Makna Dan Aturan Isti’Adzah Di Dalam Kitab Aysar At-Tafasir

Tongkronnganislami.net -Salah satu doa, atau kalimat yang pada umumnya dihafal dan sering diucapkan oleh umat Islam ialah kalimat “أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “ (Audzu billah minasysyaithanirrajim). Semenjak kecil, akan kita dapati bawah umur muslim, baik itu di tpa mesjid, atau pun di sekolahnya akan diajarkan dan disuruh menghafal kalimat ini. 

Ketika membaca al-Qur’an, kalimat ini merupakan kalimat yang mengawali lantunan kalam Ilahi. Dalam bacaan shalat, kalimat ini pun juga menjadi kepingan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah. Tak pelak lagi, kalimat tersebut tidak akan terlepas dari kehidupan umat Islam baik itu dari acara ibadah mereka, maupun dari kehidupan sehari-hari. Kalimat ini, dalam Istilahnya disebut dengan kalimat isti’adzah.

Meskipun hampir seluruh umat Islam di dunia mengetahui, menghafal dan mengucapkan kalimat isti’adzah, tetapi tidak sedikit dari mereka yang belum mengerti hakikat, nilai dan konsep dari kalimat tersebut. Pertanyaan pokok yang bisa menjadi indikator akan ketidaktahuan tersebut di antaranya, apa makna perkata dari kalimat istiadzah?, doa apa yang kita panjatkan ketika ber-isti’adzah? Dan kapan saja kita dianjurkan untuk beristiadzah? Jika beberapa pertanyaan itu diajukan kepada orang Islam, besar kemungkinan banyak yang tidak bisa menjawabnya. Sebab lebih banyak didominasi muslim hanya tahu terjemahan dari kalimat isti’adzah tersebut, yaitu “aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk”. Padahal, sebagai kalimat yang mengandung unsur tauhid dan keberpasrahan kepada Allah, lafal ini tentunya mempunyai makna yang sangat mendalam. Apa makna berlindung pada lafal اعوذ ? Allah dalam dimensi menyerupai apa ketika kita meminta santunan dengan kalimat isti’adzah? Seperti apakah syaitan yang kita minta Allah melindungi diri kita? Bagaimana maksud terkutut pada kata الرجيم?

Untuk itu kiranya menjadi hal yang penting memahami konsep isti’adzah ini, dalam rangka lebih menyadari nilai yang terkandung di dalamnya dan bisa menempatkan bacaan ini dengan tepat. Pentingnya konsep Isti’adzah salah satunya dilihat dari banyaknya klarifikasi yang diberikan oleh ulama, khususnya yang bergerak di bidang tafsir. Dengan begitu banyak pula prespektif atau sudut pandang yang dihadirkan oleh para mufassir dalam hal ini.


 atau kalimat yang pada umumnya dihafal dan sering diucapkan oleh umat Islam ialah kalima Makna dan Hukum Isti’adzah di dalam kitab Aysar at-Tafasir


Pada goresan pena ini, pembahasan konsep kalimat isti’adzah hanya akan merujuk kepada satu kitab tafsir aysar at-tafasir karya syaikh Abu Bakar al-Jaza’iry. Hal ini bertujuan supaya gampang difahami sehingga sanggup diamalkan.

Makna kalimat Isti’adzah

Untuk memahami makna kalimat isti’dzah, setidaknya kita sanggup membaginya menjadi empat bagian. (1), أعوذ (2),  بالله(3)   من الشيطانdan (4) الرجيم
·        
أعوذ secara harfiah bermakna “aku berlindung”. Bagi Abu Bakar al-Jazairy, makna lafal tersebut setidaknya meliputi dua wilayah. Pertama wilayah استجير  meminta perlindungan. Kedua wilayah اتحصن  membentengi diri. yang menjadi pertanyaan, kenapa sehabis meminta santunan kita harus lagi meminta supaya Allah membentengi diri kita? Sebab hakikatnya fitrah insan ialah kebaikan, mereka terlahir dengan unsur kebaikan yang telah ditanamkan Allah, tidak ada unsur kejahatannya. Sehingga insan pada umumnya melaksanakan kejahatan dikarenakan dua hal, lantaran kotornya hati mereka sehingga diri mereka membiasakan berlaku jahat dengan melaksanakan perbuatan tersebut berulang-ulang kali atau lantaran pada suatu kondisi, insan tersebut terjebak dalam keadaan gampang untuk melaksanakan kejahatan sehingga setan memanfaatkan hawan nafsu untuk mendorong pelakunya mengambil kesempatan berbuat jahat tersebut.

Dengan begitu maka, lafal audzu yang diucapkan seseorang berarti = meminta dihindari dari dua keadaan itu. Keadaan pertama ia meminta Allah untuk melindungi dirinya dari berlaku jahat dan jangan hingga kejahatan yang mulanya ialah murni bisikan syaitan namun lalu menjadi kebiasaan dirinya disebabkan ia telah berulang kali melakukannya. Di sinilah konteks wilayah meminta perlindungan.

Keadaan kedua, ia meminta Allah untuk membentengi dirinya dari bisikan syaitan yang memanfaatkan keadaanya untuk mengambil momentum berbuat maksiat. Dengan benteng tersebut, ia mengharapkan supaya lebih berpengaruh untuk menolak berbuat kejahataan di tengah mudahnya melaksanakan kejahatan tersebut. Di sinilah konteks wilayah meminta dibentengi diri.

بالله secara harfiah bermakna kepada Allah. Bagi Abu Bakar al-Jaza’iry, ketika seseorang beristi’adzah, meminta santunan kepada Allah, maka layaknya hamba tersebut faham akan sifat Allah yang Ia mintai perlindungan. Jangan hingga Allah hanya menjadi simbol nama dewa belaka yang itu nantinya akan mengurangi dari mendalami ungkapan doa yang ia sebut.

Di dalam konteks beristi’dzah, setidaknya Allah mempunyai tiga kriteria. Pertama ialah al-Qadir ala kulli syain (Maha bisa untuk memilih segala sesuatu). Artinya orang yang meminta santunan kepada Allah, lantaran orang itu percaya bahwa Allahlah satu-satunya zat yang bisa memilih segala sesuatu, termasuk diantaranya ialah memastikan bahwa hamba tersebut akan senantiasa terlindungi dan terbentengi dari syaitan dan peluang berbuat jahat.

Kedua Allah sebagai al-Alim bi kulli Syain (Maha Mengetahui Segala Sesuatu). Artinya kita beristiadzah meminta santunan Allah, dengan kepercayaan bahwa Allah ialah zat yang mengetahu keadaan kita, keadaan terbaik kita, yang dengan begitu Allah bisa menggiring kita kepada keadaan terbaik, dan menghindari keadaan yang bisa membentuk kepribadian kita menjadi eksklusif yang tidak baik.

من الشيطان  makna as-Syaitan dalam konteks istiadzah, berdasarkan Abu Bakar al-jazairy ialah Iblis La’anahu Allah (Iblis yang dilaknat oleh Allah). Syarh atau klarifikasi yang singkat ini setidaknya membantu kita memetakan secara sederhana konsep syaitan. Kata iblis dipergunakan dalam al-Qur’an kepada sekelompok jin yang tidak mau mengikuti perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam. Sehingga Iblis ialah kepingan dari jin yang telah durhaka kepada Allah. Sementara lafal Syaitan ialah iblis yang telah durhaka dan telah menarik hati insan untuk ikut ingkar kepada Allah. Dengan begitu, Allah melaknatnya. Dengan kata lain, syaitan ialah gelar kepada Iblis yang telah dilaknat oleh Allah lantaran menarik hati insan supaya masuk di dalam keingkaran.

Sehingga, dimensi syaitan tidaklah ditujukan kepada iblis saja, tetapi juga kepada makhluk lain, termasuk insan yang mencoba untuk durhaka dan menarik hati insan untuk ikut ingkar kepada Allah. Hal ini mendapat pembuktian dari surat an-Nas di mana kita juga meminta santunan kepada Rajanya manusia, Allah dari makhluk yang suka membisiki kejahatan (Yuwaswisu fi Shudur an-Nas). Dan dikatakan pada ayat terakhir, makhluk yang menyerupai itu terdapat pada golongan jin yaitu iblis, juga pada kelompok insan sendiri yang mempunyai sifat atau gelar syaitan.

Dengan demikian, santunan kita terhadap syaitan pada lafal isti’adzah tidak terbatas pada iblis saja, tetapi juga insan yang berlaku menyerupai syaitan

الرجيم yang biasa kita artikan “terkutuk”. Adapun Abu Bakar al-Jaza’iry mengartikannya dengan almub’ad wa al-Matrud min rahmatin wa khairin (yang dijauhkan dan ditolak dari rahmat dan kebaikan). Hal ini mengindikasikan bahwa predikat syaitan akan menciptakan pelakunya tidak akan diliputi rahmat dan kebaikan dari Allah. Sehingga sangat logis ketika kita meminta santunan dari syaitan, alasannya syaitan akan menjauhkan kita dari rahmat dan kebaikan

Makna Umum kalimat al-Isti’adzah

Berdasarkan pemaparan kata per-kata di atas, setidaknya sanggup kita simpulkan bahwa, lafal isti’adzah yang dimaksudkan atau dibaca mempunyai konsep ajakan kepada Allah untuk dilindungi dan dibentengi dari syaitan baik itu jin atau pun insan yang sanggup menjauhkan kita dari rahmat dan kebaikan. Ketika lafal isti’adzah itu kita baca sebelum membaca al-Qur’an, berarti kita meminta supaya jangan hingga syaitan menciptakan kita salah di dalam membaca al-Qur’an.

Dalam konteks yang lebih umum, dengan lafal isti’adzah kita meminta supaya Allah menjauhkan upaya syaitan menyesatkan diri kita, baik itu ketersesatan dalam mengamalkan al-Qur’an juga ketersesatan dengan menimbulkan al-Qur’an hanya sebatas bacaan kita, tanpa memfungsikannya sebagai sumber petunjuk.

Hukum Membaca al-Isti’adzah

Pentingnya fungsi kalimat audzu billah hi minsysyaithanirrajim, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, menimbulkan kalimat ini sangat dianjurkan kepada seluruh umat muslim membacanya. Setidaknya ada tiga keadaan di mana seorang muslim sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) membaca isti’dzah berdasarkan bubuk Bakar al-jaza’iry

Pertama, ketika mau menyebut atau membaca ayat al-Qur’an. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, supaya syaitan tidak menciptakan kita salah membaca al-Qur’an, atau salah menempatkan konteks al-Qur’an sehingga tidak sesuai yang dimaksud di dalam syariat Islam, menyerupai memanfaatkan ayat al-Qur’an untuk membenarkan ketuhanan agama lain sebagaimana yang sering dilakukan oleh para missionaris. Juga supaya kita tidak salah mengamalkan al-Qur’an

Kedua, ketika hendak atau sedang marah. Anjuran ini bertujuan supaya kemarahan kita menjadi reda dan kita tidak melaksanakan hal-hal yang berlebihan. Sebab seseorang murka salah satunya disebabkan syaitan yang memanfaatkan kondisi jiwanya yang sedang kesal dan kecewa. Untuk itu, beristi’adzah menimbulkan kondisi jiwa yang tidak stabil itu tidak hingga berbuah perbuatan yang berakibat negatif

Ketiga, di ketika seseorang dalam kondisi gampang melaksanakan perbuatan jahat sehingga dikhawatirkan ia lebih cenderung kepada melaksanakan perbuatan tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, lantaran lahirnya perbuatan jahat seseorang juga didukung dari keadaan yang bisa memicunya berbuat jahat. Apalagi dengan bisikan syaitan yang memanfaatkan hawa nafsu seseorang. Keadaan menyerupai ini merupakan keadaan yang sering terjadi kepada insan pada umumnya. dan juga menjadi keadaan yang sulit dihindari, menyerupai seseorang yang berada pada kondisi masyarakat yang gemar melaksanakan maksiat atau pada kondisi kerja di mana orang-orangnya sudah terbiasa melaksanakan korupsi. Tentu sangat sulit menghindari untuk tidak ikut dalam perbuatan yang lebih banyak didominasi orang melakukannya. Beristighfar dan beristi’adzah ialah upaya doa seorang hamba supaya Allah membentengi dan melindungi dirinya untuk ikut arus atas keadaan tersebut.

Dengan begitu, semoga kita lebih bisa khusyu lagi ketika membaca isti’adzah, dan bisa mengucapkannya di keadaan-keadaan yang tepat. Wallahu musta’an wallahu ala kulli syain qadir

Buat lebih berguna, kongsi: