Tongkronganislami.net - Sayyid Qutb, dalam bukunya Ma’allim Fi at-Thariq, mengatakan “jikalau orang eropa maju alasannya yakni meninggalkan agamanya, maka alasannya yakni meninggalkan agamanya juga, muslim justru menjadi mundur dan terbelakang”
Mari kita renungkan himbuan yang dikatakan oleh Sayyid Qutb, kita tidak perlu susah-susah untuk memikirkan kenapa dengan menanggalkan agama, orang eropa maju. Hal yang perlu kita renungi dalam-dalam adalah, muslim-muslim yang mundur alasannya yakni meninggalkan agamanya.
Mari kita refleksikan ungkapan ketersadaran Sayyid Qutb dengan kenyataan muslim sekarang. Data internasional menyebutkan, satu juta Israil yang notebene-nya Yahudi, 1600 dari mereka yakni pakar keilmuan, satu juta Amerika yang notabene-nya yakni Kristiani 160 di antara mereka yakni pakar keilmuan dan kita, lebih banyak didominasi muslim di Indonesia ini, hanya 65 lima yang disebut pakar, lebih ironisnya lagi, hanya 6 yang muslim. Bukankah data ini sudah menjadi kenyataan yang memilukan??
Maka di sini, kami mencoba mengajak..., mari kini kita berlari, kembali kepada al-Qur’an, kitab suci sebagai pedoman aliran agama yang kini tengah kita lupakan, islam dan kitab yang dikatakan oleh Said Nursi, seorang renaisans of Islam “Religon is the father of all sains and al-Qur’an is the book of sains” agama yakni bapak dari seluruh pengetahuan dan al-Qur’an yakni kitab yang mengandung banyak sekali macam ilmu pengetahuan.”
Langkah-langkah awal dari pelarian kita ini, menyadarkan kita, akan keadaan gelap gulita, jauh dari ketercahayaan, sebuah citra yang sangat indah di dalam firman Allah, surat Ibrahim : 1
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kau mengeluarkan insan dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, memperlihatkan klarifikasi dari ayat tersebut, yang dimulai dengan sebuah pertanyaan mendalam
“Kenapa dalam menyifati ketergelapan Allah memakai kata jama’ “az-Zhulumat” sedangkan untuk cahaya, Allah memakai kata mufrad “an-Nur”?. Karena, lanjut, Quraish Shihab, Allah ingin menjelaskan bahwa kegelapan banyak sumbernya, kegulitaan sanggup tiba dari banyak sekali macam hal, dan di tengah sumber cahaya yang ada, hanya satu cahaya yang Allah tunjukkan sebagai petunjuk dari ketergelapan yang beraneka ragam. Ialah sumber cahaya Islam, cahaya dari al-Qur’an.
Salah satu lontaran cahaya yang dipancarkan dari sumber cahaya al-Qur’an yakni permintaan untuk meningkatkan keilmuan yang dilandasi dengan keimanan supaya setiap kegelapan-kegelapan itu terserami cahaya secara menyeluruh.
Anjuran ini dalam islam sangat besar, bahkan dalam al-Qur’an orang yang menyandingkan iktikad dan ilmu yakni orang yang diberi pangkat derajat yang tinggi. selaras dengan itu, hadis yang bersifat praksis atas al-Qur’an yang konseptual, menyebutkan kewajiban orang-orang supaya menuntut ilmu, sementara orang yang tak arif dikatakan dalam syair arab, bagai mayit yang berjalan:
Keterwajiban kita terhadap al-Qur’an tidak hanya menjadikannya sebagai sebuah bacaan yang berpahala, defenisi al-Qur’an sebaga wahyu Allah yang diturunkan secara mutawatir dan membacanya yakni ibadah jangan kita artikan sempit. Ini pulalah yang disindir oleh iqbal dalam syairnya
Mari kita renungkan himbuan yang dikatakan oleh Sayyid Qutb, kita tidak perlu susah-susah untuk memikirkan kenapa dengan menanggalkan agama, orang eropa maju. Hal yang perlu kita renungi dalam-dalam adalah, muslim-muslim yang mundur alasannya yakni meninggalkan agamanya.
Mari kita refleksikan ungkapan ketersadaran Sayyid Qutb dengan kenyataan muslim sekarang. Data internasional menyebutkan, satu juta Israil yang notebene-nya Yahudi, 1600 dari mereka yakni pakar keilmuan, satu juta Amerika yang notabene-nya yakni Kristiani 160 di antara mereka yakni pakar keilmuan dan kita, lebih banyak didominasi muslim di Indonesia ini, hanya 65 lima yang disebut pakar, lebih ironisnya lagi, hanya 6 yang muslim. Bukankah data ini sudah menjadi kenyataan yang memilukan??
Maka di sini, kami mencoba mengajak..., mari kini kita berlari, kembali kepada al-Qur’an, kitab suci sebagai pedoman aliran agama yang kini tengah kita lupakan, islam dan kitab yang dikatakan oleh Said Nursi, seorang renaisans of Islam “Religon is the father of all sains and al-Qur’an is the book of sains” agama yakni bapak dari seluruh pengetahuan dan al-Qur’an yakni kitab yang mengandung banyak sekali macam ilmu pengetahuan.”
Langkah-langkah awal dari pelarian kita ini, menyadarkan kita, akan keadaan gelap gulita, jauh dari ketercahayaan, sebuah citra yang sangat indah di dalam firman Allah, surat Ibrahim : 1
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kau mengeluarkan insan dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, memperlihatkan klarifikasi dari ayat tersebut, yang dimulai dengan sebuah pertanyaan mendalam
“Kenapa dalam menyifati ketergelapan Allah memakai kata jama’ “az-Zhulumat” sedangkan untuk cahaya, Allah memakai kata mufrad “an-Nur”?. Karena, lanjut, Quraish Shihab, Allah ingin menjelaskan bahwa kegelapan banyak sumbernya, kegulitaan sanggup tiba dari banyak sekali macam hal, dan di tengah sumber cahaya yang ada, hanya satu cahaya yang Allah tunjukkan sebagai petunjuk dari ketergelapan yang beraneka ragam. Ialah sumber cahaya Islam, cahaya dari al-Qur’an.
Salah satu lontaran cahaya yang dipancarkan dari sumber cahaya al-Qur’an yakni permintaan untuk meningkatkan keilmuan yang dilandasi dengan keimanan supaya setiap kegelapan-kegelapan itu terserami cahaya secara menyeluruh.
Anjuran ini dalam islam sangat besar, bahkan dalam al-Qur’an orang yang menyandingkan iktikad dan ilmu yakni orang yang diberi pangkat derajat yang tinggi. selaras dengan itu, hadis yang bersifat praksis atas al-Qur’an yang konseptual, menyebutkan kewajiban orang-orang supaya menuntut ilmu, sementara orang yang tak arif dikatakan dalam syair arab, bagai mayit yang berjalan:
“Kebodohan bagi orang yang bodoh yakni maut sebelum kematiannya
Tubuhnya menjadi kuburan sebelum liang lahat sebenarnya
Jiwa yang terdapat dalam dirinya menjadi bingung gelisah
Hingga sekalipun telah tiba hari kebangkitan, maka tiada lagi kebangkitan baginya
Menyelaraskan iktikad dan ilmu yakni sebuah kemutlakan, tanpa ada ilmu ibadah yang dilakukan tidak membuahkan ketakutan kepada Allah swt. Innama yakhsyallaha min ibadihi al-Ulama, sebaliknya orang yang hanya mencari ilmu tanpa mengisi jiwanya dengan sprit spritualitas, maka ilmu itu hanya akan melahirkan kesombongan dan kerugian.
Lihatlah apa yang telah terjadi pada Qorun, sehabis diingatkan bahwa harta-harta yang diberikan padanya yakni anugrah yang Allah berikan pada dirinya, dia malah congkak dan mengatakan, innama utituhu ala ilmin indi.
Albert Einstein, sehabis melihat peristiwa pemboman yang membumi hanguskan hirosma dan Nagasaki, ia menulis surat yang menyiratkan ketersesalannya yang begitu dalam “ini yakni kesalahan yang terbesar yang pernah saya buat selama hidup, kalau saya tau begini jadinya saya lebih menentukan jadi reparasi arloji”. Saya berasumsi, bahwa dari insiden itu, hasilnya dia merenung dan menyimpulkan perenungan tersebut dengan satu penyataan yang popular hingga sekarang.
Lihatlah apa yang telah terjadi pada Qorun, sehabis diingatkan bahwa harta-harta yang diberikan padanya yakni anugrah yang Allah berikan pada dirinya, dia malah congkak dan mengatakan, innama utituhu ala ilmin indi.
Albert Einstein, sehabis melihat peristiwa pemboman yang membumi hanguskan hirosma dan Nagasaki, ia menulis surat yang menyiratkan ketersesalannya yang begitu dalam “ini yakni kesalahan yang terbesar yang pernah saya buat selama hidup, kalau saya tau begini jadinya saya lebih menentukan jadi reparasi arloji”. Saya berasumsi, bahwa dari insiden itu, hasilnya dia merenung dan menyimpulkan perenungan tersebut dengan satu penyataan yang popular hingga sekarang.
“Religion without sains is lame an sains without religion is blind”
Keterwajiban kita terhadap al-Qur’an tidak hanya menjadikannya sebagai sebuah bacaan yang berpahala, defenisi al-Qur’an sebaga wahyu Allah yang diturunkan secara mutawatir dan membacanya yakni ibadah jangan kita artikan sempit. Ini pulalah yang disindir oleh iqbal dalam syairnya
Hai kaum muslimin
Hidupmu tidak kalian landasi dengan kebijakan qur’ani
Kitab sumber kehidupanmu
Kitab pangkal kekuatanmu
Kini tidak hingga padamu
Melainkan di dikala ajal menjemput
Dia dibaca diatas kepalamu
Aneh.. sungguh aneh
Kitab yang diturunkan sebagai petunjuk kehidupan
Justru dibaca untuk mengantarkan kematian
Dalam surat Thaha : 113 dinyatakan :
Dan Demikianlah kami menurunkan Al Alquran dalam bahasa Arab, dan kami Telah membuktikan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, supaya mereka bertakwa atau (agar) Al Alquran itu menjadikan pengajaran bagi mereka.
At-tahbari dalam kitab Jami’ al-Bayan an Ta’wil al-Qur’an memperlihatkan klarifikasi yang apik, yang sanggup kita simpulkan dua poin. Yang pertama, bahwa Allah menyuruh hamba-hambanya menjadi orang yang bertakwa, dan al-Qur’an yakni peringatan dan pelajaran.
Di langkah pelarian kita yang terakhir, mari kita renungi dalam-dalam tafsiran ayat ini, perintah Allah menjadi orang yang bertakwa tidak akan terwujud bila kita tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sebuah pelajaran, untuk itu al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tapi untuk dikaji maknanya, alasannya yakni hanya dengan itu, maka tiada keraguan baginya. Yaitu kitab ini sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Qur;an tidak akan menjadikan hambanya sebaga ulama bila tidak dikaji secara mendalam, dan ulama tidak menjadi seorang ‘abid yang kaffah juga bila tidak menyelaraskan ilmu dengan islam.
Lanjut pelarian kita, mencapai cahaya terang al-Qur’an dan mari kita sirami ketergelapan-ketergelapan yang menyelubungi umat muslim di zaman ini, dan wujudkan negeri yang Allah janjikan “baldatun tayyyibatun warabbun ghafur”
Hidupmu tidak kalian landasi dengan kebijakan qur’ani
Kitab sumber kehidupanmu
Kitab pangkal kekuatanmu
Kini tidak hingga padamu
Melainkan di dikala ajal menjemput
Dia dibaca diatas kepalamu
Aneh.. sungguh aneh
Kitab yang diturunkan sebagai petunjuk kehidupan
Justru dibaca untuk mengantarkan kematian
Dalam surat Thaha : 113 dinyatakan :
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
At-tahbari dalam kitab Jami’ al-Bayan an Ta’wil al-Qur’an memperlihatkan klarifikasi yang apik, yang sanggup kita simpulkan dua poin. Yang pertama, bahwa Allah menyuruh hamba-hambanya menjadi orang yang bertakwa, dan al-Qur’an yakni peringatan dan pelajaran.
Di langkah pelarian kita yang terakhir, mari kita renungi dalam-dalam tafsiran ayat ini, perintah Allah menjadi orang yang bertakwa tidak akan terwujud bila kita tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sebuah pelajaran, untuk itu al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tapi untuk dikaji maknanya, alasannya yakni hanya dengan itu, maka tiada keraguan baginya. Yaitu kitab ini sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Qur;an tidak akan menjadikan hambanya sebaga ulama bila tidak dikaji secara mendalam, dan ulama tidak menjadi seorang ‘abid yang kaffah juga bila tidak menyelaraskan ilmu dengan islam.
Lanjut pelarian kita, mencapai cahaya terang al-Qur’an dan mari kita sirami ketergelapan-ketergelapan yang menyelubungi umat muslim di zaman ini, dan wujudkan negeri yang Allah janjikan “baldatun tayyyibatun warabbun ghafur”
Buat lebih berguna, kongsi:
