Tongkronganislami.net - Menyangkut topik akidah dan tindakan ini, sebuah hadits Rasul S.a.w kiranya sanggup memperlihatkan citra wacana topik tersebut.
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah S.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia menghormati tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik-baik saja, atau (kalau tidak sanggup berkata baik) lebih baik diam. (HR. Bukhari)
عن أبي هريرة قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: من كان يُؤمن بالله واليوم الآخرِ فلا يُؤذِ جارَه، ومن كان يُؤمن بالله واليوم الآخِرِ فلْيُكرِم ضَيفَه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخرِ فلْيَقُلْ خيراً أو ليَصمُت
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah S.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia menghormati tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik-baik saja, atau (kalau tidak sanggup berkata baik) lebih baik diam. (HR. Bukhari)
Hadits Nabi S.a.w di atas memperlihatkan kepada kita bahwa barangsiapa yang mengaku telah beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka keimanannya itu harus dibuktikan dalam bentuk tindakan nyata.
Dalam Al-Qur’an, hampir setiap kata “āmanū” (beriman), selalu dirangkai dengan kata “amilū as-shālihāt” (beramal saleh). Jadi, akidah saja tidak cukup, sebab akidah yang benar yakni akidah yang diikuti dengan amal saleh. Ini tidak sanggup dipisahkan! Dan kita jangan terkecoh apabila melihat orang-orang yang menggunakan atribut –atribut keimanan lengkap, lihat dahulu apakah prilaku dan akhlaknya mencerminkan prilaku Islam atau tidak. Kalau tidak, maka mereka itu pura-pura, imannya pamrih.
Tahukah kau (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Q, s. al-Mā’ūn/107:1-3)
Surat al-Mā’ūn menjelaskan kepada kita bahwa para pendusta agama itu yakni orang yang tidak peka sosial, yaitu orang yang mata dan hatinya telah buta melihat kenyataan yang ada di hadapannya. Maka dari itu, akidah yang benar selalu menuntut tindakan kongret. Iman yang benar yakni akidah yang berwujud pada al-akhlāk al-karīmah, baik budpekerti kepada Allah maupun budpekerti kepada sesama manusia.
![]() |
Pengertian Iman / P |
Bukti-bukti keimanan seseorang yang disebutkan dalam hadits tadi, diantaranya adalah: 1) tidak menyakiti tetangga, 2) menghormati tamu, 3) berkata yang baik-baik atau jikalau tidak sanggup membisu saja, sebab membisu itu lebih baik daripada harus berkata yang buruk.
Artinya, legalisasi akidah seseorang tidak akan diterima oleh Allah sebelum yang bersangkutan mewujudkan imannya itu dalam bentuk tindakan kongret. Jika terdapat orang yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi masih menyakiti tetangga, tidak menghormati tamu dan perkataannya tidak baik, berarti imannya tidak sungguh-sungguh. Sangat mungkin orang menyerupai ini beriman sebab motif-motif tertentu, bukan sebab lillahi ta’āla.
Baca Juga: Anjuran istiqomah Setelah Beriman
Baca Juga: Anjuran istiqomah Setelah Beriman
Dalam Al-Qur’an, hampir setiap kata “āmanū” (beriman), selalu dirangkai dengan kata “amilū as-shālihāt” (beramal saleh). Jadi, akidah saja tidak cukup, sebab akidah yang benar yakni akidah yang diikuti dengan amal saleh. Ini tidak sanggup dipisahkan! Dan kita jangan terkecoh apabila melihat orang-orang yang menggunakan atribut –atribut keimanan lengkap, lihat dahulu apakah prilaku dan akhlaknya mencerminkan prilaku Islam atau tidak. Kalau tidak, maka mereka itu pura-pura, imannya pamrih.
Ulama sekalipun, tetapi apabila akhlaknya tidak mencerminkan apa yang dituntunkan oleh Islam, maka harus diragukan keulamaannya. Apalagi jikalau ada ulama yang perkataannya jelek (baca: perkataan baik), ulama berbohong, ulama ghibah, maka terperinci yang menyerupai itu yakni ulama palsu.
Maka, akidah itu harus berwujud pada akhlak, pada prilaku, pada tindakan nyata. Mengaku beriman tapi tidak peduli lingkungan, tidak peka sosial, maka imannya masih diragukan. Dan orang yang menyerupai ini disebut dengan orang munafik, yaitu orang yang antara perkataan dan perbuatannya tidak sama, antara hati dan tindakannya berbeda. Dalam surat al-Mā’ūn bahkan lebih keras lagi: mereka dijuluki sebagai orang-orang yang mendustakan agama.
Maka, akidah itu harus berwujud pada akhlak, pada prilaku, pada tindakan nyata. Mengaku beriman tapi tidak peduli lingkungan, tidak peka sosial, maka imannya masih diragukan. Dan orang yang menyerupai ini disebut dengan orang munafik, yaitu orang yang antara perkataan dan perbuatannya tidak sama, antara hati dan tindakannya berbeda. Dalam surat al-Mā’ūn bahkan lebih keras lagi: mereka dijuluki sebagai orang-orang yang mendustakan agama.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلاَ يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Tahukah kau (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Q, s. al-Mā’ūn/107:1-3)
Surat al-Mā’ūn menjelaskan kepada kita bahwa para pendusta agama itu yakni orang yang tidak peka sosial, yaitu orang yang mata dan hatinya telah buta melihat kenyataan yang ada di hadapannya. Maka dari itu, akidah yang benar selalu menuntut tindakan kongret. Iman yang benar yakni akidah yang berwujud pada al-akhlāk al-karīmah, baik budpekerti kepada Allah maupun budpekerti kepada sesama manusia.
Buat lebih berguna, kongsi: