Sekarang ini, lantaran imbas internet yang demikian luas penggunaannya, gaya berpacaran cukup umur di wilayah perdesaan kian mengkhawatirkan. Remaja sekarang tidak lagi sungkan mengajak sobat sebayanya untuk berafiliasi seks di luar nikah lantaran tergoda propaganda pergaulan bebas di televisi maupun situs internet.
“Umumnya, cukup umur usia 15 tahun atau yang dikenal dengan sebutan ABG hingga mahasiswa semester awal yang berkonsultasi mengaku pernah berafiliasi intim dengan pacarnya,” kata Psikolog Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP dan KB) Bahkan, ia melanjutkan, ada yang setiap kali ganti pacar selalu berafiliasi suami istri.
Tidak diragukan bahwa prilaku menyimpang di atas yakni produk jahiliyah modern) yang hirau terhadap nilai-nilai agama dan moral.Pada edisi kali ini mari kita mencoba menelusuri sejarah moral dalam kejahiliyahan modern. Salah satu tujuannya semoga kita mengetahui apakah kejahiliyahan modern itu sedang menanjak atau mengalami kemerosotan. Sebab tidak sedikit yang silau memandang segala yang tiba dari barat sangat manusiawi atau identik dengan kemajuan.
Latar Belakang Kehancuran Moral Bangsa Barat
Pada era pertengahan aliran moral yang mendominasi Benua Eropa yakni Nasrani, ibarat yang digambarkan oleh kekuasaan gereja di eropa. Nabi Isa as. mengajarkan kehidupan zuhud dan menghindari kesenangan jasmani secara berlebih-lebihan. Dan ini yakni juga seruan setiap Nabi kepada umat mereka masing-masing.
Pada era pertengahan aliran moral yang mendominasi Benua Eropa yakni Nasrani, ibarat yang digambarkan oleh kekuasaan gereja di eropa. Nabi Isa as. mengajarkan kehidupan zuhud dan menghindari kesenangan jasmani secara berlebih-lebihan. Dan ini yakni juga seruan setiap Nabi kepada umat mereka masing-masing.
Di zaman Nabi Isa duduk perkara ini ditekankan kembali oleh dia lantaran ia melihat ketika itu insan hidup dalam keserakahan yang menjadi-jadi dalam mengejar materi. Akibat keserakahan itu, sedikit demi sedikit mempengaruhi stabilitas moral Bani Israil dan penguasa Romawi. Di dalam injil Matius dikatakan, “tetapi saya berkata padamu setiap yang memandang perempuan dan menginginkannya maka ia sudah berzina dengan dia dalam hatinya.
Maka kalau matamu yang kanan menyesatkan engkau cungkillah dan buanglah itu,karena lebih baik bagi engkau kalau salah satu anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan dalam neraka Dari ucapan tersebut di atas dan yang serupa dengannya, maka gereja menetapkan aturan-moral ketat kepada para pengikutnya. Di kemudian hari lahirlah sistem kerahiban yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam
lebih jauh dan ekstrim, gereja membuat iman bid’ah yaitu bahwa seks yakni kotor,wanita yakni makhluk ibarat setan yang wajib dijauhi, ijab kabul yakni kebutuhan naluriah hewaniyah ! Sebaliknya insan yang paling senang dan besar takwanya yakni mampu “meningkatkan” kwalitas diri dan tidak menikah.
Dalam kurun waktu yang panjang kemesuman dan kebejatan moral meluas di tengah masyarakat Romawi. Sebagai reaksinya meluas pula penolakan dengan menjamurnya sistem kerahiban (hidup membujang dan menjauh dari gemerlap materi).
Abul Hasan Ali an-Nadawi mengutip ucapan Lucky (sejarah moral Eropa), ia mengatakan, “pada masa itu dunia terombang ambing oleh sistem kerahiban produk gereja yang sangat ekstrem dan maksiyat yang melampaui batas, justru di kota-kota yang paling banyak terjadi pencabulan dan kemesuman. Pada dikala itu kejahatan dan kerahiban dapat menjadi dua hal yang berbeda dalam satu paket”
Selanjutnya Lucky mengatakan, “para rahib itu lari kalau melihat bayangan wanita, mereka merasa berdosa kalau berada atau berkumpul akrab wanita. Mereka berkeyakinan bahwa bertemu dengan perempuan di pinggir jalan atau bercakap-cakap dengannya-meski perempuan itu yakni ibu, saudari kandung atau bahkan istri sendiri- maka itu akan menghapuskan amal kebajikan ”.
Inilah pandangan dasar mereka wacana wanita. Bagi kaum rahib itu, perempuan yakni pintu neraka. Wanitalah yang mengeluarkan laki-laki dari sorga. Andai bukan godaan perempuan mungkin insan beranak pinak di nirwana dan bukan di bumi.
sampai tiba pada satu masa, Eropa dengan pandangan jahiliyahnya yang penuh dengan penyelewengan, timbul reaksi jahiliyah yang lebih jago lagi. Kerusakan mengerikan yang terjadi di biara-biara dengan aneka macam tindak kemesuman antara rahib laki-laki dan perempuan merupakan pukulan jago yang menggoyangkan sendi-seni kerahiban. Belum lagi dengan aturan sadis (INKUISISI) yg diterapkan oleh pihak gereja terhadap para pelanggar aturan moral, ibarat pencungkilan mata, memotong atau menusuk alat kemaluan dst., memicu kebencian rakyat pada pihak gereja berikut produk undang-undangnya. Akhirnya insan pada zaman itu muak dan memalingkan diri dari hidup “suci” dan tidak peduli dengan semua akibatnya. Mereka akhirnya dengan liar mengejar-ngejar kelezatan syahwat.\
Semua itu tidak terjadi begitu saja, tapi terjadi perlahan-lahan.
Kelompok yang berusaha mempertahankan moral masyarakat terus menerus meneriakkan kebebasan seks. Sebaliknya kelompok yang membela “perkembangan” dan “kemajuan” membagus-baguskan dekadensi moral. Hanya saja kelompok yag kedua membuatkan idenya dengan aneka macam sarana.
Kelompok yang berusaha mempertahankan moral masyarakat terus menerus meneriakkan kebebasan seks. Sebaliknya kelompok yang membela “perkembangan” dan “kemajuan” membagus-baguskan dekadensi moral. Hanya saja kelompok yag kedua membuatkan idenya dengan aneka macam sarana.
Semua ini merupakan praktek dari budaya jahiliyah modern yang menyeleweng jauh dari tuntutan ilahi sehingga kebobrokan sedemikian jauh mencapai puncaknya. Kaum perempuan telah bebas, semua insan yang berada dalam belenggu jahiliyah telah “bebas” sebebas-bebasnya dari belenggu agama, moral dan tradisi. Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan akhirnya menjadi norma yang diakui.
William Durant, berkata wacana kebobrokan moral jahiliyah modern, “Perkawinan dua orang. suami istri dalam masyarakat moderen bukanlah perkawinan dalam arti sebenarnya, ia tidak lebih dari hubungan biologis semata-mata. Perkawinan tidak dilandasi atas dasar yang kokoh niscaya cepat pudar lantaran terpisah dari tujuan hidup dan tujuan melestarikan keturunan. Pada akhirnya hubungan ibarat itu membuat jiwa pasangan suami istri menciut sehingga menjadi dua individu yang serupa dengan dua keping benda yang terpisah sama sekali ”
Demikianlah seterusnya, hari ini kita saksikan hampir semua negara menikmati “berkah kebebasan” dari belenggu agama dan moral. Hampir semua telah menikmati “manisnya” hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan lepas dari aneka macam jenis ikatan moral. Di Amerika Serikat-negeri yang menghalalkan segala rupa kemesuman- melindunginya dengan kekuasaan legislatif. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh, beberapa negara di Eropa ibarat Belanda telah mengakui hubungan “suami istri” dari sesama jenis.
Sayang seribu sayang di negeri Muslim ibarat Indonesia, juga sekumpulan orang yang merasa jadi jagoan dengan menganjurkan kebebasan ibarat Prof. Musda Mulia. Guru besar salah satu akademi tinggi ini intens memperlihatkan pembelaan terhadap kaum gay dan lesbian. Jika pertolongan dan propaganda meluas entah akan menjadi apa negeri lebih banyak didominasi Muslim ini. Wallahul musta’an
Islam yakni Solusi
Islam yakni Manhajul Hayat (sistem kehidupan) yang membimbing insan menuju jalan keselamatan. Tidak ada perintah yang tertuang dalam aliran Islam kecuali di sana ada maslahat. Sebaliknya tidak larangan yang tertuang dalam kecuali di sana ada mudharat yang menghadang. Itulah sebabnya Islam menolak sama sekali kedunguan jahiliyah modern. Pria dan perempuan dipertemukan bukan untuk hiburan dan bersenang-senang semata tanpa tujuan. Tujuan universal dari pertemuan kedua makhluk beda jenis ini untuk melahirkan masyarakat mulia dan bertakwa. Allah berfirman, “wahai insan hendaklah kalian bertakwa pada Tuhan kalian yang telah membuat kalian dari satu jiwa. Dan dari jiwa itulah Allah membuat pasangannya. Lalu dari keduanyalah Allah membuatkan banyak laki-laki dan wanita…” (an-Nisa’:1)
Islam yakni Manhajul Hayat (sistem kehidupan) yang membimbing insan menuju jalan keselamatan. Tidak ada perintah yang tertuang dalam aliran Islam kecuali di sana ada maslahat. Sebaliknya tidak larangan yang tertuang dalam kecuali di sana ada mudharat yang menghadang. Itulah sebabnya Islam menolak sama sekali kedunguan jahiliyah modern. Pria dan perempuan dipertemukan bukan untuk hiburan dan bersenang-senang semata tanpa tujuan. Tujuan universal dari pertemuan kedua makhluk beda jenis ini untuk melahirkan masyarakat mulia dan bertakwa. Allah berfirman, “wahai insan hendaklah kalian bertakwa pada Tuhan kalian yang telah membuat kalian dari satu jiwa. Dan dari jiwa itulah Allah membuat pasangannya. Lalu dari keduanyalah Allah membuatkan banyak laki-laki dan wanita…” (an-Nisa’:1)
Jadi, pertemuan antara laki-laki dan perempuan bukan pertemuan gila-gilaan tanpa aturan dan tidak bertujuan kecuali membangkitkan dan mengompori naluri negatif. Tidak sama sekali ! Jika ini mewabah di tengah masyarakat maka ini sangat berbahaya, alasannya salah satu pintu kebinasaan umat dahulu yakni dikala mereka memperturutkan syahwat tanpa kendali.
Di dalam Islam, ijab kabul yakni jalan terbaik dalam membina hubungan laki-laki dan perempuan. Pernikahan dalam pandangan Islam tidak semata-mata penyaluran kebutuhan biologis dan sesudah semua itu tersalurkan maka selesai sudah. Tidak ! Tapi, di sana ada tanggung jawab dari kedua belah pihak. Di sana ada kewajiban menafkahi, membesarkan dan mendidik bawah umur yang lahir dari hubungan serasi tersebut. Di sana ada kewajiban untuk terus membina harmonisasi antara suami dan istri, antara orangtua dan anak dan kewajiban menyambung hubungan hubungan dari keluarga laki-laki dan dari keluarga perempuan. Jika ini berlangsung dengan baik, maka sungguh ini sebuah harmoni kehidupan yang indah, hidup harmoni yang sangat diimpi-impikan oleh jahiliyah modern yang berada di ujung keruntuhan
Halaman Oase
Manfaat Menjaga Kesucian Diri
Menjaga diri dari kekotoran moral mempunyai banyak manfaat. Di antaranya Alllah akan menjaganya dan keturunannya.
Allah ta’ala akan menjaga kelurga,harta, jiwa, kehidupan masa sekarang dan masa depan, dan bahkan segala urusannya. Hal ini telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabda beliau yang cukup terkenal, “ Jagalah Allah, Niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah Allah Niscaya Engkau temukan Ia di Hadapanmu” (H.R.Tirmidzi)
Para Ulama menyampaikan ketika menafsirkan hadis ini; Jagalah Allah Artinya, jagalah Ia dalam Perintah dan larangan-larangan Nya, dengan menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.
Apa Hasilnya? “Niscaya Allah akan menjagamu”. Allah akan menjaga anda, keluarga anda, anak anda, harta benda, masa depan anda di dunia. Juga Allah akan menjaga agama anda dan masa depan anda di akhirat.
Seperti ini pula yang dikatakan Allah dalam surah Al Kahfi ayat 82,
“Adapun dinding rumah itu yakni kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, adapun ayahnya yakni orang yang shaleh”
“Adapun dinding rumah itu yakni kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, adapun ayahnya yakni orang yang shaleh”
Ibnu Katsir, ketika member tafsir ayat ini, dia mengatakan, ini memperlihatkan bahwa orang yang shaleh itu akan dijaga keturunannya. Dan berkah ibadahnya juga meliputi keturunannya di dunia dan di alam abadi lantaran syafaatnya untuk mereka, juga akan mengangkat derajat mereka ke nirwana yang tertinggi.
Dinukil dari Ibnu Abbas, terkait penafsiran kedua anak yang disebutkan dalam ayat ini: bahwa mereka dijaga lantaran kesholehan ayahnya dan tidak dijelaskan bahwa kedua anak itu yakni anak yang sholeh.
Said Ibnul Musayyid berkata kepada anaknya: Sesungguhnya saya akan menambah shalatku untukmu dengan cita-cita engkau akan dijaga karenaku. Lalu dia membaca ayat tersebut di Atas.
Umar bin Abdul Aziz berkata, tidak ada seorang mukmin yang meninggal dunia, melainkan Allah akan menjaga keturunannya dan keturunan keturunannya, maka bergembiralah orang-orang yang senantiasa menjaga adab dan moralnya serta istiqamah di jalan Allah lantaran ia yakni insan yang paling banyak mendapat penjagaan dari Allah lantaran ia menjaga perintah-perintah Allah.
Dan jawaban itu setimpal dengan amal.
(Sumber: “Meniti Jalan Istiqamah” Syaikh Musnid al-Qahthany)
http://akhlaqsalaf.wordpress.com/2010/03/01/kerusakan-moral-dan-solusi-islam/
Buat lebih berguna, kongsi: