“Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan. Bantulah kami Ya Allah untuk menunaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya dan melaksanakan Qiyamullail pada malamnya. Ya Allah, terimalah segala amalan kami ini. Amin”
Ya Allah … dengan ijinMu… sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera menjelang, saya memohon dan berharap Engkau merelakanku untuk berkemas-kemas menyambutnya. Saya memohon Engkau akan memperlihatkan kesempatan untukku mendapat Ramadhan yang jauh lebih baik dan indah dibandingkan tahun-tahun yang telah lalu…
Bulan Ramadhan merupakan salah satu nikmat sangat agung yang diberikan kepada umat Islam untuk mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT. Di bulan Ramadhan seseorang membutuhkan bekal intelektual dan pengetahuan yang cukup untuk bisa menjadi orang yang bershaum sebenarnya biar bukan sekadar menahan lapar dan haus. Jangan hingga memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan belum membaca kepingan fikih shaum. Selain itu, seseorang juga membutuhkan kecerdasan emosional yang memadai untuk tetap sanggup berjiwa seimbang meski dalam kondisi lapar dan lemah.
Karena itu, latihan mengendalikan emosi dan syahwat harus dimulai sebelum memasuki gerbang Ramadhan. Persiapan fisik yang cukup juga perlu dipersiapkan biar jasad tetap dalam kondisi prima ketika menjalani shaum, menyesuaikan contoh makan, contoh tidur, dan istirahat sesuai bulan Ramadhan juga sanggup dipersiapkan sebelumnya. Berolahraga yang cukup dan menentukan jenis masakan yang menunjang kesehatan juga menjadi penting.
![]() |
| Selamat Datang Bulan Ramadhan |
Insya Allah Ramadhan akan segera tiba, oleh karenanya Setidaknya ada 4 hal yang perlu dipersiapkan untuk menyambut Ramadhan, apa saja 5 persiapan tersebut?
1. Mempersiapan Nurani (Ruhiyah)
Persiapan ruhiyah atau mempersiapkan nurani untuk menyambut bulan Ramadhan merupakan persiapan yang sudah seharusnya dipersiapkan. Persiapan ruhiyah sanggup dilakukan dengan cara tazkiyatun nafs/ membersihkan hati dari penyakit-penyakit dalam jiwanya sehingga hati nurani akan higienis dari penyakit-penyakit yang sanggup mengganggu ibadah di bulan Ramadhan nantinya. “Dan beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya ” (Asy-Syams:9)
2. Mempersiapan Ilmu Ramadhan (ilmiyah)
Ibadah di bulan Ramdhan akan lebih maksimal jikalau kita mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan yang sanggup membekali kita untuk menjalani ibadah di bulan ini, terutama ilmu-ilmu wacana amalan di bulan Ramadhan ibarat nasihat puasa Ramadhan, tadarus Al-Quran, shalat Tarawih, i’tikaf di masjid hingga zakat.
Kita sanggup mengetahui ilmu yang sanggup menjadi bekal ramadhan nantinya melalui banyak cara. Bisa dengan mengikuti pengajian/majelis, membaca buku wacana Ramadhan, bertanya kepada ahlinya, bisa juga mencari melalui media internet. Dengan mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Ramadhan kita akan lebih siap melaksanakan amalan-amalan di bulan Ramadhan.
Terkait dengan persiaan ilmu ramadhan, Anda sanggup mengunjungi halaman kami (Kumpulan Artikel Ramadhan). Pada halaman tersebut, kami sebutkan beberapa kekeliruan di bulan ramadhan, beberapa hadis daif bulan ramadhan, pemaknaan lailatul qadar yang keliru. hingga pembatal dan bukan pembatal puasa yang jarang dibedakan saudara kita.
Terkait dengan persiaan ilmu ramadhan, Anda sanggup mengunjungi halaman kami (Kumpulan Artikel Ramadhan). Pada halaman tersebut, kami sebutkan beberapa kekeliruan di bulan ramadhan, beberapa hadis daif bulan ramadhan, pemaknaan lailatul qadar yang keliru. hingga pembatal dan bukan pembatal puasa yang jarang dibedakan saudara kita.
3. Mempersiapkan Fisik (Persiapan Jasadiyah)
Puasa identik dengan ibadah yang memerlukan fisik yang prima. Orang yang fisiknya berpengaruh akan lancar dalam menjalankan puasa. Oleh karen itu, kita perlu mempersiapkan fisik kita untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan lancar walaupun ketika bekerja.
“Mukmin yang berpengaruh lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR.Muslim, Baihaki, Ibnu Majah)
4. Mempersiapkan Harta (Persiapan Maliyah)
Mempersiapkan harta di bulan Ramadhan bukan berarti untuk membeli masakan yang banyak, melainkan untuk amal ibadah ibarat infak/shadaqah, zakat mal maupun zakat fitrah, atau memberi masakan buka puasa untuk orang lain.
Dengan melaksanakan persiapan di atas semoga ibadah kita di bulan Ramahan nantinya akan lebih maksimal dan tentunya mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Pada akhirnya, Selamat menyambut bulan Ramadhan bagi umat muslim di seluruh dunia.
5. Jangan Lupa, Perbarui Taubat!
Nabi SAW telah mengingatkan kita pada sabdanya:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون
“Setiap keturunan Adam itu banyak melaksanakan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa ialah yang bertaubat.”
Taubat di sini mengisyaratkan tata cara seseorang menghadapi bulan ramadhan. Dia menyambut bulan ramadhan tanpa beberapa sekat yang akan mengotri bulan ramadhan. Oleh alasannya ialah itu muslim yang memperhatikan hal ini akan selalu berusah untuk memohon ampunan kepada Allah SWT biar suci dari dosa.
Sebagaiaman yang disebutkan dalam QS An-nur ayat 31:
Sebagaiaman yang disebutkan dalam QS An-nur ayat 31:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٣١
“Bertaubatlah kau sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kau beruntung.” (An Nuur: 31).
Taubat yang diharapkan bukanlah ibarat taubat yang sering kita kerjakan. Kita bertaubat, pengecap kita mengucapkan, “Saya memohon ampun kepada Allah”, akan tetapi hati kita lalai, akan tetapi sesudah ucapan tersebut, dosa itu kembali terulang. Namun, yang diharapkan ialah totalitas dan kejujuran taubat.
Jangan pula taubat tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadhan sementara di luar Ramadhan kemaksiatan kembali digalakkan. Ingat! Ramadhan merupakan momentum ketaatan sekaligus madrasah untuk membiasakan diri bederma shalih sehingga jiwa terdidik untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan di sebelas bulan lainnya.
Sekilas Pemaknaan terhadap Kata Marhaban Ya Ramadhan
Kata "marhaban" di beberapa kamus yang penulis baca diartikan sebagai penghormatan dalam menyambut tamu yang akan tiba (juga diartikan selamta datang). Kata ini bahkan disamakan dengan ahlan wa sahlan yang mempunyai arti serupa. Meski di kedua kata ini mempunyai arti selamat datang. Namun tidak ada seorang ulama pun yang menganjurkan pemakaian kata ahlan wasahlan untuk dalam menantikan kehadiran tamu agung "ramadhan" sehingga kata yang paling umum dipakai yaitu Marhaban ya Ramadhan.
Ahlan mempunyai akar kata "ahl" atau dalam bahasa indonesia di artikan "keluarga" berbeda dengan kata sahlan yang terambil dari "sahl" atau dalam bahasa indonesia diartikan mudah. Di beberapa kawasan kata sahlan juga diartikan sebagai "dataran rendah". Pengartian ini dimaksudkan bahwa dataran rendah simpel dilalui oleh siapapun.
Dari pemaknaan ini, kata ahlan wasahlan di gunakan sebagai ungkapan dalam menyambut atau "selamat datang". yang ditengahnya terdapat sebuah kalimat tersembunyi atau tersirat. Jika di urutkan, maka ahlan wasahlan bisa di artikan (kamu sedang di tengah) keluarga dan (telah melalui) dataran rendah yang mudah."
Ahlan mempunyai akar kata "ahl" atau dalam bahasa indonesia di artikan "keluarga" berbeda dengan kata sahlan yang terambil dari "sahl" atau dalam bahasa indonesia diartikan mudah. Di beberapa kawasan kata sahlan juga diartikan sebagai "dataran rendah". Pengartian ini dimaksudkan bahwa dataran rendah simpel dilalui oleh siapapun.
Dari pemaknaan ini, kata ahlan wasahlan di gunakan sebagai ungkapan dalam menyambut atau "selamat datang". yang ditengahnya terdapat sebuah kalimat tersembunyi atau tersirat. Jika di urutkan, maka ahlan wasahlan bisa di artikan (kamu sedang di tengah) keluarga dan (telah melalui) dataran rendah yang mudah."
Kata Marhaban bersal dari kat rahb, atau dalam bahasa indonesia berarti "luas" dan "lapang", Hal ini memperlihatkan bahwa tamu yang akan kita sambut memilik kemuliaan, dimana kita harus dalam keadaan lapang dan senang. Selain itu, kita harus mempersiapkan segala hal yang akan dikerjakan nantinya. Dari kata ini juga lahir kata rahbat, berarti sebuah ruang yang luas untuk dikendarai. Hal ini dimaksudkan bahwa kita akan mendapat sebuah ruangan luas yang nantinya kita gunakan dalam mendapat segala kebaikan untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya (setelah bulan ramadhan).
Dari urain tersebut, pengucapan marhaban ya ramadhan dimaksudkan sebagai ucapan kepada bulan ramadhan. Atau sebuah penantian dengan penuh kesenangan, mempunyai hati yang senantiasa dalam keadaan lapang, dengan banyak sekali persiapan yang matang. Shingga sanggup di simpulkan bahwa kata "marhaban ya ramadhan" merupakan kendaraan yang akan mengasah diri kita untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda (baca: keistimewaan bulan Ramadhan).
Dari urain tersebut, pengucapan marhaban ya ramadhan dimaksudkan sebagai ucapan kepada bulan ramadhan. Atau sebuah penantian dengan penuh kesenangan, mempunyai hati yang senantiasa dalam keadaan lapang, dengan banyak sekali persiapan yang matang. Shingga sanggup di simpulkan bahwa kata "marhaban ya ramadhan" merupakan kendaraan yang akan mengasah diri kita untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda (baca: keistimewaan bulan Ramadhan).
Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahka;n banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, biar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat bahaya dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan ketika itu, akan tampak dengan terperinci rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.
Baca Juga: Kiat Sukses Menghadapi Bulan Ramadhan
Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, biar kita bisa menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui dedikasi untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.
Janga lupa membaca wawasan puasa berikut:
Janga lupa membaca wawasan puasa berikut:
- Fidyah Bagi yang Meninggalkan Puasa Ramadhan alasannya ialah Uzur
- Tips Membiasakan Anak Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
- Hukum Membayar Fidyah dengan Uang
- Kriteria Muntah yang Membatalkan Puasa
- Meninggal namun Memimiliki Hutang Puasa
- Air tertelan ketika Berwudhu dan Masuk Telinga Saat Puasa
- Jarak Perjalanan Musafir yang Dibolehkan untuk tidak Berpuasa
- Bolehkah Mandi untuk Menyegarkan Badan disiang Hari Bulan Ramadhan
- Hukum Mengeraskan Niat Puasa Ramadhan Setelah Shalat Tarawih
- Mimisan dan Gusi Berdarah Saat Puasa Ramadhan
- Berhubungan Intim Berulangkali di Siang Hari Bulan Ramadhan
- Bolehkah Supir Bus antar Provinsi tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan?
- Hukum Mengunakan Penunda Haid untuk Berpuasa di Bulan Ramadhan
- Wajibkah Qodho Puasa Bagi Wanita Hamil dan Ibu Menyusui?
- Hukum Makan dan Minum Karena Lua ketika Puasa
- Batasan Hukum Mencium Istri ketika Puasa Ramadhan
- Bolehkah Membayar Fidyah Puasa diganti dengan Uang?
- Batalkah Keluar Madzi Saat Puasa Ramadhan?
- Hukum Sengaja Mencicipi Makanan Saat Puasa Ramadhan
- Keluar Mani Karena Mimpi Ketika Puasa Ramadhan
- Hukum Menggunakan Pasta Gigi di Siang Hari Bulan Ramadhan
- Berbohong Ketika Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?
- Hukum Mengunyahkan Makanan untuk Bayi ketika Puasa Ramadhan
- Hukum Puasa Ramadhan Bagi Wanita yang Tidak Berjilbab
- Marah dan Emosi kepada Orang Lain, Apakah Membatalkan Puasa
- Hukum Menggunakan Obat Tetes Mata, Telinga dan Hidung ketika Puasa
- Hukum Onani di Siang Hari Bulan Ramadhan
- Hukum Menelan Ludah dan Dahak Saat Puasa Ramadhan
Buat lebih berguna, kongsi:
