Artikel Islami Hijrah Rasulullah Saw Ke Madinah


Artikel Islami Hijrah Rasulullah Ke Madinah
Mallingkai Ilyas

Perintah Hijrah 

Rencana Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari, lantaran dikuatirkan ia akan hijrah ke Madinah dan memperkuat diri di sana serta segala peristiwa yang mungkin menimpa Mekah dan menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya, beritanya sudah hingga kepada Muhammad. Memang tak ada orang yang menyangsikan, bahwa Muhammad akan memakai kesempatan itu untuk hijrah. Akan tetapi, lantaran begitu berpengaruh ia sanggup menyimpan diam-diam itu, sehingga tiada seorangpun yang mengetahui, juga Abu Bakr, orang yang pernah menyiapkan dua ekor unta kendaraan tatkala ia meminta ijin kepada Nabi akan hijrah, yang kemudian ditangguhkan, hanya sedikit mengetahui soalnya. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Mekah ketika ia sudah mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Dalam ia menantikan perintah Tuhan yang akan mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengijinkan ia hijrah. Dimintanya Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu, yang kemudian diterima baik oleh Abu Bakr.

Artikel Islami Hijrah Rasulullah Ke Madinah Artikel Islami Hijrah Rasulullah SAW Ke Madinah

Di sinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal insan dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b. Uraiqiz hingga nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap akan meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa Quraisy niscaya akan membuntuti mereka. Oleh lantaran itu Muhammad menetapkan akan menempuh jalan lain dari yang biasa, Juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa. 

Di Gua Thur 

Menjelang larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr. Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa tujuan kedua orang itu melalui jalan sebelah kanan yakni di luar dugaan. 

Tiada seorang yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah b. Abu Bakr, dan kedua orang puterinya Aisyah dan Asma, serta pembantu mereka 'Amir b. Fuhaira. Tugas Abdullah hari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Muhammad, yang pada malam harinya kemudian disampaikannya kepada Nabi dan kepada ayahnya. Sedang 'Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr' sorenya diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr keluar kembali dari tempat mereka, tiba 'Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya. 

Kedua orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa mengenal lelah. Betapa tidak. Mereka melihat ancaman sangat mengancam mereka kalau mereka tidak berhasil menyusul Muhammad dan mencegahnya berafiliasi dengan pihak Yasrib. Selama kedua orang itu berada dalam gua, tiada hentinya Muhammad menyebut nama Allah. KepadaNya ia menyerahkan nasibnya itu dan memang kepadaNya pula segala problem akan kembali. Dalam pada itu Abu Bakr memasang telinga. Ia ingin mengetahui adakah orang-orang yang sedang mengikuti jejak mereka itu sudah berhasil juga. 

Kemudian pemuda-pemuda Quraisy - yang dari setiap kelompok di ambil seorang itu - datang. Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mundar-mandir mencari ke segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang kemudian ditanya. 

"Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana." 

Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu Bakr keringatan. Kuatir ia, mereka akan menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Tuhan. Lalu orang-orang Quraisy tiba menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi. 

"Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?" tanya kawan-kawannya. 

"Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada semenjak sebelum Muhammad lahir," jawabnya. "Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Kaprikornus saya mengetahui tak ada orang di sana." 

Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya: 

"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita." 

Dalam buku-buku hadis ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa setelah terasa oleh Abu Bakr bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik: 

"Kalau mereka ada yang menengok ke bawah niscaya akan melihat kita." 

"Abu Bakr, kalau kau mengira bahwa kita hanya berdua, ketiganya yakni Tuhan," kata Muhammad. 

Orang-orang Quraisy makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada insan tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di lisan gua. Tak ada jalan orang akan sanggup masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka kemudian surut kembali. Kedua orang bersembunyi itu mendengar seruan mereka supaya kembali ke tempat semula. Kepercayaan dan keyakinan Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul. 

"Alhamdulillah, Allahuakbar!" kata Muhammad kemudian. 

Sarang laba-laba, dua ekor burung dara dan pohon. Inilah mujizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai kasus persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan pokok mujizatnya ialah lantaran segalanya itu tadinya tidak ada. Tetapi sehabis Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah laba-laba menganyam sarangnya guna menutup orang yang dalam gua itu dari penglihatan. Dua ekor burung dara tiba pula kemudian bertelur di jalan masuk. Sebatang pohonpun tumbuh di tempat yang tadinya belum ditumbuhi. Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem mengatakan: 

"Tiga insiden itu sajalah mujizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi." 

Akan tetapi mujizat begini ini tidak disebutkan dalam Sirat Ibn Hisyam ketika menyinggung dongeng gua itu. Paling banyak oleh andal sejarah ini disebutkan sebagai berikut: 

"Mereka berdua menuju ke sebuah gua di Gunung Thaur sebuah gunung di bawah Mekah - kemudian masuk ke dalamnya. Abu Bakr meminta anaknya Abdullah supaya mendengar-dengarkan apa yang dikatakan orang perihal mereka itu siang hari, kemudian sorenya supaya kembali membawakan gosip yang terjadi hari itu. Sedang 'Amir b. Fuhaira supaya menggembalakan kambingnya siang hari dan diistirahatkan kembali bila sorenya ia kembali ke dalam gua. Ketika itu, bila hari sudah sore Asma, tiba membawakan kuliner yang cocok buat mereka ... Rasulullah s.a.w. tinggal dalam gua selama tiga hari tiga malam. Ketika ia menghilang Quraisy menyediakan seratus ekor unta bagi barangsiapa yang sanggup mengembalikannya kepada mereka. Sedang Abdullah b. Abi Bakr siangnya berada di tengah-tengah Quraisy mendengarkan permufakatan mereka dan apa yang mereka percakapkan perihal Rasulullah s.aw. dan Abu Bakr, sorenya ia kembali dan memberikan gosip itu kepada mereka. 

'Amir b. Fuhaira - pembantu Abu Bakr - waktu itu menggembalakan ternaknya di tengah-tengah para gembala Mekah, sorenya kambing Abu Bakr itu diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Kalau paginya Abdullah b. Abi Bakr bertolak dari tempat itu ke Mekah, 'Amir b. Fuhaira mengikuti jejaknya dengan membawa kambing supaya jejak itu terhapus. Sesudah berlalu tiga hari dan orangpun mulai tenang, kondusif mereka, orang yang disewa tiba membawa unta kedua orang itu serta untanya sendiri... dan seterusnya." 

Demikian Ibn Hisyam membuktikan mengenai dongeng gua itu yang kami nukilkan hingga pada waktu Muhammad dan sahabatnya keluar dari sana. 

Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu serta perihal dongeng gua ini tiba firman Tuhan demikian: 

"Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot menciptakan planning terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka menciptakan planning dan Allah menciptakan planning pula. Allah yakni Perencana terbaik." (Qur'an, 8: 30) 

"Kalau kau tak sanggup menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala ia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: 'Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!' Maka Tuhan kemudian memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kau lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 40) 

Berangkat Ke Yasrib 

Pada hari ketiga, bila mereka berdua sudah mengetahui, bahwa orang sudah hening kembali mengenai diri mereka, orang yang disewa tadi tiba membawakan unta kedua orang itu serta untanya sendiri. Juga Asma, puteri Abu Bakr tiba membawakan makanan. Oleh lantaran ketika mereka akan berangkat tak ada sesuatu yang sanggup digunakan menggantungkan kuliner dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya kemudian sebelahnya digunakan menggantungkan kuliner dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itu ia kemudian diberi nama "dhat'n-nitaqain" (yang bersabuk dua). 

Mereka berangkat. Setiap orang mengendarai untanya sendiri-sendiri dengan membawa bekal makanan. Abu Bakr membawa limaribu dirham dan itu yakni seluruh hartanya yang ada. Mereka bersembunyi dalam gua itu begitu ketat. Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti, maka dalam perjalanan ke Yasrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah b. 'Uraiqit - dari Banu Du'il - sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di akrab pantai Laut Merah. Oleh lantaran mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, di bawanya mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang. 

Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan, tidak lagi mereka mengenal lelah. Ya, kesulitan mana yang lebih mereka takuti daripada tindakan Quraisy yang akan merintangi mereka mencapai tujuan yang hendak mereka capai demi jalan Allah dan kebenaran itu! Memang, Muhammad sendiri tidak pernah mengalami kesangsian, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi "jangan kau mencampakkan diri ke dalam bencana." Allah menolong hambaNya selama hamba menolong dirinya dan menolong sesamanya. Mereka telah melangkah dengan selamat selama dalam gua. 

Muslimin Madinah Menantikan Kedatangan Rasul 

Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita perihal hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yasrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh lantaran itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar perihal keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu menciptakan mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya. Orangpun sudah akan sanggup mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yasrib yang sebelum itu belum pernah melihat Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya lantaran mendengar dari sahabat-sahabatnya saja, kaum Muslimin yang gigih melaksanakan dakwah Islam dan sangat menyayangi Rasulullah itu. 

Islam di Yasrib 

Tersebarnya Islam di Yasrib dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa cowok Muslimin dengan tidak ragu-ragu mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang berjulukan 'Amr bin'l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu yang dinamainya Manat, diletakkan di kawasan lingkungannya menyerupai biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. 'Amr ini yakni seorang pemimpin Banu Salima dan dari kalangan aristokrat mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu kemudian di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Yasrib biasa digunakan tempat buang air. 

Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada 'Amr mencarinya hingga diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan kemudian diletakkannya kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat 'Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: "Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau." 

Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan gres diketemukannya kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi. 

Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sehabis melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa insan ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk Islam. 

Melihat Islam yang sudah mencapai martabat begitu tinggi di Yasrib, akan gampang sekali orang menilai, betapa memuncaknya kerinduan penduduk kota itu ingin menyambut kedatangan Muhammad, setelah mereka mengetahui ia sudah hijrah dari Mekah. Setiap hari selesai sembahyang Subuh mereka pergi ke luar kota menanti-nantikan kedatangannya hingga pada waktu matahari terbenam dalam hari-hari ekspresi dominan panas bulan Juli. 

Dalam pada itu ia sudah di Quba' - dua farsakh jauhnya dari Madinah. Empat hari ia tinggal di tempat itu, ditemani oleh Abu Bakr. Selama masa empat hari itu mesjid Quba' dibangunnya. Sementara itu tiba pula Ali b. Abi-Talib ke tempat itu setelah mengembalikan barang-barang amanat - yang dititipkan kepada Muhammad - kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Setelah itu ia sendiri meninggalkan Mekah, menempuh perjalanannya ke Yasrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan itu ditanggungnya selama dua ahad penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama. 

Nabi Muhammad SAW Memasuki Madinah 

Sementara kaum Muslimin Yasrib pada suatu hari sedang menanti-nantikan menyerupai biasa tiba-tiba tiba seorang Yahudi yang sudah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka. 

"Hai, Banu Qaila1 ini ia mitra kau datang!" 

Hari itu yakni hari Jum'at dan Muhammad berjum'at di Madinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman keyakinan akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang. 
Orang-orang terkemuka di Madinah memperlihatkan diri supaya ia tinggal pada mereka dengan segala persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi ia meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta betinanya, dipasangnya tali keluannya, kemudian ia berangkat melalui jalan-jalan di Yasrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yasrib, baik Yahudi maupun orang-orang pagan menyaksikan adanya hidup gres yang bersemarak dalam kota mereka itu, menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, saling berperang. Tidak terlintas dalam pikiran mereka - pada ketika ini, ketika transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya yang gres itu - akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota mereka, dan yang akan tetap hidup selama sejarah ini berkembang. 

Dibiarkannya unta itu berjalan. Sesampainya ke sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu'n-Najjar, unta itu berlutut (berhenti). Ketika itulah Rasul turun dari untanya dan bertanya: 

"Kepunyaan siapa tempat ini?" tanyanya. 

"Kepunyaan Sahl dan Suhail b. 'Amr," jawab Ma'adh b. 'Afra'. Dia yakni wali kedua anak yatim itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka puas. Dimintanya kepada Muhammad supaya di tempat itu didirikan mesjid. 

Muhammad mengabulkan permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya. 

Tahun Pertama Rasulullah SAW di Madinah

Yasrib Menyambut Muhajir Besar 

Berbondong-bondong penduduk Yasrib ke luar rumah hendak menyambut kedatangan Muhammad, laki-laki dan wanita. Mereka berangkat setelah tersiar gosip perihal hijrahnya, perihal Quraisy yang hendak membunuhnya, perihal ketabahannya menempuh panas yang begitu memperabukan dalam perjalanan yang sangat meletihkan, mengarungi bukit pasir dan kerikil karang di tengah-tengah dataran Tihama, yang justru memantulkan sinar matahari yang panas dan memperabukan itu. Mereka keluar lantaran terdorong ingin mengetahui sekitar gosip perihal ajakannya yang sudah tersiar di seluruh jazirah. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan usang yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci. 

Akan tetapi mereka keluar itu bukan disebabkan oleh dua alasan ini saja, melainkan lebih jauh lagi, yakni lantaran orang yang hijrah dari Mekah ini akan menetap di Yasrib. Setiap golongan, setiap kabilah dari penduduk Yasrib, dari segi politik dan sosial dalam hal ini memberikan imbas yang bermacam-macam. Inilah yang lebih banyak mendorong mereka menyongsong keluar, daripada sekedar ingin melihat orang ini. Juga mereka ingin mengetahui, benarkah hal itu akan memperkuat dugaan mereka, ataukah mereka harus menarik diri. 

Oleh lantaran itu, sambutan orang-orang musyrik dan Yahudi atas kedatangan Nabi tidak kurang daripada sambutan kaum Muslimin, baik dari Muhajirin maupun dari kalangan Anshar. Mereka semua mengerumuninya. Sesuai dengan perasaan yang berkecamuk dalam hati masing-masing terhadap pendatang orang besar itu, denyutan jantung merekapun tidak sama pula satu sama lain. Mereka sama-sama mengikutinya tatkala ia melepaskan kekang untanya dan membiarkannya berjalan sekehendaknya sendiri, dengan agak kurang teratur lantaran masing-masing ingin memandang wajahnya. Semua ingin mengelilinginya dengan pandangan mata perihal orang yang gambarnya sudah terlukis dalam jiwa masing-masing, perihal orang yang telah menciptakan Ikrar Aqaba kedua, bersama-sama penduduk kota ini - guna melaksanakan perang mati-matian terhadap Quraisy; orang yang telah hijrah meninggalkan tanah airnya, berpisah dengan keluarganya dengan memikul segala tekanan permusuhan dan tindakan kekerasan dari mereka selama tigabelas tahun terus-menerus. Ini semua demi keyakinan tauhid kepada Allah, tauhid yang dasarnya yakni merenungkan alam semesta ini serta mengungkapkan hakekat yang ada dengan jalan itu. 

Pembinaan Mesjid dan Tempat-tempat Tinggal Nabi SAW

Unta yang dinaiki Nabi a.s. berlutut di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna digunakan tempat membangun mesjid. Sementara tempat itu dibangun ia tinggal pada keluarga Abu Ayyub Khalid b. Zaid al-Anshari. Dalam membangun mesjid itu Muhammad juga turut bekerja dengan tangannya sendiri. Kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar ikut pula bersama-sama membangun. Selesai mesjid itu dibangun, di sekitarnya dibangun pula tempat-tempat tinggal Rasul. Baik pembangunan mesjid maupun tempat-tempat tinggal itu tidak hingga memaksa seseorang, lantaran segalanya serba sederhana, diadaptasi dengan petunjuk-petunjuk Muhammad. 

Mesjid itu merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, keempat temboknya dibuat daripada kerikil bata dan tanah. Atapnya sebagian terdiri dari daun kurma dan yang sebagian lagi dibiarkan terbuka, dengan salah satu potongan lagi digunakan tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak punya tempat-tinggal. Tidak ada penerangan dalam mesjid itu pada malam hari. Hanya pada waktu salat Isya diadakan penerangan dengan memperabukan jerami. Yang demikian ini berjalan selama sembilan tahun. Sesudah itu kemudian gres mempergunakan lampu-lampu yang dipasang pada batang-batang kurma yang dijadikan penopang atap itu. Sebenarnya tempat-tempat tinggal Nabi sendiri tidak lebih glamor keadaannya daripada mesjid, meskipun memang sudah sepatutnya lebih tertutup. 

Orang-orang Yahudi Madinah 

Kalau inilah tujuan Muhammad dalam pertimbangannya mengenai kasus Yasrib serta harus menjamin adanya kebebasan, maka penduduk kota ini pun menyambutnya dalam pikiran yang serupa, meskipun setiap golongan pertimbangannya saling bertentangan satu sama lain. Penduduk Yasrib pada waktu itu terdiri dari kaum Muslimin - Muhajirin dan Anshar - orang-orang musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj - sedang hubungan kedua golongan ini sudah sama-sama kita ketahui; kemudian orang-orang Yahudi: Banu Qainuqa di sebelah dalam, Banu Quraiza di Fadak, Banu'n-Nadzir tidak jauh dari sana dan Yahudi Khaibar di Utara. 

Ada pun kaum Muhajirin dan Anshar, lantaran solidaritas agama gres itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Sungguhpun begitu, kekuatiran dalam hati Muhammad belum hilang samasekali, kalau-kalau suatu waktu kebencian usang di kalangan mereka akan kembali timbul. Sekarang terpikir olehnya bahwa setiap keraguan semacam itu harus dihilangkan. Usaha ini akan tampak juga pengaruhnya 

Sebaliknya golongan musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj, tanggapan peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah-tengah kaum Muslimin dan Yahudi itu. Mereka mencari jalan supaya antara keduanya itu timbul insiden. Selanjutnya golongan Yahudi dengan tiada ragu-ragu merekapun menyambut baik kedatangan Muhammad dengan dugaan bahwa mereka akan sanggup membujuknya dan sekaligus merangkulnya ke pihak mereka, serta sanggup pula diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah Arab. Dengan demikian mereka akan sanggup pula membendung Kristen, yang telah mengusir Yahudi, -bangsa pilihan Tuhan - dari Palestina, Tanah yang Dijanjikan dan tanah air mereka itu. 

Muhammad SAW Mempersaudarakan Kaum Muhajirin Dengan Anshar 

Sekarang ia bermusyawarah dengan kedua wazirnya itu Abu Bakr dan Umar - demikianlah mereka dinamakan. Dengan sendirinya yang menjadi pokok pikirannya yang mula-mula ialah menyusun barisan kaum Muslimin serta mempererat persatuan mereka, guna menghilangkan segala bayangan yang akan membangkitkan api permusuhan usang di kalangan mereka itu. Untuk mencapai maksud ini diajaknya kaum Muslimin supaya masing-masing dua bersaudara, demi Allah. Dia sendiri bersaudara dengan Ali b. Abi Talib. Hamzah pamannya bersaudara dengan Zaid bekas budaknya. Abu Bakr bersaudara dengan Kharija b. Zaid. Umar ibn'l-Khattab, bersaudara dengan 'Itban b. Malik al-Khazraji. Demikian juga setiap orang dari kalangan Muhajirin yang kini sudah banyak jumlahnya di Yasrib - sehabis mereka yang tadinya masih tinggal di Mekah menyusul ke Madinah setelah Rasul hijrah - dipersaudarakan pula dengan setiap orang dari pihak Anshar, yang oleh Rasul kemudian dijadikan aturan saudara sedarah senasib. Dengan persaudaraan demikian ini persaudaraan kaum Muslimin bertambah kukuh adanya. 

Ternyata kalangan Anshar memperlihatkan perilaku keramahtamahan yang luarbiasa terhadap saudara-saudara mereka kaum Muhajirin ini, yang semenjak semula sudah mereka sambut dengan penuh gembira. Sebabnya ialah, mereka telah meninggalkan Mekah, dan bersama itu mereka tinggalkan pula segala yang mereka miliki, harta-benda dan semua kekayaan. Sebagian besar ketika mereka memasuki Madinah sudah hampir tak ada lagi yang akan dimakan disamping mereka memang bukan orang berada dan berkecukupan selain Usman b. 'Affan. Sedangkan yang lain sedikit sekali yang sanggup membawa sesuatu yang mempunyai kegunaan dari Mekah. 

Pada suatu hari Hamzah paman Rasul pergi mendatanginya dengan permintaan kalau-kalau ada yang sanggup dimakannya. Abdur-Rahman b. 'Auf yang sudah bersaudara dengan Sa'd bin'r-Rabi' ketika di Yasrib ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Ketika Sa'd memperlihatkan hartanya akan dibagi dua, Abdur-Rahman menolak. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Dan di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak berapa lama, dengan kecakapannya berdagang ia telah sanggup mencapai kekayaan kembali, dan sanggup pula memberikan mas-kawin kepada salah seorang perempuan Madinah. Bahkan sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa perdagangan. Selain Abdur-Rahman, dari kalangan Muhajirin, banyak juga yang telah melaksanakan hal serupa itu. Sebenarnya lantaran kepandaian orang-orang Mekah itu dalam bidang perdagangan hingga ada orang mengatakan: dengan perdagangannya itu ia sanggup mengubah pasir sahara menjadi emas. 

Dengan adanya persatuan kaum Muslimin dengan cara persaudaraan itu Muhammad sudah merasa lebih tenteram. Sudah tentu ini merupakan suatu langkah politik yang bijaksana sekali dan sekaligus memperlihatkan adanya suatu perhitungan yang tepat serta pandangan jauh. Baru tampak kepada kita arti semua ini bila kita melihat segala daya-upaya kaum Munafik yang hendak merusak dan menjerumuskan kaum Muslimin ke dalam peperangan antara Aus dengan Khazraj dan antara Muhajirin dengan Anshar. Akan tetapi suatu operasi politik yang begitu tinggi dan yang memperlihatkan adanya kemampuan luarbiasa, ialah apa yang telah dicapai oleh Muhammad dengan mewujudkan persatuan Yasrib dan meletakkan dasar organisasi politiknya dengan mengadakan persetujuan dengan pihak Yahudi atas landasan kebebasan dan komplotan yang berpengaruh sekali. Orang sudah melihat betapa mereka menyambut baik kedatangannya dengan keinginan akan sanggup dibujuknya ke pihak mereka. Penghormatan mereka ini dengan segera dibalasnya pula dengan penghormatan yang sama serta mengadakan tali silaturahmi dengan mereka. Ia bicara dengan kepala-kepala mereka, didekatkannya pembesar-pembesar mereka dibentuknya dengan mereka itu suatu tali persahabatan, dengan pertimbangan bahwa mereka juga Ahli Kitab dan kaum monotheis. Lebih dari itu bahwa pada waktu mereka berpuasa iapun ikut puasa. Pada waktu itu kiblatnya dalam sembahyang masih menghadap ke Bait'l-Maqdis, titik perhatian mereka, tempat terkumpulnya semua Keluarga Israil. Persahabatannya dengan pihak Yahudi dan persahabatan pihak Yahudi dengan ia makin sehari makin bertambah erat dan akrab juga. 

Perjanjiannya dengan Yahudi Menetapkan Kebebasan Beragama 

Antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan orang-orang Yahudi, Muhammad menciptakan suatu perjanjian tertulis yang berisi legalisasi atas agama mereka dan harta-benda mereka, dengan syarat-syarat timbal balik. 

Perjanjian politik inilah yang telah diletakkan Muhammad semenjak empat belas era yang kemudian dan yang telah menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat; perihal keselamatan harta-benda dan larangan orang melaksanakan kejahatan. Ia telah membukakan pintu gres dalam kehidupan politik dan peradaban dunia masa itu. Dunia, yang selama ini hanya menjadi permainan tangan tirani, dikuasai oleh kekejaman dan kehancuran semata. Apabila dalam penandatanganan dokumen ini orang-orang Yahudi Banu Quraiza, Banu'n-Nadzir dan Banu Qainuqa tidak ikut serta, namun tidak selang usang sehabis itu merekapun mengadakan perjanjian yang serupa dengan Nabi. 

Perintah Zakat dan Puasa 

Dalam suasana kaum Muslimin yang sudah mulai tenteram menjalankan tugas-tugas agama itu, pada waktu itu kewajiban zakat dan puasa mulai pula dijalankan hukumnya. Di Yasrib inilah Islam mulai menemukan kekuatannya. Ketika Muhammad hingga di Madinah, bila ketika itu waktu-waktu sembahyang sudah tiba, orang berkumpul bersama-sama tanpa dipanggil. Lalu terpikir akan memanggil orang bersembahyang dengan mempergunakan terompet menyerupai orang-orang Yahudi. Tetapi ia tidak menyukai terompet itu. Lalu dianjurkan mempergunakan genta, yang akan dipukul waktu sembahyang, menyerupai dilakukan oleh orang-orang Nasrani. 

Tetapi kemudian sehabis ada saran dari Umar dan sekelompok Muslimim - berdasarkan satu sumber, - atau dengan perintah Tuhan melalui wahyu, berdasarkan sumber lain - penggunaan genta inipun dibatalkan dan diganti dengan azan. Selanjutnya diminta kepada Abdullah b. Zaid b. Tha'laba: 

"Kau pergi dengan Bilal dan bacakan kepadanya - maksudnya teks azan - dan suruh ia menyerukan azan itu, lantaran suaranya lebih merdu dari suaramu." 

Azan Sembahyang 

Di samping mesjid ada sebuah rumah kepunyaan seorang perempuan dari Banu'n-Najjar yang lebih tinggi dari mesjid. Bilal naik keatas rumah itu kemudian menyerukan azan. Dengan demikian, setiap hari di waktu fajar seluruh penduduk Yasrib mendengar seruan bersembahyang itu diucapkan dengan alunan bunyi yamg indah dan lembut sekali, yang ditujukan Bilal ke segenap penjuru, dan menggema ke pendengaran pendengarnya: 

"Allahu Ahbar! Allahu Akbar! Asyhadu an la ilaha illa Allah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayy 'ala' sh-shala hayy 'ala'l-falah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. La ilaha illa Allah." (Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Aku bersaksi tak ada yang kuasa selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad yakni Utusan Allah. Marilah sembahyang. Marilah mencapai kemenangan. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Tak ada yang kuasa selain Allah). 

Dengan demikian ini rasa takut yang selama ini membayangi kaum Muslimin telah berubah jadi kondusif dan tenteram. Yasrib kini telah menjadi Madinat'r-Rasul - menjadi Kota - Rasulullah. Penduduk kota ini yang bukan Islam sudah pula mencicipi adanya kekuatan kaum Muslimin - suatu kekuatan yang bersumber dari lubuk hati yang sudah mengenal pengorbanan, yang sudah mengalami pelbagai macam penderitaan, demi membela iman. Kini mereka memetik buahnya, buah kesabaran dan ketabahan hati. Mereka mencicipi adanya kebebasan beragama yang telah ditentukan Islam itu dan bahwa tidak ada kekuasaan seseorang atas insan lain, dan bahwa agama hanya bagi Allah semata, hanya kepadaNya adanya dedikasi itu. Di hadapan Tuhan semua insan itu sama. Balasan yang akan mereka terima sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan dan dengan niat yang telah mendorong perbuatan itu. 

Batu pertama ini ialah persaudaraan umat manusia: persaudaraan yang akan menjadikan seseorang tidak tepat imannya sebelum ia sanggup menyayangi saudaranya menyerupai menyayangi dirinya sendiri dan sebelum persaudaraan demikian itu sanggup mencapai kebaikan dan rasa kasih-sayang tanpa suatu perilaku lemah dan gampang menyerah. Ada orang yang bertanya kepada Muhammad; "Perbuatan apakah yang baik dalam Islam?" Dijawab: "Sudi memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kaukenal dan yang tidak kaukenal." 

Kiblat dari Al-Masjid'l-Aqsha Dialihkan ke Al-Masjid'l-Haram 

Orang-orang Yahudi merasa sesak napas terhadap Muhammad. Terpikir oleh mereka akan melaksanakan tipu-daya terhadapnya, akan meyakinkannya hingga ia keluar meninggalkan Madinah menyerupai yang terjadi lantaran gangguan-gangguan Quraisy dahulu hingga ia dan sahabat-sahabatnyapun keluar meninggalkan Mekah. 

Lalu mereka menyampaikan kepadanya, bahwa para rasul sebelum ia semua pergi ke Bait'l-Maqdis dan memang di sana tempat tinggal mereka. Jika ia juga memang benar-benar seorang rasul, iapun akan berbuat menyerupai mereka, dan kota Madinah ini akan dianggapnya sebagai kota mediator dalam hijrahnya dulu antara Mekah dengan al-Masjid'l-Aqsha. Akan tetapi, apa yang sudah mereka kemukakan kepadanya itu bagi Muhammad tidak perlu lama-lama berpikir untuk mengetahui, bahwa mereka sedang melaksanakan tipu-muslihat terhadap dirinya. Pada ketika itu Tuhan mewahyukan kepadanya, menjelang tujuhbelas bulan ia tinggal di Madinah, untuk menghadapkan kiblatnya ke al-Masjid'l-Haram, Rumah Ibrahim dan Ismail: 

"Kami bersama-sama melihat wajahmu yang menengadah ke langit itu. Akan Kami hadapkan mukamu ke arah kiblat yang kausukai. Hadapkan mukamu ke arah al-Masjid'l-Haram. Dimana saja kau berada hadapkanlah mukamu kearah itu." (Qur'an, 2: 142-143) 

Orang-orang Yahudi ternyata menyesalkan insiden itu. Sekali lagi mereka berusaha memperdayakannya, dengan mengatakan, bahwa mereka akan mau jadi pengikutnya kalau ia kembali ke kiblat semula. Di sini firman Tuhan menyebutkan: 

"Dari orang-orang yang masih ndeso akan mengatakan: Apakah yang mengakibatkan mereka berpaling dari kiblat yang dulu. Katakanlah: Timur dan Barat itu kepunyaan Allah. DipimpinNya siapa yang disukaiNya ke jalan yang lurus. Begitu juga Kami jadikan kau suatu umat pertengahan, supaya kau menjadi saksi kepada umat manusia, dan Rasulpun menjadi saksi kepadamu. Dan Kami jadikan kiblat yang biasa kaupergunakan itu, hanyalah untuk menguji siapa pula yang berbalik belakang. Dan itu memang berat, kecuali bagi mereka yang telah menerima pimpinan Tuhan." (Qur'an, 2: 144) 

Beberapa insiden penting yang terjadi di Madinah setelah hijrah, antara lain:

a. Perang Badar
b. {Perang Uhud
c. Perang Khandaq
d. Perang Mu’tah
e. Perang Tabuk
f. Perjanjian Hudaibiyah
g. Pembebasan Mekah
h. Haji Perpisahan

Sakit dan Wafatnya Rasulullah SAW.
Sekembalinya dari ibadah haji perpisahan, pikiran dan perhatian Muhammad tertuju ke potongan utara, lantaran kawasan selatan sudah tidak perlu dikuatirkan lagi. Sebenarnya semenjak terjadinya ekspedisi Mu'ta, dan Muslimin kembali dengan membawa rampasan perang dan sudah merasa puas pula melihat kepandaian Khalid bin'l-Walid menarik pasukan, semenjak itu pula Muhammad sudah memperhitungkan pihak Rumawi matang-matang. Ia beropini kedudukan Muslimin di perbatasan Syam itu perlu sekali diperkuat, supaya mereka yang dulu pernah keluar dan jazirah ini ke Palestina, tidak kembali lagi menghasut perang dan mengerahkan penduduk kawasan itu. Oleh lantaran itu ia menyiapkan pasukan perangnya yang cukup besar, menyerupai persiapannya yang dulu, tatkala ia mengetahui planning Rumawi hendak menyerbu perbatasan jazirah itu dan ia sendiri yang memimpin pasukan hingga di Tabuk. Tetapi waktu itu pihak Rumawi sudah menarik pasukannya hingga ke perbatasan dalam negeri dan ke dalam benteng mereka sendiri. Sungguh pun begitu kawasan utara ini harus tetap diperhitungkan, kalau-kalau kenangan usang - di bawah lindungan Nasrani dan pihak yang merasa berkuasa di bawah Imperium Rumawi waktu itu - akan bangun kembali dan mengumumkan perang kepada pihak yang pernah mengeluarkan orang-orang Nasrani di Najran dan di luar Najran di bilangan Semenanjung Arab itu. 

Pasukan Usama 

Oleh lantaran itu, selesai ibadah haji perpisahan di Mekah, belum usang lagi kaum Muslimin tinggal di Madinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke kawasan Syam, dengan menyertakan kaum Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini dipimpin oleh Usama b. Zaid b. Halitha. Usia Usama waktu itu masih muda sekali, belum melampaui duapuluh tahun. Kalau tidak lantaran terbawa oleh kepercayaan yang teguh kepada Rasulullah, pimpinan Usama atas orang-orang yang sudah lebih dahulu dan atas kaum Muhajirin serta sahabat-sahabat besar itu, tentu akan sangat mengejutkan mereka. Tetapi ditunjuknya Usama b. Zaid oleh Nabi dimaksudkan untuk menempati tempat ayahnya yang sudah gugur dalam pertempuran di Mu'ta dulu, dan akan menjadi kemenangan yang dibanggakan sebagai tanggapan atas gugurnya ayahnya itu, di samping semangat yang akan timbul dalam iiwa pemuda-pemuda, juga untuk mendidik mereka membiasakan diri memikul beban tanggungjawab yang besar dan berat. 

Muhammad memerintahkan kepada Usama supaya menjejakkan kudanya di perbatasan Balqa' dengan Darum di Palestina, tidak jauh dari Mu'ta tempat ayahnya dulu terbunuh, dan supaya menyerang musuh Tuhan itu pada pagi buta, dengan serangan yang gencar, dan menghujani mereka dengan api. Hal ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum gosip hingga lebih dulu kepada musuh. Apabila Tuhan sudah memberi kemenangan, tidak usah lama-lama tinggal di tempat itu. Dengan membawa hasil dan kemenangan itu ia harus segera kembali. 

Nabi mulai sakit 

Sekarang Usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak jauh dari Madinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina. Tetapi, dalam pada mereka sedang berkemas-kemas itu tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat. 

Bisa jadi orang akan bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang persiapan dan keberangkatannya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak jadi berangkat lantaran ia sakit? Ya, Perjalanan pasukan ke Syam yang akan mengarungi sahara dan kawasan tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan, dan tidak pula gampang buat kaum Muslimin - dengan Nabi yang sangat mereka cintai melebihi cinta mereka kepada diri sendiri - akan meninggaIkan Madinah sedang Nabi dalam keadaan sakit, dan yang sudah mereka sadari pula apa bersama-sama dibalik sakitnya itu. Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi mengeluh lantaran sesuatu penyakit yang berarti. Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan yang pernah dialaminya dalam tahun keenam Hijrah, tatkala ada tersiar gosip bohong bahwa ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam, yaitu setelah tergoda daging beracun dalam tahun ketujuh Hijrah. Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya. Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit; kesederhanaannya dalam berpakaian dan cara hidup; kebersihannya yang dipeliharanya luar biasa dengan mengharuskan wudu yang sangat disukainya, hingga pernah ia berkata: kalau tidak lantaran kuatir akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak2 lima kali sehari, - kegiatannya yang tiada pernah berhenti, aktivitas beribadat dari satu segi dan aktivitas olah-raga dari segi lain, kesederhanaan dalam segalanya - terutama dalam kesenangan; keluhurannya yang jauh dari segala hawa nafsu, dengan jiwa yang begitu tinggi tiada taranya; komunikasinya dengan kehidupan dan dengan alam dalam bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, - semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit dan sanggup memelihara kesehatan. Bentuk badan yang tepat tiada cacat, perawakan yang tegap kuat, menyerupai halnya dengan Muhammad, akan jauh selalu dari penyakit. 

Kaprikornus kalau kini ia jatuh sakit, masuk akal sekali menjadi kekuatiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang mencintainya. 

Mengeluh sakit kepala 

Keesokan harinya bila tiba waktunya ia ke tempat Aisyah, dilihatnya Aisyah sedang mengeluh lantaran sakit kepala: "Aduh kepalaku!" Tetapi ia berkata - sedang ia sudah mulai merasa sakit: "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala." 

Tetapi sakitnya belum begitu keras dalam arti ia harus berbaring di tempat tidur atau akan merintanginya pergi kepada keluarga dan isteri-isterinya untuk sekedar bergurau. Setiap didengarnya ia mengeluh Aisyah juga mengulangi lagi mengeluh sakit kepala. 

Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi isteri-isterinya menyerupai biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah ia sudah tidak sanggup lagi mengatasinya. Ia merasa perlu menerima perawatan. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa ia akan dirawat di rumah Aisyah. Isteri-isterinya mengijinkan ia pindah. 

Demam 

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah menyerupai dibakar. Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun ia pergi berjalan ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sembahyang saja. Ia sudah tidak berpengaruh duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya. Namun begitu apa yang dibisikkan orang bahwa ia menunjuk anak yang masih muda belia di atas kaum Muhajirin dan Anshar yang terkemuka untuk menyerang Rumawi, terdengar juga oleh Nabi. Meskipun dari hari ke hari sakitnya bertambah juga, tapi dengan adanya bisik-bisik demikian itu rasanya perlu ia bicara dan berpesan kepada mereka. Dalam hal ini ia berkata kepada isteri-isteri dan keluarganya: 

Menyuruh Abu Bakr memimpin sembahyang 

Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang digunakannya selama ia dalam keadaan sakit itu, telah menciptakan sakitnya terasa lebih berat lagi. Sungguh suatu pekerjaan berat, terutama buat orang yang sedang menderita demam, ia keluar juga setelah disirami tujuh kirbat air; ia keluar dengan membawa beban pikiran yang sangat berat: Pasukan Usama, nasib Anshar kemudian hari, nasib orang-orang Arab yang kini telah dipersatukan oleh agama gres itu dengan persatuan yang sangat kuat. Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang menyerupai biasanya, ternyata ia sudah tidak berpengaruh lagi. Ketika itulah ia berkata: 

"Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang." 

Kemudian Abu Bakr tiba memimpin sembahyang menyerupai diperintahkan oleh Nabi. 

Pada suatu hari lantaran Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang bersembahyang sebagai pengganti Abu Bakr. Oleh lantaran Umar orang yang punya bunyi lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid, suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah. 

"Mana Abu Bakr?" tanyanya. "Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian." 

Dengan demikian orang sanggup menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai penggantinya kemudian, lantaran memimpin orang-orang bersembahyang sudah merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah. 

Berpulang ke rahmatullah. 

Dalam hal ini beberapa sumber masih sangat berlain-lainan sekali keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada hari ekspresi dominan panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8 Juni 632 - ia minta disediakan sebuah ember berisi air masbodoh dan dengan meletakkan tangan ke dalam ember itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakr tiba ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang memperlihatkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) hingga lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah saya dalam sakratulmaut ini." 

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai Tertinggi dari surga." 

"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada8 dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, saya berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain saya memukul-mukul mukaku." 

Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan segala tanggapan yang akan menjurus kepada perang saudara, kalau tidak lantaran Tuhan Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan agama yang bersama-sama ini. 

Umar tidak percaya Rasul wafat 

Setelah mengetahui hal itu cepat-cepat Umar ke tempat mayat disemayamkan. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah sudah wafat. Ketika ia datang, dibukanya tutup mukanya. Ternyata ia sudah tidak bergerak lagi. Umar mengira bahwa Nabi sedang pingsan. Kaprikornus tentu akan siuman lagi. Dalam hal ini sia-sia saja, Mughira hendak meyakinkan Umar atas kenyataan yang pahit ini. Ia tetap berkeyakinan, bahwa Muhammad tidak mati. Oleh lantaran Mughira tetap juga mendesak, ia berkata: 

"Engkau dusta!" 

Kemudian ia keluar ke mesjid bersama-sama sambil berkata: "Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah s.a.w. telah wafat. Tetapi, demi Allah bersama-sama ia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, menyerupai Musa bin 'Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan ia sudah mati. Sungguh, Rasulullah niscaya akan kembali menyerupai Musa juga. Orang yang mengira bahwa ia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!" 

Teriakan Umar yang tiba bertubi-tubi ini telah didengar oleh kaum Muslimin di mesjid. Mereka jadi menyerupai orang kebingungan. Memang, kalau memang benar Muhammad telah berpulang, alangkah pilunya hati! Alangkah gundahnya perasaan mereka yang pernah melihatnya, pernah mendengarkan tutur katanya, orang-orang yang beriman kepada Allah Yang telah mengutusnya membawa petunjuk dan agama yang benar! Rasa gundah dan kesedihan yang sungguh membingungkan, sungguh menyayat kalbu! Apabila Muhammad telah pergi menghadap Tuhan - menyerupai kata Umar - ini sungguh membingungkan. Dan menunggu ia kembali lagi menyerupai kembalinya Musa, lebih-lebih lagi ini mengherankan. 

Mereka semua tiba mengerumuni Umar, lebih mempercayainya dan lebih yakin, bahwa Rasulullah tidak meninggal. Belum selang usang tadi mereka bersama-sama, mereka melihatnya dan mendengar suaranya yang keras dan jelas, mendengar doanya dan pengampunan yang dimohonkannya. Betapa ia akan meninggal, padahal ia yakni Khalilullah yang dipilihNya untuk memberikan risalah, risalah yang kini sudah dianut oleh Arab se]uruhnya, tinggal lagi Kisra dan Heraklius yang akan menganut Islam! Betapa ia akan meninggal, padahal dengan kekuatannya itu selama duapuluh tahun terus-menerus ia telah menggoncangkan dunia dan telah menimbulkan suatu revolusi rohani yang paling hebat yang pernah dikenal sejarah! 

Tetapi di sana wanita-wanita masih juga memukul-mukul muka sendiri sebagai tanda, bahwa ia telah meninggal. Sungguh pun begitu Umar di mesjid masih juga terus menyebutkan bahwa ia tidak wafat, ia sedang pergi kepada Tuhan menyerupai Musa bin 'Imran, dan mereka yang beropini bahwa ia sudah meninggal, mereka itu golongan orang-orang munafik, orang munafik, yang tangan dan kakinya oleh Muhammad nanti akan dihantamnya setelah ia kembali. Mana yang mesti dipercaya oleh kaum Muslimin? Mula-mula mereka cemas sekali. Kemudian kata-kata Umar itu masih menimbulkan keinginan dalam hati mereka, lantaran Muhammad masih akan kembali. Hampir saja angan-angan mereka itu mereka percayai, menggambarkan dalam hati mereka sendiri hal-hal yang hampir-hampir pula membawa mereka jadi puas karenanya. 

Kedatangan Abu Bakr 

Sementara mereka dalam keadaan begitu tiba-tiba Abu Bakr datang. Ia segera kembali dari Sunh setelah gosip sedih itu diterimanya. Ketika dilihatnya Muslimin demikian, dan Umar sedang berpidato, ia tidak berhenti lama-lama di tempat itu melainkan terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi ke kanan-kiri. Ia minta ijin akan masuk, tapi dikatakan kepadanya, orang tidak perlu minta ijin untuk hari ini. 

ila ia masuk, dilihatnya Nabi di salah satu potongan dalam rumah itu sudah diselubungi dengan burd hibara. Ia menyingkapkan selubung itu dari wajah Nabi dan setelah menciumnya ia berkata: 

"Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati." 

Kemudian kepala Nabi diangkatnya dan diperhatikannya paras mukanya, yang ternyata memang memperlihatkan ciri-ciri kematian. 

Kemudian dikembalikannya kepala itu ke bantal, ditutupkannya kembali kain burd itu kemukanya. Sesudah itu ia keluar. Ternyata Umar masih bicara dan mau meyakinkan orang bahwa Muhammad tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada Abu Bakr. 

"Sabar, sabarlah Umar!" katanya setelah ia berada di akrab Umar. "Dengarkan!" 

Tetapi Umar tidak mau membisu dan juga tidak mau mendengarkan. Ia terus bicara. Sekarang Abu Bakr menghampiri orang-orang itu seraya memberi isyarat, bahwa ia akan bicara dengan mereka. Dan dalam hal ini siapa lagi yang akan menyerupai Abu Bakr! Bukankah ia Ash-Siddiq yang telah dipilih oleh Nabi dan sekiranya Nabi akan mengambil orang sebagai sobat kesayangan tentu dialah sobat kesayangannya?! Oleh lantaran itu cepat-cepat orang memenuhi seruannya itu dan Umar ditinggalkan. 

Barangsiapa akan menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal 

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Abu Bakr berkata: "Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati." 

Kemudian ia membacakan firman Tuhan: "Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum ia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila ia mati atau terbunuh, apakah kau akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan akan memberikan tanggapan kepada orang-orang yang bersyukur." (Qur'an, 3:144) 

Ketika itu Umar juga turut mendengarkan tatkala dilihatnya orang banyak pergi ke tempat Abu Bakr. Setelah didengarnya Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak sanggup menahan lagi, setelah ia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat. Ada pun orang banyak, yang sebelum itu sudah terpengaruh oleh pendapat Umar, begitu mendengar bunyi ayat yang dibacakan Abu Bakr, gres mereka sadar; seolah mereka tidak pernah mengetahui, bahwa ayat ini pernah turun. Dengan demikian segala perasaan yang masih ragu-ragu bahwa Muhammad sudah berpulang ke rahmat Allah, sanggup dihilangkan.
Buat lebih berguna, kongsi:

Trending Kini: