Tafsir Zhilal (demikian biasa orang menyebut tafsir Fi Zhilal Al-Quran) yaitu tafsir yang fenomenal. la hadir dengan sosoknya yang khas, berbeda dengan umumnya kitab tafsir. la sarat dengan tuangan perenungan pengarangnya, Sayid Qutub, yang dalam dan cerdas.
Namun demikian, banyak orang belum mengetahui, bagaimana bahwasanya tafsir ini bisa dilahirkan? Siapakah bahwasanya Sayid Qutub, sang pengarang? Bagaimana bentuk kekerabatan Sayid Qutub dengan Al Alquran sehingga ia bisa melaksanakan perenungan demikian dalam? Dari mana ia mengambil acuan unluk penulisan tafsirnya ini? Dan lain lain pertanyaan yang sangat penting seputar tafsir yang monumental dengan sosok penulisnya, perlu rasanya diketahui setiap Muslim.
Buku yang ada di tangan pembaca, sebagaimana disebutkan penulisnya, Dr. Shalah Abdul Fattah AI Khalidi, bertujuan memperlihatkan bekal kepada pembaca dengan banyak sekali pengetahuan dan isu yang ia pandang esensial seputar Zhilal, baik dari aspek sejarah, substansi, maupun aspek ilmiah yang berkenaan dengan tafsir ini.
Agar penelaah tafsir Zhilal sanggup mempersepsi secara lebih utuh kandungannya dan berinteraksi dengan semangat keimanan penulisnya secara lebih dalam, alangkah baik membaca buku ini sebagai pengantarnya.
Secara umum Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Di antaranya :
Sungguh Fi Zhuilalil Qur’an yaitu kekuatan yang lahir dari keyakinan yang kuat, pamahaman yang mendalam, penerapan dalam kehidupan konkret dan diperjuangakan oleh penulisnya hingga detak jantungnya yang terakhir. Sebenarnya, ada ajuan dari Jamal Abdul Naser bahwa Sayid Qutb sanggup selamat dari tiang gantung (hukuman mati) asal mau menandatangani surat minta maaf yang telah disiapkan penguasa. Sambil menuju ke tiang gantung Sayid Qutb berkata :
Sesungguhnya telunjuk saya yang bersaksi dengan mengucap dua kalimat syahadat (Tiada yang kuasa yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad yaitu Rasul-nya) minimal lima kali dalam sehari (waktu shalat fardhu) mustahil ia menandatangani atau menulis satu katapun yang menimbulkan saya beredekat-dekat dengan penguasa thaghut (zalim). Jika saya dieksekusi disebabkan lantaran al-Haq, maka saya ridha berhukum dengan al-Haq. Namun jikalau saya dieksekusi dengan al-Bathil (kebatilan) maka saya lebih besar dari meminta kasih sayang kepada kebatilan itu.
Agar sanggup menikmati hidangan Fi Zihalil Qur’an dengan indah dan nikmat, maka pertama kali kami menyajikannya kepada para pembaca/pengunjung ringkasan mukaddimahnya. Ringkasan mukaddimah tersebut kami bagi menjadi empat (4) tulisan. Setelah itu, kami akan menurunkan Fi Zhilalil Qur’an secara tematik, yakni sesuia situasi dan kondisi yang kita hadapi. Hal tersebut kami lakukan biar terasa bahwa Al-Qur’an itu yaitu petunjuk hidup (hudan), jalan keselamatan, peringatan, syifa (obat) dan rahmat dikala kita berada di dunia ini. Al-Qur’an yaitu jalan peningkatan kualitas hidup kita yang sejati dikala menjalani kehidupan dunia sementara ini sambil menuju kampung alam abadi yang kekal abadi. Itulah jalan al-Haq (jalan kebenaran). Selain Al-Qur’an yaitu fatamorgana dan kesesatan.
Maka yang demikian itu yaitu Allah, Tuhan Penciptamu yang Haq. Maka tidak ada selain Al-Haq itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kau dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus : 32)
Melalui gesekan penanya yang diisi dengan tinta seorang ilmuwan dan darah seorang syahid (demikian ungkapan Prof. Dr. Ahmed Hasan Farhatt) ayat ayat Alquran yang turun lima betas kala lampau ini, kini seakan kembali hidup dan menemukan kekuatan maknanya.
Ayat ayat Quran, yang bertebaran dalam lembaran lembaran mushaf dengan banyak sekali tema yang terkadang dipahami tidak saling berhubungan, berhasil dihimpun, dijalin, dan disinergikan hingga muncullah dari sana daya doktrinnya yang kuat, daya pemanduannya yang jelas, dan daya pencerahannya yang menggairahkan, dengan komprehensivitas dan universalitas nilai nilai ajarannya yang paripurna.
Ayat ayat Quran, yang bertebaran dalam lembaran lembaran mushaf dengan banyak sekali tema yang terkadang dipahami tidak saling berhubungan, berhasil dihimpun, dijalin, dan disinergikan hingga muncullah dari sana daya doktrinnya yang kuat, daya pemanduannya yang jelas, dan daya pencerahannya yang menggairahkan, dengan komprehensivitas dan universalitas nilai nilai ajarannya yang paripurna.
Namun demikian, banyak orang belum mengetahui, bagaimana bahwasanya tafsir ini bisa dilahirkan? Siapakah bahwasanya Sayid Qutub, sang pengarang? Bagaimana bentuk kekerabatan Sayid Qutub dengan Al Alquran sehingga ia bisa melaksanakan perenungan demikian dalam? Dari mana ia mengambil acuan unluk penulisan tafsirnya ini? Dan lain lain pertanyaan yang sangat penting seputar tafsir yang monumental dengan sosok penulisnya, perlu rasanya diketahui setiap Muslim.
Buku yang ada di tangan pembaca, sebagaimana disebutkan penulisnya, Dr. Shalah Abdul Fattah AI Khalidi, bertujuan memperlihatkan bekal kepada pembaca dengan banyak sekali pengetahuan dan isu yang ia pandang esensial seputar Zhilal, baik dari aspek sejarah, substansi, maupun aspek ilmiah yang berkenaan dengan tafsir ini.
Secara umum Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Di antaranya :
- Kekuatan membawa kita karam sambil menyelami ilmu dan pesan yang tersirat yang ada di dalam Al-Qur’an dengan penuh kenikmatan yang mustahil digambarkan dengan kata-kata.
- Kekuatan megikat dan merajut ayat-ayat Al-Qur’an dengan Hadits Rasul Saw. serta Sirah Nabawiyah dan para Sahabatnya, kemudian dikaitkan dengan sitausi dan kondisi kekinian (waqi’).
- Kekuatan membangkitkan keyakinan (keimanan), optimisme pada rahmat dan pinjaman Allah dan rasa percaya diri sebagai umat terbaik yang Allah hadirkan ke atas bumi ini.
- Kekuatan menggugah pikiran dan perasaan kita sehingga muncul banyak sekali inspirasi, ide, gagasan dan banyak sekali pertanyaan yang paralel dengan situasi dan kondisi yang kita lewati sekarang, sehingga kita memahami dengan sempurna situasi dan kondisi tersebut dengan ide solusi yang terang pula.
- Kekuatan pencerahan yang luar biasa terkait hakikat Tuhan, manusia, kehidupan dunia, alam semesta, kehidupan akhirat, jahiliyah dan Islam.
- Kekuatan penelaahan yang sangat luar biasa dalam hal hakikat Islam dan Jahiliyah, iman dan kufur, serta keunggulan manhaj (konsep) Islam dibandingkan dengan konsep jahiliyah, baik dulu maupun yang ada kini yang tiba dari Barat maupun Timur.
- Kekuatan bahasa yang dipakai lantaran Sayyid Qutb memang populer sebagai seorang penyair kawakan di zamannya dan bahkan beberapa syairnya hingga hari ini belum terkalahkan.
Sungguh Fi Zhuilalil Qur’an yaitu kekuatan yang lahir dari keyakinan yang kuat, pamahaman yang mendalam, penerapan dalam kehidupan konkret dan diperjuangakan oleh penulisnya hingga detak jantungnya yang terakhir. Sebenarnya, ada ajuan dari Jamal Abdul Naser bahwa Sayid Qutb sanggup selamat dari tiang gantung (hukuman mati) asal mau menandatangani surat minta maaf yang telah disiapkan penguasa. Sambil menuju ke tiang gantung Sayid Qutb berkata :
Sesungguhnya telunjuk saya yang bersaksi dengan mengucap dua kalimat syahadat (Tiada yang kuasa yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad yaitu Rasul-nya) minimal lima kali dalam sehari (waktu shalat fardhu) mustahil ia menandatangani atau menulis satu katapun yang menimbulkan saya beredekat-dekat dengan penguasa thaghut (zalim). Jika saya dieksekusi disebabkan lantaran al-Haq, maka saya ridha berhukum dengan al-Haq. Namun jikalau saya dieksekusi dengan al-Bathil (kebatilan) maka saya lebih besar dari meminta kasih sayang kepada kebatilan itu.
Agar sanggup menikmati hidangan Fi Zihalil Qur’an dengan indah dan nikmat, maka pertama kali kami menyajikannya kepada para pembaca/pengunjung ringkasan mukaddimahnya. Ringkasan mukaddimah tersebut kami bagi menjadi empat (4) tulisan. Setelah itu, kami akan menurunkan Fi Zhilalil Qur’an secara tematik, yakni sesuia situasi dan kondisi yang kita hadapi. Hal tersebut kami lakukan biar terasa bahwa Al-Qur’an itu yaitu petunjuk hidup (hudan), jalan keselamatan, peringatan, syifa (obat) dan rahmat dikala kita berada di dunia ini. Al-Qur’an yaitu jalan peningkatan kualitas hidup kita yang sejati dikala menjalani kehidupan dunia sementara ini sambil menuju kampung alam abadi yang kekal abadi. Itulah jalan al-Haq (jalan kebenaran). Selain Al-Qur’an yaitu fatamorgana dan kesesatan.
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
Maka yang demikian itu yaitu Allah, Tuhan Penciptamu yang Haq. Maka tidak ada selain Al-Haq itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kau dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus : 32)
Sumber Bacaan: Eramuslim.com
Buat lebih berguna, kongsi:
