan kata “amal saleh”: “āmanū wa ‘amilūs shālihāt”. Misalnya terdapat pada surat al-‘Asr (Lihat juga, misalnya: Q, s. al-Tīn /95:6, dsb)
Artinya, seorang muslim yang sejati --muslim yang benar-benar muslim-- yaitu apabila dia telah beriman dan sanggup mewujudkan imannya itu dalam bentuk tindakan, dan tindakan itu bersifat kontinyu. Sebetulnya, keyakinan dan istiqamah itu ungkapan lain dari keyakinan dan amal saleh. Hampir seluruh ayat Al-Qur’an, kata “iman” hampir selalu dirangkai dengan kata “amal saleh”: “āmanū wa ‘amilūs shālihāt”. Misalnya terdapat pada surat al-‘Asr (Lihat juga, misalnya: Q, s. al-Tīn /95:6, dsb)
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِنسَانَ لَفِى خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْاْ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْاْ بِالصَّبْرِ.
Demi masa. Sesungguhnya insan itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati semoga mentaati kebenaran dan hikmah menasihati semoga menetapi kesabaran. (Q, s. al-‘Ashr/103:1-3)
![]() |
Istiqomah / Rumaysho.com |
Ini menegaskan bahwa keyakinan dan amal saleh yaitu dua hal yang tidak sanggup dipisahkan, bagaikan dua sisi mata uang. Apa artinya keyakinan tanpa amal saleh: apa artinya keyakinan jikalau ternyata hatinya tidak tergerak untuk ikut mengentaskan kemiskinan, kelaparan, kebodohan, kemaksiatan, pengangguran dan lain sebagainya. Iman tanpa amal saleh, bagaikan tanaman yang tidak berbuah, dan amal saleh yang tidak didasari keyakinan menyerupai pohon yang menjulang tinggi tapi ringkih lantaran tidak mempunyai akar.
Banyak orang di zaman kini ini yang praktis sekali menyampaikan dia telah beriman, tetapi gres sekedar lips service. Mereka dengan praktis sekali menampakkan dirinya sebagai penggalan dari barisan orang-orang yang beriman melalui atribut-atribut yang secara lahiriah seakan-akan menyerupai beriman beneran, sementara kelakuannya tidak mencerminkan al-akhlāk al-karīmah. Jangan hingga terjadi bahwa seseorang dinyatakan hari ini beriman, kemudian melaksanakan agresi amal, tetapi besoknya mengerjakan maksiat lagi.
Seseorang yang paginya beriman tapi sorenya kembali kafir, (atau) sorenya beriman kemudian paginya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan secuil dunia. (HR. Muslim)
Banyak orang di zaman kini ini yang praktis sekali menyampaikan dia telah beriman, tetapi gres sekedar lips service. Mereka dengan praktis sekali menampakkan dirinya sebagai penggalan dari barisan orang-orang yang beriman melalui atribut-atribut yang secara lahiriah seakan-akan menyerupai beriman beneran, sementara kelakuannya tidak mencerminkan al-akhlāk al-karīmah. Jangan hingga terjadi bahwa seseorang dinyatakan hari ini beriman, kemudian melaksanakan agresi amal, tetapi besoknya mengerjakan maksiat lagi.
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا, وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كاَفِرًا, يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Seseorang yang paginya beriman tapi sorenya kembali kafir, (atau) sorenya beriman kemudian paginya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan secuil dunia. (HR. Muslim)
Artinya, banyak orang yang pagi hari masih sanggup bersyukur, tetapi sore hari dia kembali kufur lantaran tidak tahan dengan ni’mat Allah. Pagi hari khusyu’ beribadah, akan tetapi sorenya kembali mengerjakan maksiat. Itulah cobaan orang-orang yang mengaku beriman: harus istiqamah dengan imannya itu.
Orang yang tidak berpengaruh mendapatkan cobaan dari Allah bukan cuma orang yang terkena petaka saja, tetapi tidak sedikit orang menjadi kufur justru lantaran kebanyakan ni’mat. Susah atau bahagia merupakan cobaan dari Allah: kedua-duanya harus dihadapi dengan syukur dan sabar. Orang yang bertengkar bukan lantaran tidak punya uang, alasannya banyak juga orang yang bergelimang harta tetapi juga bertengkar.
Yang miskin bertengkar lantaran memperebutkan harta, sementara yang kaya bertengkar lantaran mempertahankan harta. Yang miskin kufur lantaran sesuap nasi, sementara yang kaya kufur disebabkan oleh sebongkah berlian. Sabar, dengan demikian, menawarkan kualitas keislaman seseorang. Seorang muslim yang penyabar, maka kualitasnya lebih tinggi dari orang muslim yang tidak sanggup sabar.
Bangsa ini masih banyak membutuhkan pribadi-pribadi muslim yang berkualitas, yaitu pribadi-pribadi muslim yang bertaqwa dan yang istiqamah dalam keimanannya. Muslim yang benar-benar Islam, lahir dan batin, kata dan laku, siang dan malam. Muslim yang selamanya menjadi muslim, bukan muslim yang musim-musiman.
Bangsa ini masih banyak membutuhkan pribadi-pribadi muslim yang berkualitas, yaitu pribadi-pribadi muslim yang bertaqwa dan yang istiqamah dalam keimanannya. Muslim yang benar-benar Islam, lahir dan batin, kata dan laku, siang dan malam. Muslim yang selamanya menjadi muslim, bukan muslim yang musim-musiman.
Buat lebih berguna, kongsi: