BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Makalah
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abnormal ataupun riil mencakup Tuhan, insan dan alam semesta. Sehingga untuk memahami kasus filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau kepingan yaitu; epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas perihal hakikat segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang membahas perihal guna pengetahuan. Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan pembahansannya.
Baca Makalah Filsafat Lainnya:
- Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma
- Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani
Ketiga teori di atas bahu-membahu sama-sama membahas perihal hakikat,hanya saja berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda pula. Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas perihal bagaimana mendapat pengetahuan,bagaimana kita bisa tahu dan sanggup membedakan dengan yang lain.Ontologi membahas perihal apa objek yang kita kaji,bagaimana wujudnya yang hakiki dan hubungannya dengan daya pikir.Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai membahas perihal pengetahuan kita akan pengetahuan di atas,klasifikasi,tujuan dan perkembangannya.
Di antara ketiga teori disebut ontologi dikenal sebagai satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang mempunyai pandangan yang bersifat ontologis dikenal ibarat Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales populer sebagai filsuf yang pernah hingga pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Thales berpenderian bahwa segala sesuatu tidak berdiri dengan sendirinya melainkan adanya saling keterkaitan dan keetergantungan satu dengan lainnya .
Ontologi secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapat kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut sanggup diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar teladan berfikir, dan teladan berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan dipakai sebagai dasar pembahasan realita.
B. Rumusan Masalah Makalah Ontologi Filsafat Ilmu
1. Apa pengertian ontologi?
2. Bagaimana sudut pandang dan aliran-aliran ontologi?
Contoh Makalah Ontologi Filsafat Ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ontologi dalam Filsafat Ilmu
Ontologi yaitu bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada, berdasarkan tata korelasi sistematis berdasarkan aturan sebab-akibat. Yaitu, ada manusia, ada alam, dan ada causa prima dalam suatu korelasi menyeluruh, teratur dan tertib dalam keharmonisan. Jadi, dari aspek ontologi, segala sesuatu yang ada ini berada dalam tatanan korelasi estetis yang diliputi dengan warna nilai keindahan.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang mempunyai pandangan yang bersifat ontologis dikenal ibarat Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales populer sebagai filsuf yang pernah hingga pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu.
Thales merupakan orang pertama yang berpendirian sangat berbeda di tengah-tengah pandangan umum yang berlaku dikala itu. Di sinilah letak pentingnya tokoh tersebut. Kecuali dirinya, semua orang waktu itu memandang segala sesuatu sebagaimana keadaannya yang wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, besi, air, daging, dan sebagainya, hal-hal tersebut dipandang sebagai substansi-substansi (yang terdiri sendiri-sendiri). Dengan kata lain, bagi kebanyakan orang tidaklah ada pemilihan antara kenampakan (appearance) dengan kenyataan (reality). Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Makara ontologi yaitu bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada berdasarkan tata korelasi sistematis berdasarkan aturan alasannya yaitu akhir yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu korelasi yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan. Ontologi sanggup pula diartikan sebagai ilmu atau teori perihal wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu yaitu dunia empirik, dunia yang sanggup dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu yaitu pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi yaitu ilmu yang mempelajari perihal hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada budi semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the theory of being qua being”, artinya ontologi yaitu teori perihal wujud.
Hakikat Manusia Sebagai Subjek Pendidikan (Pendidik dan Peserta Didik) Kajian perihal insan semenjak zaman dahulu hingga zaman kini belum juga berakhir dan tidak akan berakhir. Manusia merupakan makhluk yang sangat unik dengan segala kesempurnaannya. Manusia sanggup dikaji dari aneka macam sudut pandang, baik secara historis, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya. Pada hakikatnya insan yaitu makhluk yang Istimewa dari pada makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ(30)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui.”
Manusia dalam kajian kali ini lebih difokuskan kepada subjek pendidikan, bahwa dalam dunia pendidikan manusialah yang banyak berperan. Karena dilakukannya pendidikan itu tidak lain diperuntukan bagi manusia, biar tidak timbul kerusakan di bumi ini. Dalam pendidikan bahwa insan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sebagai pendidik dan penerima didik.
Menurut Al-Aziz, pendidik yaitu orang yang bertanggungjawab dalam menginternalisasikan nilai-nilai religius dan berupaya membuat individu yang mempunyai teladan pikir ilmiah dan pribadi yang sempurna. Masing-masing definisi tersebut, mengisyaratkan bahwa peran, kiprah dan tanggungjawab sebagai seorang pendidik tidaklah gampang, lantaran dalam diri anak didik harus terjadi perkembangan baik secara afektif, kognitif maupun psikomotor. Dalam setiap individu terdidik harus terdapat perubahan ke arah yang lebih baik. Jika dalam anutan Islam anak didik harus bisa menginternalisasikan ajaran-ajaran dalam dirinya, sehingga bisa menjadi pribadi yang bertaqwa dan berakhlakul karimah yang akan senang baik di dunia dan di akhirat.
Sedangkan anak didik (peserta didik) yaitu makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan berdasarkan fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya. Pengertian tersebut berbeda apabila anak didik (peserta didik) sudah bukan lagi anak-anak, maka perjuangan untuk menumbuhkembangkannya sesuai kebutuhan penerima didik, tentu saja hal ini tidak bisa diperlakukan sebagaimana perlakuan pendidik kepada penerima didik (anak didik) yang masih anak-anak. Maka dalam hal ini dibutuhkan pendidik yang benar-benar berilmu balig cukup akal dalam sikap maupun kemampuannya.
Dalam pandangan modern, anak didik tidak hanya dianggap sebagai obyek atau sasaran pendidikan, melainkan juga harus diperlakukan sebagai subyek pendidikan, dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan kasus dalam proses mencar ilmu mengajar. Dengan demikian bahwa penerima didik yaitu orang yang memerlukan pengetahuan, ilmu, bimbingan dan pengarahan. Islam berpandangan bahwa hakikat ilmu berasal dari Allah, sedangkan proses memperolehnya dilakukan melalui mencar ilmu kepada guru. Karena ilmu itu berasal dari Allah, maka membawa konsekuensi perlunya seorang penerima didik mendekatkan diri kepada Allah atau menghiasi diri dengan watak yang mulai yang disukai Allah, dan sedapat mungkin menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.
Bertolak dari hal itu, sehingga muncul suatu aturan normatif perihal perlunya kesucian jiwa sebagai seorang yang menuntut ilmu, lantaran ia sedang mengharapkan ilmu yang merupakan anugerah Allah. Ini memperlihatkan pentingnya watak dalam proses pendidikan, di samping pendidikan sendiri yaitu upaya untuk membina insan biar menjadi insan yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi seluruh alam.
Pada akhirnya, dengan memahami ontologi pendidikan tersebut, maka dibutuhkan bisa menumbuhkan kesadaran para pendidik dan penerima didik untuk menjalankan kiprah dan fungsinya dalam keberlangsungan pendidikan di tengah-tengah peradaban insan yang dari waktu ke waktu semakin berkembang. Tentu pendidikan tidak akan mengalami perkembangan yang berarti dan signifikan jikalau tidak dibarengi oleh perkembangan manusianya. Namun, tanpa manusia, maka sistem dan teladan pendidikan tidak akan pernah terwujud. Oleh alasannya yaitu itu, pendidikan sebagai produk dan insan sebagai creator-nya tidak bisa, bahkan tidak akan pernah bisa dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang, maka jikalau satu sisi saja tidak ada, maka sisi yang lain pun jadi tidak berarti. Sehingga kedua unsur ini (manusia dan pendidikan) harus selaras, sejalan dan seiring dalam gerak dan laju yang harmonis, sehingga membuat sebuah “irama” yang indah sekaligus menginspirasi.
B. Sudut Pandang dan Aliran-aliran Ontologi dalam Filsafat Ilmu
1. Sudut Pandang Ontologi
Ontologi merupakan pembahasan perihal bagaimana cara memandang hakekat sesuatu, apakah dipahami sebagai sesuatu yang tunggal dan bisa dipisah dari sesuatu yang lain atau bernuansa jamak, terikat dengan sesuatu yang lain, sehingga harus dipahami sebagai suatu kebulatan (holistik). Pengertian paling umum pada ontologi yaitu kepingan dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Sebuah ontologi memperlihatkan pengertian untuk klarifikasi secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga sanggup diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang sanggup dipakai sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori perihal makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta korelasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi yaitu studi perihal sesuatu yang ada. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
a. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
b. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut mempunyai kualitas tertentu, ibarat contohnya daun yang mempunyai warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
2. Aliran-aliran Ontologi
Dalam mempelajari ontologi muncul beberapa pertanyaan yang kemudian melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari masing-masing pertanyaan menjadikan beberapa sudut pandang mengenai ontologi. Pertanyaan itu berupa “Apakah yang ada itu? (What is being?)”, “Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)”, dan “Dimanakah yang ada itu? (What is being?)”
a. Apakah yang ada itu? (What is being?) Dalam memperlihatkan balasan kasus ini lahir lima filsafat, yaitu sebagai berikut :
1. Aliran Monoisme dalam Filsafat
Aliran ini beropini bahwa yang ada itu hanya satu, mustahil dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan mayoritas memilih perkembangan yang lainnya. Plato yaitu tokoh filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, lantaran ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
a) Materialisme dalam Filsafat
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu yaitu materi, bukan ruhani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia beropini bahwa unsur asal yaitu air, lantaran pentingnya bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) beropini bahwa unsur asal itu yaitu udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) beropini bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak sanggup dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian alam.
b) Idealisme dalam Filsafat
Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik niscaya ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang pada kebenaran sejati.
Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui dalam anutan Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.
2) Aliran Dualisme dalam Filsafat
Aliran ini beropini bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya membuat kehidupan dalam alam ini.
Tokoh paham ini yaitu Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan). Ini tercantum dalam bukunya Discours de la Methode (1637) dan Meditations de Prima Philosophia (1641). Dalam bukunya ini pula, Ia menandakan metodenya yang populer dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/Cartesian Doubt). Disamping Descartes, ada juga Benedictus de Spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm von Leibniz (1646-1716 M).
3) Aliran Pluralisme dalam Filsafat
Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno yaitu Anaxagoras dan Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini yaitu William James (1842-1910 M), yang mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari budi yang mengenal.
4) Aliran Nihilisme dalam Filsafat
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia.
Doktrin perihal nihilisme bahu-membahu sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memperlihatkan tiga proposisi perihal realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak sanggup diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu sanggup kita ketahui, ia tidak akan sanggup kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh lain aliran ini yaitu Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata insan tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia hidup.
5) Aliran Agnostisisme dalam Filsafat
Paham ini mengingkari kesanggupan insan untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos, yang berarti unknown. A artinya not, gno artinya know. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan bisa menandakan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan sanggup kita kenal.
Aliran ini sanggup kita temui dalam filsafat keberadaan dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang populer dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa insan tidak pernah hidup sebagai suatu saya umum, tetapi sebagai saya individual yang sama sekali unik dan tidak sanggup dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Berbeda dengan pendapat Martin Heidegger (1889-1976 M), yang menyampaikan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia, lantaran hanya manusialah yang sanggup memahami dirinya sendiri. Tokoh lainnya adalah, Jean Paul Sartre (1905-1980 M), yang menyampaikan bahwa insan selalu menyangkal. Hakikat beradanya insan bukan entre (ada), melainkan a entre (akan atau sedang). Jadi, agnostisisme yaitu paham pengingkaran/penyangkalan terhadap kemampuan insan mengetahui hakikat benda, baik materi maupun ruhani.
Baca Juga:
Makalah Intusionisme dan para Tokohnya (Kajian Epistemologi)
Teori dan Paradigma dalam Kajian Filsafat
Filsafat Analitik dan Para Tokohnya (Kajian Filsafat Ilmu)
b. Bagaimanakah yang ada itu? (How is being?)
Apakah yang ada itu sebagai sesuatu yang tetap, abadi, atau berubah-ubah? Dalam hal ini, Zeno (490-430 SM) menyatakan bahwa sesuatu itu bahu-membahu khayalan belaka. Pendapat ini dibantah oleh Bergson dan Russel. Seperti yang dikatakan oleh Whitehead bahwa alam ini dinamis, terus bergerak, dan merupakan struktur kejadian yang mengalir terus secara kreatif.
c. Di manakah yang ada itu? (Where is being?)
Aliran ini beropini bahwa yang ada itu berada dalam alam ide, adi kodrati, universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran materilisme beropini sebaliknya, bahwa yang ada itu bersifat fisik, kodrati, individual, berubah-ubah, dan riil.
3. Manfaat Mempelajari Ontologi Filsafat
Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:
a. Membantu untuk membuatkan dan mengkritisi aneka macam bangunan sistem pemikiran yang ada.
b. Membantu memecahkan kasus teladan korelasi antar aneka macam eksisten dan eksistensi.
c. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada aneka macam ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains hingga etika.
A. Simpulan
1. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori perihal keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan perihal hakikat dari suatu benda/sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan yang bahu-membahu (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan berubah).
2. Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme yaitu paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh).
Dualisme yaitu aliran yang beropini bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit). Pluralisme yaitu paham yang menyampaikan bahwa segala hal merupakan kenyataan. Nihilisme yaitu paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
Dan agnostisisme yaitu paham yang mengingkari terhadap kemampuan insan dalam mengetahui hakikat benda. Jadi, sanggup disimpulkan bahwa ontologi mencakup hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif filsafat perihal apa dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan aneka macam nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada karenanya memilih pendapat dan kenyakinan kita masing-masing perihal apa dan bagaimana yang “ada” itu.
B. Saran
Belajar hendaknya menjadi salah satu abjad yang selalu menempel di dalam sikap suatu bangsa. Dari hal itulah setiap bangsa berusaha mengunggulakan pendidikan sebagai sebuah fondasi dari pendirian sebuah bangsa. Proses pendidikan tidak terlepas dari konsep ontology, epistemologi, dan akasiologi didalam pengkajiaanya dimana pelaksannanya harus mencerminkan aktualisasi dari cita - cita suatu bangsa.
Ontologi dari sebuah pendidikan yaitu mengubah baik perilaku, kognitif, dan psikomotor sebagai sebuah perubahan yang riil dimana penerapannya kepada penerima didik harus dilandasi dengan humanisme yang akan merubah dari ketiga aspek tersebut dari background atau intake yang jelek atau kurang baik menjadi lebih baik. Hakekat dari sebuah pendidikan haruslah secara proper berniat dan berperilaku sebagai penerang suatu bangsa dari kegelapan berpikir. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mempunyai kiprah dan tindakan serius di dalam memecahkan kasus pendidikan.
Contoh Makalah Ontologi Filsafat Ilmu dan Aliran-Alirannya disusun oleh Akmal, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar.
Apakah yang ada itu sebagai sesuatu yang tetap, abadi, atau berubah-ubah? Dalam hal ini, Zeno (490-430 SM) menyatakan bahwa sesuatu itu bahu-membahu khayalan belaka. Pendapat ini dibantah oleh Bergson dan Russel. Seperti yang dikatakan oleh Whitehead bahwa alam ini dinamis, terus bergerak, dan merupakan struktur kejadian yang mengalir terus secara kreatif.
c. Di manakah yang ada itu? (Where is being?)
Aliran ini beropini bahwa yang ada itu berada dalam alam ide, adi kodrati, universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran materilisme beropini sebaliknya, bahwa yang ada itu bersifat fisik, kodrati, individual, berubah-ubah, dan riil.
3. Manfaat Mempelajari Ontologi Filsafat
Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:
a. Membantu untuk membuatkan dan mengkritisi aneka macam bangunan sistem pemikiran yang ada.
b. Membantu memecahkan kasus teladan korelasi antar aneka macam eksisten dan eksistensi.
c. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada aneka macam ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains hingga etika.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Simpulan
1. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori perihal keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan perihal hakikat dari suatu benda/sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan yang bahu-membahu (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan berubah).
2. Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme yaitu paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh).
Dualisme yaitu aliran yang beropini bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit). Pluralisme yaitu paham yang menyampaikan bahwa segala hal merupakan kenyataan. Nihilisme yaitu paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
Dan agnostisisme yaitu paham yang mengingkari terhadap kemampuan insan dalam mengetahui hakikat benda. Jadi, sanggup disimpulkan bahwa ontologi mencakup hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif filsafat perihal apa dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan aneka macam nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada karenanya memilih pendapat dan kenyakinan kita masing-masing perihal apa dan bagaimana yang “ada” itu.
B. Saran
Belajar hendaknya menjadi salah satu abjad yang selalu menempel di dalam sikap suatu bangsa. Dari hal itulah setiap bangsa berusaha mengunggulakan pendidikan sebagai sebuah fondasi dari pendirian sebuah bangsa. Proses pendidikan tidak terlepas dari konsep ontology, epistemologi, dan akasiologi didalam pengkajiaanya dimana pelaksannanya harus mencerminkan aktualisasi dari cita - cita suatu bangsa.
Ontologi dari sebuah pendidikan yaitu mengubah baik perilaku, kognitif, dan psikomotor sebagai sebuah perubahan yang riil dimana penerapannya kepada penerima didik harus dilandasi dengan humanisme yang akan merubah dari ketiga aspek tersebut dari background atau intake yang jelek atau kurang baik menjadi lebih baik. Hakekat dari sebuah pendidikan haruslah secara proper berniat dan berperilaku sebagai penerang suatu bangsa dari kegelapan berpikir. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus mempunyai kiprah dan tindakan serius di dalam memecahkan kasus pendidikan.
Contoh Makalah Ontologi Filsafat Ilmu dan Aliran-Alirannya disusun oleh Akmal, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar.
Buat lebih berguna, kongsi:
