Kriteria Jomblo Berkualitas Dalam Anutan Islam

Tongkronganislami.net, Tentang jodoh, yang selalu mempunyai kawasan tersendiri untuk selalu dibahas. Memiliki daya tarik yang kuat, terutama bagi mereka yang selama ini masih hidup “sendiri”. Karena masih banyak pemuda-pemudi yang bingung wacana problem jodoh. Meskipun, ada sebagian yang mengelak tak pernah bingung wacana jodoh, tapi jauh di dalam hatinya niscaya sangat merindukan kehadiran belahan jiwa.

Siapa sih yang ingin hidup menyendiri? Pertanyaan yang Anda sendiri bisa menjawabnya, dan saya kira semua orang akan menjawab dengan tanggapan yang sama. Setiap insan dilahirkan secara fitrah tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan orang lain, termasuk jodoh. Jodoh yang memang bisa membuat diri kita, semakin erat dengan Allah dan Rasul-Nya.

Jomblo yakni gelar yang disematkan kepada mereka yang belum menikah. Gelar yang terkadang membuat risih penyandangnya, yang membuat resah dan ingin bersegera melepas gelar tersebut. Tapi, tidak semua jomblo menyerupai itu. Justru ada yang gembira dengan kejombloannya, alasannya yakni terhindar dari tradisi barat yang sering kita sebut dengan istilah pacaran.

Jomblo di negeri ini memang sangat banyak. Terbukti, akhir-akhir ini aneka macam seminar-seminar wacana persiapan pernikahan. Mungkin, sebagian dari mereka masih belum mempunyai ilmu yang cukup untuk membina rumah tangga. Selain itu, buku-buku yang membahas wacana indahnya menjomblo hingga halal pun banyak sekali.

Intinya, mempersiapkan diri sebelum menjemput jodoh impian. Bahkan, yang menceritakan lika-liku pencarian jodoh pun sangat banyak. Dari kegagalan-kegagalan mencari jodoh, hingga kisah kesuksesan meraih rumah tangga yang sakinah.

Ikhwan dan akhwat, dua jenis insan yang ada di dunia jomblo. Selain itu, panggilan khas lainnya yaitu akhi dan ukhti. Sekilas memang menyenangkan, tapi dari sinilah terkadang kita tertipu. Tertipu, alasannya yakni kita sering kali menyebabkan standar pelopor dakwah, yang berdasarkan kita sudah saleh atau salehah dan layak untuk dijadikan pasangan hidup. Tetapi ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terbukti, banyak akhwat atau ikhwan yang mempermainkan perasaan, padahal mereka belum mempunyai kesiapan serta niatan yang terkadang kurang benar.

Namun, di sisi lain ada yang menjaga hati dengan sangat hati-hati. Merekalah, jomblo dengan kualitas terbaik. Tidak gampang dipermainkan perasannnya oleh sesama jomblo. Mereka yang bisa menjaga kemuliaan dirinya dengan baik, bisa menjaga pandangan, bisa menjaga kehormatan, serta menyayangi dan membenci hanya alasannya yakni Allah. Merekalah, jomblo-jomblo yang paling dicari, pria maupun perempuan.

Perempuan mana yang tega menolak lamaran lelaki dengan kualiatas terbaik. Lelaki yang bisa dikatakan saleh, indah akhlaknya, tinggi ilmu agamanya, tampan rupanya, mempunyai pekerjaan yang baik, serta luas keuntungannya untuk lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, mana ada lelaki yang menyia-nyiakan seorang wanita yang salehah, indah akhlaknya, tinggi ilmu agamanya, serta manis parasnya, yang cerdas dan seperangkat fitur lengkap lainnya.

Tapi kenyaataannya, masih banyak lelaki dan wanita yang berkualitas tapi masih sendiri alias jomblo. Banyak faktor yang menjadi penyebab mereka ketika ini masih betah dengan kejombloannya. Antara lain: tuntutan pekerjaan, faktor keadaan ekonomi, kurang maksimalnya perjuangan mencari jodoh, dan sebagainya.

Alasan-alasan itulah yang selalu membayangi mereka. Padahal, di sisi lain, keinginan mereka untuk segera menikah begitu menggebu-gebu. Terutama pihak lelaki, di zaman kini yang apapun memerlukan biaya yang tidak murah, dituntut untuk bisa memperlihatkan kemudahan terbaik untuk keluarga kecilnya kelak. Dari pihak perempuan, dituntut untuk bisa membantu menghasilkan komplemen untuk menyokong keadaan ekonomi keluarga.

Memang, persyaratan untuk menikah tidak serumit yang kita bayangkan (baca: nikah dalam islam). Yang terpenting yakni bagaimana kita bisa terbuka dengan calon pasangan kita. Dengan memperlihatkan warta wacana kita seutuhnya ketika proses ta’aruf. Meluruskan niat untuk menggenapkan separuh agama, akan menguatkan komitmen ketika membina mahligai rumah tangga.

Bukankah lebih gampang dan bisa diterima bila si saleh dan si salehah menjalin ikatan suami istri. Keduanya sama-sama saleh, tinggi ilmu agamanya, indah akhlaknya, rupawan parasnya, dan tak ada lagi yang seharusnya dikhawatirkan. Bukankah, bila dua insan berhubungan untuk menegakkan agama Allah serta mengikuti sunah Rasul, Allah akan memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Namun, masih banyak dari mereka yang pilih-pilih, atau mungkin masih ragu ketika ada seseorang yang ingin mengajak ta’aruf. Selain itu, rasa gengsi, malu, kurang percaya diri dari kedua pihak pun terkadang menjadi penyebabnya.
 yang selalu mempunyai kawasan tersendiri untuk selalu dibahas Kriteria Jomblo Berkualitas dalam Ajaran Islam
Ilustrasi / Aboutlove99.blogspot.com
Si ikhwan aib untuk meminang si akhwat, alasannya yakni sadar bila si akhwat kedudukannya lebih tinggi. Padahal, si akhwat sudah menunggu usang si ikhwan untuk meminangnya. Ada juga si akhwat yang memendam cinta pada seorang ikhwan yang diidamkan, namun tak berani mengungkapkan dengan alasan gengsi atau takut di cap akhwat agresif. Mungkin juga si ikhwan yang diidamkan bekerjsama mencintainya, namun khawatir bila keinginannya untuk meminang sang akhwat ditolak.

Tak usang kemudian, mereka menerima kabar, bila sang ikhwan atau akhwat yang diidamkan ternyata menikah dengan orang lain. Mereka galau, mencoba menghibur diri, kemudian menganggap ini sebagai cobaan hidup. Apakah ini memang cobaan hidup, atau mereka yang kurang maksimal usahanya? Lalu, siapa yang harus disalahkan? Hehehe.

Jika pada suatu hari, Anda sedang menyendiri tapi resah dengan kondisi kesendirian Anda, itu menunjukan Anda harus segera melepas gelar jomblo secara terhormat. Jika nanti, Anda menemukan teman-teman Anda sudah menimang buah hati, kemudian ada rasa untuk bisa menyerupai mereka, itu menunjukan bila anda sudah pantas untuk menikah.

Seandainya nanti, Anda bertemu dengan seseorang yang membuat anda erat dengan Allah dan Rasul-Nya, membuat Anda mantap untuk berhubungan dunia akhirat, dengan standar yang sesuai syariat, kemungkinan beliau yakni seseorang yang Anda tunggu selama ini. Tunggu apalagi, jangan sia-siakan beliau yang ketika ini mungkin menunggu kehadiran Anda dalam kehidupannya.

Jangan pernah aib untuk melaksanakan kebaikan, bila memang itu baik, lakukanlah. Saat ini tak perlu lagi ada rasa gengsi, aib dan tidak percaya diri. Termasuk untuk meminang seseorang. Allah membuat kita berpasang-pasangan, kiprah kita bukan menjadi yang terbaik, tapi menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bukankah lebih menyenangkan bila kita tidak sendiri, ada seseorang yang setia menemani kita di setiap langkah kita sesuai apa yang diperintahkan Allah.

Kita tak pernah tahu, apakah janjkematian atau jodoh yang terlebih dulu menjemput kita. Tapi, kita bisa memilih pasangan dan mengupayakany, setidaknya semoga kita bisa menikah. Menikah alasannya yakni Allah, alasannya yakni seburuk-buruknya hamba dihadapan Allah yakni mereka yang kembali kepadaNya dalam keadaan membujang.

Berdoa kemudian bersegeralah untuk menyiapkan semuanya. Jika ketika ini anda masih sendiri, semoga dalam waktu erat Allah mempertemukan dan menyatukan dengan jodoh anda, dalam ikatan kesepakatan nikah yang diberkahi-Nya. Aamiin.

Rekomendasi Bacaan: 

Mochammad Fadhlurrohman Nafis
Mahasiswa LIPIA
Twitter: @emefrahmanen

Buat lebih berguna, kongsi: