Gambaran Masa Depan Manusia dalam Hadis
Kajian Hadis Tema Futuristik
Oleh: Mus’idul Millah
Kajian terhadap al-Qur’an dan Hadis, sepertinya tidak akan pernah berhenti dan tidak akan pernah dirasa cukup. Hal ini sanggup dilihat melalui sejarah yang telah berbicara banyak mengenai perkembangan respon dan cara insan memperlakukan keduanya. Dibandingkan dengan al-Qur’an, ternyata Hadis mempunyai daya tarik tersendiri yang membuatnya seakan berbeda dan tampak istimewa sehingga tanggapan atasnya pun lebih banyak. Tidak lain, hal ini dikarenakan Hadis mempunyai banyak hal yang memang pantas dipersoalkan, dan salah satu yang terpenting yaitu problem otentisitas dan otoritas (hujjiyah) hadis sebagai sumber aliran kedua Islam.
Dalam memahami hadis, ternyata tidak semua satu kata sehingga hal ini pun berimbas kepada bagaimana cara menyikapinya. Kasus menyerupai ini, salah satunya, sering terjadi ketika berhadapan dengan hadis-hadis yang berada di luar jangkauan nalar, di antaranya yaitu hadis-hadis yang bertema futuristik, yang sering kali diungkapkan Nabi saw dengan penuturan naratif-deskriptif, termasuk di dalamnya juga hadis-hadis eskatologis.
Dalam goresan pena ini, penulis akan mencantumkan hadis-hadis yang berkenaan dengan insiden sebelum dan setelah selesai zaman beserta penjelasannya. Di sini penulis tidak akan mengulas hadis wacana selesai zaman itu lantaran pembahasan mengenainya telah ditulis dalam goresan pena tersendiri silahkan baca di sini Gambaran Peristiwa Hari Kiamat dalam Hadis Nabi SAW.
Hadis-hadis yang akan di bahas berkisar pada pembahasan pra-kiamat; alam kubur (barzakh), dajjāl, al-Imām al-Mahdī. Dan pasca-kiamat; neraka, dan surga. Disertakan juga bagaimana para ulama hadis menjelaskan hadis-hadis tersebut dalam kitab-kitab syarh mereka, disertai pula dengan catatan singkat.
Alam Kubur; Ahwāluha wa Ahluha
حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ قَالَ وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ[1
Telah meriwayatkan kepada kami ‘Ayyāsy, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abd al-A’lā, telah meriwayatkan kepada kami Sa’īd. Dan telah berkata kepadaku Khalīfah (bin Khiyāţ), telah meriwayatkan kepada kami Yazīd bin Zurai’, telah meriwayatkan kepada kami Sa’īd. (Kedua jalur tersebut) telah meriwayatkan dari Qatādah (bin Di’āmah), dari Anas (bin Mālik), dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Ketika seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggal pergi oleh para pengantar, bahu-membahu ia mendengar derap langkah dari sandal mereka. Kemudian datanglah dua malaikat kepadanya sambil mendudukkannya, kemudian kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “apa yang hendak kau katakan mengenai orang ini, Muhammad saw?” kemudian ia menjawab: “aku bersaksi bahwa sesunguhnya ia yaitu hamba dan utusan Allah” kemudian ia akan diberi tahu: ”lihatlah tempatmu di neraka! Allah swt telah menggantikannya dengan suatu daerah di surga.” Kemudian Nabi saw bersabda: “Pada ketika itu ia melihat keduanya (tempat di nirwana dan neraka), sedangkan orang kafir atau munafik akan berkata: “saya tidak tahu, saya berkata sebagaimana orang-orang berkata.” Kemudian malaikat berkata padanya: “celakalah engkau lantaran ketidak tahuanmu!” kemudian ia dipukul dengan gadam dari besi dengan satu pukulan di antara kedua telinganya, kemudian ia berteriak dengan teriakan yang sanggup didengar oleh orang-orang (mayit) sekelilingnya kecuali insan dan jin.” (H.R. al-Bukhārī)
Kata kunci: jenazah mendengar, pertanyaan dua malaikat, nikmat dan siksa kubur.
Penjelasan Hadis
Tampak terang bahwa hadis di atas menggambarkan bagaimana kondisi jenazah dan alam kubur, dan deskripsi yang terdapat di dalam hadis tersebut sanggup dijangkau dengan jangkauan visualisasi indra kita, lantaran memang dituturkan dengan kebijaksanaan sehat indrawi, seolah-olah kita benar-benar sanggup merasakannya.
Dalam penuturannya, ternyata hadis ini mempunyai ragam yang berbeda dengan pementingan bahasan yang sama.[2] Dalam matn hadis di atas terdapat uangkapan yang memperlihatkan bahwa jenazah memang benar-benar sanggup mendengar[3] bahkan lebih lanjut beberapa ulama menyerupai al-Sindī, al-‘Azīm Ābādī, dan al-Khaţţābī menyatakan bahwa hadis ini memperlihatkan bolehnya ziarah kuabur dengan menggunakan sandal. Kebolehan ini tentu diasumsikan sebagai bentuk kerendahan hati (tawādu’) lantaran rasul sendiri dalam riwayat lain melarang ziarah kubur dengan menggunakan sandal mahal yang diasumsikan sebagai bentuk kesombongan.[4] Namun, Ibn al-Jauzī menegaskan bahwa bahu-membahu titik penekanannya bukan pada apa yang digunakan tetapi apa yang ditimbulkan dari pemakaian tersebut, meskipun sandal biasa kalau disertai dengan kesombongan maka tetap tidak boleh.[5]
Pernyataan mengenai kondisi jenazah yang sanggup mendengar dipertegas dengan adanya riwayat lain, salah satunya yaitu hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dengan jalur şahīh yang menyatakan bahwa pada suatu malam di sumur badar, seluruh umat muslim mendengar ketika Rasulullah saw berdiri sambil memanggil-manggil: “hai Abū Jahl bin Hisyām, hai Syaibah bin Rabī’ah, hai ‘Utbah bin Rabī’ah, hai Umaiah bin Khalaf, apakah kalian telah menemukan kebenaran yang telah dijanjikan oleh tuhanmu? Karena saya telah mendapat apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku” kemudian para sobat bertanya: “wahai Rasul, tadi engkau memanggil-manggil orang yang telah meninggal?” dan Rasul saw menjawab: “kamu semua tidak lebih jeli dari mereka ketika mendengarkan apa yang ku katakan, hanya saja mereka tidak bisa menjawabnya.”[6]
Adanya pertanyaan malaikat pun dilarang diingkari. Banyak riwayat yang menerangkan ragam pertanyaan terhadap mayit, dan salah satunya yaitu hadis ini yang memfokuskan pertanyaan wacana nabi Muhammad saw. Yang menarik dari pertanyaan malaikat ini yaitu penggunaan kata al-rajul yang dinisbatkan kepada Nabi saw yang pada dasarnya dianggap tidak memperlihatkan sisi ta’zim terhadap beliau.
Adanya pertanyaan malaikat pun dilarang diingkari. Banyak riwayat yang menerangkan ragam pertanyaan terhadap mayit, dan salah satunya yaitu hadis ini yang memfokuskan pertanyaan wacana nabi Muhammad saw. Yang menarik dari pertanyaan malaikat ini yaitu penggunaan kata al-rajul yang dinisbatkan kepada Nabi saw yang pada dasarnya dianggap tidak memperlihatkan sisi ta’zim terhadap beliau.
Al-Nawawī dalam Syarh Muslimnya menyatakan bahwa kata al-rajul dalam hadis tersebut memang tidak mengandung unsur ta’zim, akan tetapi penggunaan kata ini justru dimaksudkan untuk menguji jenazah yang ditanya juga biar malaikat tidak memperlihatkan petunjuk jawaban kalau ungkapan ta’zim dilontarkan oleh malaikat.[7] Namun, al-Sindī menegaskan bahwa ini bukan berarti memperlihatkan adanya pilihan dalam menjawab lantaran bagaimana pun amal perbuatan merekalah yang akan menjawabnya.[8] Sehingga pertanyaan kubur juga berfungsi untuk menunjukan hujjah yang telah disampaikan oleh Nabi saw.
Setelah pertanyaan dilontarkan oleh malaikat, mereka yang penuh keimanan dan ketaatan pasti tahu dan bisa menjawabnya, sedangkan mereka yang tidak tentu akan merasa sulit dan mengeluarkan jawaban yang tidak semestinya dengan menyampaikan bahwa mereka tidak mengetahui dan hanya mengekor ucapan orang-orang pada umumnya (yang tidak mengikuti aliran Muhammad saw.). Dan ketika jawaban telah diucapkan, mereka yang beriman akan ditunjukkan tempatnya di neraka yang kemudian diganti dengan nirwana atas kemurahan Allah swt. Sehingga pada ketika itu mereka melihat keduanya, nirwana dan neraka dan diberikan nikmat dalam kubur selama masa penantian Hari Kebangkitan.
Setelah pertanyaan dilontarkan oleh malaikat, mereka yang penuh keimanan dan ketaatan pasti tahu dan bisa menjawabnya, sedangkan mereka yang tidak tentu akan merasa sulit dan mengeluarkan jawaban yang tidak semestinya dengan menyampaikan bahwa mereka tidak mengetahui dan hanya mengekor ucapan orang-orang pada umumnya (yang tidak mengikuti aliran Muhammad saw.). Dan ketika jawaban telah diucapkan, mereka yang beriman akan ditunjukkan tempatnya di neraka yang kemudian diganti dengan nirwana atas kemurahan Allah swt. Sehingga pada ketika itu mereka melihat keduanya, nirwana dan neraka dan diberikan nikmat dalam kubur selama masa penantian Hari Kebangkitan.
Adapun mereka yang gagal memperlihatkan jawaban tepat, akan dicerca oleh malaikat yang pada pada dasarnya memperlihatkan kesalahan mereka lantaran tidak mau mengikuti dan meyakini aliran yang haq (ditunjukkan dengan pernyataan lā daraita) dan tidak mau mengikuti mereka yang meyakini aliran yang haq (ditunjukkan dengan pernyataan lā talaita)[9] kemudian wajah mereka dipukul dengan gadam dari besi sehingga mereka berteriak keras menahan sakit dan bunyi mereka sanggup didengar semua makhluk kecuali jin dan manusia.[10] Dan mereka akan menghabiskan masa penantian dengan banyak sekali siksaan atas amal perbuatan mereka di dunia. Kiranya dalam menyikapi citra kondisi alam kubur dan penghuninya cukup untuk menyakinkan kita akan adanya siksa kubur, lantaran bukti pendukung baik dari al-Qur’ān maupun al-Hadīś telah memperlihatkan klarifikasi gamblang wacana problem ini. Wa Allāh A’lam bi al-Şawāb.
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْبَعِثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[11]
Telah meriwayatkan kepada kami Mahmūd bin Gailān, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abd al-Razzāq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Hammām bin Munabbih, dari Abū Hurairah, dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga datangnya Dajjāl para pendusta yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh, mereka semua mengaku bahwa dirinya yaitu nabi.” Hadis ini juga terdapat dalam sebuah belahan dari Jābir bin Samurah dan Ibn ‘Umar, Abū ‘Īsā (al-Tirmiżī) menyatakan hadis ini yaitu hadis hasan şahīh. (H.R. al-Tirmiżī)
Kata kunci : kedatangan dajjāl, jumlah tiga puluh, mengaku sebagai nabi
Penjelasan Hadis
Secara dāhir al-kalām bahu-membahu hadis di atas berbicara wacana kepastian datangnya Hari Kiamat, sesuatu yang harus kita imani. Kepastian itu diiringi dengan adanya gejala yang, seakan-akan, harus terjadi terlebih dahulu sehingga sanggup dipastikan Hari Kiamat tidak akan terjadi tanpa kemunculan gejala tersebut, di antaranya yaitu kedatangan dajjāl.
Jika kita perhatikan, prediksi kedatangan dajjāl ternyata sudah banyak tercantum dalam kitab-kitab hadis. Namun perlu diingat, dari sekian banyak gejala datangnya Hari Kiamat, gosip wacana dajjāl ternyata tidak termaktub dalam al-Qur’ān, inilah yang menyebabkan gosip dajjāl tampak menarik di samping pada sisi lain hal ini justru memperkuat posisi hadis sebagai pemberi informasi yang tidak tercatat di dalam al-Qur’ān. Dan satu hal penting lainnya adalah, bahwa para Nabi memperingatkan kepada umatnya akan datangnya dajjāl ketika Hari Kiamat sudah semakin dekat.[12]
Secara bahasa, kata dajjāl sendiri sudah mempunyai arti kedustaan dan kedengkian, sehingga pencantuman kata każżābūn setelah kata dajjāl mempunyai maksud li al-ta’kīd, penguatan terhadap sifat mereka. Dan dalam memaknai kedatangan dajjāl, sepintas kita akan menganggap bahwa dajjāl memang sengaja diutus, terutama ketika berhadapan dengan kalimat hattā yanba’iś.[13] akan tetapi ternyata para ulama beropini bahwa kalimat sama sekali tidak bermaksud mengesankan kalau dajjāl memang sengaja diutus sebagaimana diutusnya para Nabi, kemunculannya memang berasal dari keniscayaan yang ditimbulkan oleh masa.
Jumlah dajjāl yang tertera sebanyak tiga puluh pun tidak diiyakan oleh seluruh ulama, meski lebih banyak didominasi menyatakan kesepakatannya atas jumlah tersebut. Sebenarnya, dalam beberapa riwayat, terdapat redakasi yang tidak menggunakan kata qarīb, melainkan akśar yang terang mengindikasikan jumlahnya bisa jadi lebih dari tiga puluh,[14] jumlah ini diperkuat dengan adanya riwayat lain yang menyatakan bahwa dajjāl berjumlah dua puluh tujuh, empat di antaranya yaitu perempuan, setidaknya riwayat ini memperkuat pengunaan kata qarī atau aqrab yang diartikan dengan kira-kira, sekitar, dan atau kurang lebih.
Selama kedatangannya disebutkan kalau dajjāl akan mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi, dan ini sanggup ditangkap dengan terang pada teks hadis di atas. Akan tetapi sebagian ulama beropini bahwa yang dimaksud tidaklah demikian, mengingat jumlah dajjāl yang terlampau banyak sehingga mustahil semuanya mengaku sebagi nabi. Sehingga kemudian, para ulama berspekulasi bahwa yang dimaksud di sini yaitu pementingan terhadap timbulnya kekacauan dan keonaran yang diakibatkan oleh mereka. Pun demikian, tetap akan ada yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi lantaran Rasul saw sendiri telah menegaskan kalau dirinya yaitu utusan terakhir. [15]
Kontekstualisasi Hadis Kedatangan Dajjal
Isu mengenai dajjāl ternyata tidak hanya dipahami secara tekstual saja, pembacaan kontekstual pun telah coba dilakukan dengan perkiraan bahwa hadis-hadis wacana dajjāl dimungkinkan mempunyai hidden meanning.
Secara garis besar, hadis-hadis wacana dajjāl mempunyai kandungan wacana kerusakan dan kekacauan, bahkan bagi mereka yang mengangapnya sebagai simbol, memaknainya dengan simbol kezaliman.[16] Angapan tersebut tidak sanggup disalahkan lantaran selain adanya kesesuaian, hadis juga mencatat bahwa Rasul saw seringkali bersabda mengenai dajjāl dengan disertai prediksi akan terjadinya pertikaian antara dua pihak yang sama-sama mengaku membela kebenaran,[17] peperangan, pertumpahan darah, kekufuran yang merajalela, penghamburan harta,[18] dan banyak sekali kerusakan lainnya.
Memang apabila hadis ini dimaknai secara simbolik, maka sang dajjāl bahu-membahu sudah muncul dan menyebar. Dapat kita lihat ketika ini, peperangan sudah berkobar di mana-mana, darah sudah banyak tertumpah, kezaliman pun seakan sudah biasa terjadi, jumlahnya pun tidak hanya tiga puluh, lebih dari itu. Dan semua hal tersebut didasarkan atas nama kebenaran. Kebenaran yang mana?! Kalaupun dimaknai secara leksikal, sudah banyak orang yang mengaku dirinya nabi, perusakan moral dan iktikad Islam dalam bentuk penistaan, dan itu semua benar-benar terjadi.
Dalam hal ini, meyakini dajjāl sebagai simbol atau realita tidaklah mengurangi keimanan seseorang. Yang terpenting yaitu bagaimana kita menyiapkan diri menghadapi mereka. Wa Allāh A’lam bi al-Şawāb.
Turunnya al-Imām al-Mahdī; Generasi Ahl al-Bait Akhir Zaman
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ الْكُوفِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[19
Telah meriwayatkan kepada kami ‘Ubaid bin Asbāţ bin Muhammad al-Qurasyī al-Kūfī, dia berkata: telah meriwayatkan kepadaku ayahku (Asbāţ bin Muhammad), telah meriwayatkan kepada kami Sufyān al-Śaurī, dari ‘Āşim bin Bahdalah, dari Zirr (bin Hubaisy), dari ‘Abdullāh (bin Mas’ūd) dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: “Dunia tidaka akan hancur hingga orang Arab mempunyai seorang dari Ahl al-Baitku yang mempunyai nama yang sama dengan namaku.” Hadis ini juga terdapat dalam sebuah belahan dari ‘Alī, Abū Sa’īd, Umm Salamah, dan Abū Hurairah. Abū ‘Īsā (al-Tirmiżī) menyatakan hadis ini yaitu hadis hasan şahīh. (H.R. al-Tirmiżī).
Kata kunci : orang Arab, ahl al-bait.
Penjelasan Hadis
Salah satu gosip bertema futuristik yang menarik untuk diperbincangkan yaitu gosip mengenai imam Mahdī. Jika ditelusuri, memang tidak ada hadis şahīh yang membicarakan kedatangannya, akan tetapi hadis di atas kiranya cukup menjelaskan siapa bahu-membahu sosok al-Mahdī yang konon, nanti, sangat diidam-idamkan kehadirannya.
Sempat muncul kerancuan mengenai persamaan imam Mahdī dengan ‘Īsā bin Maryam as. akan tetapi pendapat ini dibantah, al-Mahdī bukanlah ‘Īsā bin Maryam as. Al-Mahdī yang secara kebahasaan bermakna seorang yang mendapat hidayah, muncul dari kalangan umat Islam, dari ‘itrah nabi Muhammad dan berjulukan Muhammad sebagaimana nama nabi Muhammad saw. Sedangkan ‘Īsā bin Maryam as bukanlah umat nabi Muhammad saw. Al-MahdĪ turun bersama ‘Īsā bin Maryam as. dan ‘Īsā bin Maryam as shalat dibelakang al-Mahdī.[20]
Mengenai penyebutan kata al-‘arab dalam hadis di atas, nampaknya beberapa ulama terkesan bersikap hiperbola dalam memaknai maksud dibalik penyebutannya seolah-olah orang Arablah yang paling mulia. Dalam hal ini, cukuplah kiranya mengutip pendapat al-Qārī yang menyatakan bahwa penyebutan al-‘arab di sini tidak mempunyai tendensi untuk mengunggulkan bangsa Arab atas lainnya.
Dalam beberapa riwayat akan kita jumpai redaksi yang menegaskan bahwa al-Mahdī memang berasal dari ‘itrah nabi Muhammad saw. dari jalur Fāţimah[21] maka tidak heran kalau kaum Syī’ah sangat antusias menyongsong kedatangannya. Dan sepertinya penyambutan hangat di kalangan Syī’ah juga perlu dilihat dari dimensi politik adanya kepentingan untuk memperlihatkan “kesucian” mereka atas hadirnya seorang juru selamat yang berasal dari kaum mereka.
Sebagaimana hadis wacana dajjāl, hadis wacana al-Mahdī pun sepertinya tidak terlepas dari upaya pemahaman metaforis. Al-Mahdī sering dilambangkan dengan simbol keadilan yang melawan kezaliman, dalam hal ini diwakili oleh dajjāl dan ya’jūj wa ma’jūj. Namun di sisi lain, pemahaman menyerupai ini akan bertentangan manakala kita cermati beberapa redaksi hadis yang menyatakan bahwa al-Mahdī berasal dari keluarga Nabi saw, ia akan berkuasa selama tujuh tahun kemudian wafat dan dishalati oleh umat Islam. Dari keterangan ini, tampak bahwa kedatangan al-Mahdī bukanlah secara metaforis, melainkan benar-benar secara fisik dan hakiki. Namun rasanya, kemunculan dua pemaknaan menyerupai ini dilandaskan pada adanya ketertindasan dan ketrzaliman, sehingga perlu didatangkannya al-Mahdī.[22] Wa Allāh A’lam bi al-Şawāb
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ[23
Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Basysyār, telah meriwayatkan kepada kami Syu’bah, dia berkata: saya mendengar Abū Ishāq berkata: saya mendengar al-Nu’mān, saya mendengar Nabi pernah bersabda: “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling rendah ‘adzabnya yaitu seseorang yang diletakkan pada setiap dari lima jari di kedua kakinya bara api yang aben (hingga) otaknya”
Kata kunci : penghuni neraka, azab neraka.
Penjelasan Hadis
Hadis di atas merupakan sebuah perjuangan penggambaran wacana keadaan insan di dalam neraka, informasi – informasi seputarnya akan berkisar antara lantaran dan proses ”perolehan siksa”, ”kekejaman para penjaganya”, dan atau ”kondisi – kondisi sangat tak bersahabat” di dalamnya. Ini bekerjasama erat dengan, telah ditetapkannya neraka sebagai daerah ”pembagian siksa” sebagai jawaban atas amal – amal buruk di dunia.
Dengan terang hadis tersebut menggambarkan betapa pedihnya siksa di neraka, meski hadis tersebut menyatakan bahwa itu merupakan bentuk siksa paling ringan dibandingkan dengan bentuk siksa lainnya yang tentunya lebih parah.
Berkaitan dengan tingkatan neraka, ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa neraka dalam hal jenis tingkatannya mempunyai bentuk yang berlapis-lapis. Jika memang demikian, penggambaran ini akan terasa rancu mana kala seluruh penghuni neraka non-jahīm telah dipindahkan ke surga. Hemat penulis, citra neraka yang berlapis-lapis tidak serta merta memperlihatkan bentuknya yang sedemikian rupa, kata berlapis-lapis di sini rasanya lebih sempurna diartikan dengan tingkatan siksaan yang merepresentasikan perbuatan amal masing-masing. Sehingga tidak perlu adanya bayangan hancurnya neraka-neraka kosong yang ditinggal penghuninya (selengkapnya: Gambaran Siksa Api Neraka dalam Islam). Neraka tetaplah satu dan kekal, hanya bentuk siksaannya saja yang berbeda. Wa Allāh A’lam bi al-Şawāb.
Hadis wacana Surga
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِإِسْحَقَ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ قَالَ الثَّوْرِيُّ فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ أَنَّ الْأَغَرَّ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمْ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ[2
Telah meriwayatkan kepada kami Ishāq bin Ibrāhīm dan ‘Abd bin Humaid, (dan lafaz hadis milik Ishāq) keduanya berkata: telah meriwayatkan kepada kami ‘Abd al-Razzāq, dia berkata: al-Śaurī berkata: telah meriwayatkan kepadaku Abū Ishāq, sesungguhnya al-Agarr mendapat hadis dari Abū Sa’īd al-Khudrī dan Abū Hurairah dari Rasulullah saw, dia pernah bersabda: Nabi Muhammad SAW bersabda: “(ada petugas) yang berseru, (di sini-surga) kau sehat, tidak pernah sakit buat selama-lamanya. Di sini kau hidup selamanya, tidak akan mati lagi. Di sini kau muda selamanya, tidak akan bau tanah lagi. Di sini kau senang selamnya, tidak akan pernah putus asa” setelah itu Nabi membacakan firman Tuhan mengenai nirwana itu yang berbunyi, “itulah nirwana yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kau kerjakan. (HR. Muslim)
Kaca kunci : penjaga surga, keabadian, kebahagiaan
Penjelasan Hadis
Hadis tersebut menggambarkan kenikmatan yang tiada tara dalam surga. Kenikmatannya yaitu abadi, kekal selama-lamanya. Orang yang mendapatkannya tidak akan pernah mersaakan sakit, senantiasa sehat. Tidak ada kebosanan, kekurangan, dan kesusahan lainnya.
Kenikmatannya yang awet menciptakan ia tak akan pernah mati lagi. Hal ini juga sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan kekekalan andal surga, antara lain:
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82) البقرة
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (72) التوبة
لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَى وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (56) الدخان
Surga dan neraka yaitu dua makhluk Alloh Ta’ala. Sebagai seorang muslim kita harus mengimaninya. Setiap insan yang beriman tentu ingin menikmati keindahan nirwana dan takut terjerumus dalam siksa neraka. Oleh lantaran itulah sudah seyogyanya kita kenali lebih dekat apa itu surga.
Di dalam Al-Qur’an nirwana disebut dengan Jannah yang secara bahasa artinya taman bunga. Sedangkan maknanya yang dimaksudkan dalam pembicaraan syari’at yaitu sebuah daerah tinggal yang disediakan oleh Alloh bagi orang-orang yang membela agama-Nya yaitu orang-orang yang bertakwa. Di dalam nirwana itu terdapat kenikmatan yang tiada tara. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh indera pendengaran dan belum pernah terbetik di dalam hati umat manusia. Alloh ta’ala berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
”Tak seorangpun mengetahui banyak sekali nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai jawaban bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (Q.S. As-Sajadah: 7)
Untuk hingga ke daerah ini, insan harus menempuh perjalanan panjang yang dimulai dengan kematian. Mati yaitu syarat utama untuk mencapainya. Kemudian dilanjutkan dengan melewati alam barzah, kiamat, padang mahsyar, pengadilan di mahkamah Rabb al-Jalīl, terakhir meniti şirāţ al-mustaqīm barulah hingga pada jannāt al-na’īm. Wa Allāh A’lam bi al-Şawāb.
Baca Juga: Tidak ada Jaminan Masuk Surga dalam Islam, Benarkah Demikian?
Catatan Kaki
[1] Hadis Riwayat Bukhari, al-Jāmi’ al-Şahīh li al-Bukhārī, Kitāb al-Janā’iz, Bāb al-Mayyit Yasma’ Khafq al-Na’l, no. 1252, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis şahīh dan juga hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam Şahīh Muslim, Kitāb al-Jumu’ah wa Şifat Na’īmihā wa Ahlihā no. 5115, 5116; Sunan al-Nasā’ī, Kitāb al-Janā’iz no. 2022, 2023, 2024; Sunan Abī Dāūd, Kitāb al- Janā’iz no. 2812, Kitāb al-Sunnah no. 4126; Musnad Ahmad bin Hanbal, Bāqī Musnad al-Mukaśśirīn no. 11823, 12964.
[2] Dalam beberapa riwayat lainnya kata tuwulliā (dengan bentuk pasif) tidak digunakan, tetapi menggunakan tawallā ‘anh aşhābuh (dengan bentuk aktif).
[3] Hal ini ditunjukkan oleh kalimat innahu layasma’u qar’ ni’ālihim dengan penggunaan abjad al-lām li al-ta’kīd.
[4] Lihat hadis al-sibt, Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 2811, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[5] Ibn al-Qayyim al-Jauzī, “al-Ta’līqāt” klarifikasi Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 2812 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[6] Lihat, Hadis Riwayat al-Nasā’ī, Sunan al- al-Nasā’ī, Kitāb al-Janā’iz, Bāb Arwāh al-Mu’minīn, no. 2048, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[7] Syaraf al-Dīn al-Nawawī, “Syarh Şahīh Muslim” klarifikasi Hadis Riwayat Muslim no. 5115 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[8] Al-Sindī, “Syarh Sunan al-Nasā’ī” klarifikasi Hadis Riwayat al-Nasā’ī no 2023 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[9] Sebagian ulama lainnya mengartikan lā talaita dengan makna tidak membaca al-Qur’ān dan menangkap kebenaran yang terkandung di dalamnya.
[10] Lihat, Al-Sindī, “Syarh Sunan al-Nasā’ī” klarifikasi Hadis Riwayat al-Nasā’ī no 2024 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. ____, “’Aun al-Ma’būd fī Syarh Sunan Abī Dāūd” klarifikasi Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 4126 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[11] Hadis Riwayat al-Tirmiżī, Sunan al- Tirmiżī, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a Lā Taqūm al-Sā’ah Hattā Yakhruj Każżābūn, no. 2144 CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis şahīh dan juga hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam Şahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Manāqib no. 3340; Musnad Ahmad bin Hanbal, Bāqī Musnad al-Mukaśśirīn no. 7790, 10445.
[12] M. Zuhri, Telaah Matan Hadis; Sebuah Tawaran Metodologis (Yogyakarta: LESFI, 2003), hlm.139-140.
[13] Redaksi lain yang digunakan dalam beberapa riwayat semisal di antaranya: yub’aś, yakhruj, dan yukhraj.
[14] Lihat, Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitāb Musnad al-Mukaśśirīn min al-Şahābah, Bāb Bāqī al-Musnad al-Sābiq, no. 4536, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[15] Al-Mubārakfūrī, “Tuhfat al-Ahważī fī Syarh Sunan al-Tirmiżī” klarifikasi Hadis Riwayat Tirmiżī no. 2144 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[16] Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), hlm. 31.
[17] Lihat, Hadis Riwayat al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Manāqib no. 3340, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[18] Lihat, Hadis Riwayat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitāb Musnad al-Mukaśśirīn min al-Şahābah, Bāb Bāqī al-Musnad al-Sābiq, no. 9518, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[19] Hadis Riwayat al-Tirmiżī, Sunan al- Tirmiżī, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a fī al-Mahdī, no. 2156, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam kitab yang sama, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a fī al-Mahdī, no. 2157.
[20] Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan, hlm. 31.
[21] Lihat, Hadis Riwayat Abū Dāūd, Sunan Abī Dāūd, no. 3735, 3736 dan Hadis Riwayat Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, no. 4076, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[22] Al-Mubārakfūrī, “Tuhfat al-Ahważī fī Syarh Sunan al-Tirmiżī” klarifikasi Hadis Riwayat Tirmiżī no. 2156 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[23] Hadis Riwayat al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, no. 6076, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[24] Hadis Riwayat Muslim, Şahīh Muslim, no. 5069, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
Catatan Kaki
[1] Hadis Riwayat Bukhari, al-Jāmi’ al-Şahīh li al-Bukhārī, Kitāb al-Janā’iz, Bāb al-Mayyit Yasma’ Khafq al-Na’l, no. 1252, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis şahīh dan juga hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam Şahīh Muslim, Kitāb al-Jumu’ah wa Şifat Na’īmihā wa Ahlihā no. 5115, 5116; Sunan al-Nasā’ī, Kitāb al-Janā’iz no. 2022, 2023, 2024; Sunan Abī Dāūd, Kitāb al- Janā’iz no. 2812, Kitāb al-Sunnah no. 4126; Musnad Ahmad bin Hanbal, Bāqī Musnad al-Mukaśśirīn no. 11823, 12964.
[2] Dalam beberapa riwayat lainnya kata tuwulliā (dengan bentuk pasif) tidak digunakan, tetapi menggunakan tawallā ‘anh aşhābuh (dengan bentuk aktif).
[3] Hal ini ditunjukkan oleh kalimat innahu layasma’u qar’ ni’ālihim dengan penggunaan abjad al-lām li al-ta’kīd.
[4] Lihat hadis al-sibt, Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 2811, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[5] Ibn al-Qayyim al-Jauzī, “al-Ta’līqāt” klarifikasi Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 2812 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[6] Lihat, Hadis Riwayat al-Nasā’ī, Sunan al- al-Nasā’ī, Kitāb al-Janā’iz, Bāb Arwāh al-Mu’minīn, no. 2048, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[7] Syaraf al-Dīn al-Nawawī, “Syarh Şahīh Muslim” klarifikasi Hadis Riwayat Muslim no. 5115 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[8] Al-Sindī, “Syarh Sunan al-Nasā’ī” klarifikasi Hadis Riwayat al-Nasā’ī no 2023 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[9] Sebagian ulama lainnya mengartikan lā talaita dengan makna tidak membaca al-Qur’ān dan menangkap kebenaran yang terkandung di dalamnya.
[10] Lihat, Al-Sindī, “Syarh Sunan al-Nasā’ī” klarifikasi Hadis Riwayat al-Nasā’ī no 2024 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. ____, “’Aun al-Ma’būd fī Syarh Sunan Abī Dāūd” klarifikasi Hadis Riwayat Abū Dāūd no. 4126 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[11] Hadis Riwayat al-Tirmiżī, Sunan al- Tirmiżī, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a Lā Taqūm al-Sā’ah Hattā Yakhruj Każżābūn, no. 2144 CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis şahīh dan juga hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam Şahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Manāqib no. 3340; Musnad Ahmad bin Hanbal, Bāqī Musnad al-Mukaśśirīn no. 7790, 10445.
[12] M. Zuhri, Telaah Matan Hadis; Sebuah Tawaran Metodologis (Yogyakarta: LESFI, 2003), hlm.139-140.
[13] Redaksi lain yang digunakan dalam beberapa riwayat semisal di antaranya: yub’aś, yakhruj, dan yukhraj.
[14] Lihat, Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitāb Musnad al-Mukaśśirīn min al-Şahābah, Bāb Bāqī al-Musnad al-Sābiq, no. 4536, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[15] Al-Mubārakfūrī, “Tuhfat al-Ahważī fī Syarh Sunan al-Tirmiżī” klarifikasi Hadis Riwayat Tirmiżī no. 2144 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[16] Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), hlm. 31.
[17] Lihat, Hadis Riwayat al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, Kitāb al-Manāqib no. 3340, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[18] Lihat, Hadis Riwayat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitāb Musnad al-Mukaśśirīn min al-Şahābah, Bāb Bāqī al-Musnad al-Sābiq, no. 9518, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[19] Hadis Riwayat al-Tirmiżī, Sunan al- Tirmiżī, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a fī al-Mahdī, no. 2156, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dengan nilai hadis hasan, hadis ini sanggup pula dijumpai dalam kitab yang sama, Kitāb al-Fitan ‘an al-Rasūl, Bāb Mā Jā’a fī al-Mahdī, no. 2157.
[20] Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan, hlm. 31.
[21] Lihat, Hadis Riwayat Abū Dāūd, Sunan Abī Dāūd, no. 3735, 3736 dan Hadis Riwayat Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, no. 4076, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[22] Al-Mubārakfūrī, “Tuhfat al-Ahważī fī Syarh Sunan al-Tirmiżī” klarifikasi Hadis Riwayat Tirmiżī no. 2156 dalam CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[23] Hadis Riwayat al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, no. 6076, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
[24] Hadis Riwayat Muslim, Şahīh Muslim, no. 5069, CD-ROM Mausū’ah al-Hadīś al-Syarīf, Global Islamic Software, `1991-1997.
Buat lebih berguna, kongsi:
